TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
PANGERAN YANG BUTUH PELUKAN


__ADS_3

×××× HARI UPACARA PERINGATAN ××××


“Hoaammbb,” Menguap bangun tidur, kaki Hikashi masih menimpali perut Frayza.


Wajah pria keturunan Raja ini benar-benar tampan dalam kondisi tidur. Tidak mendengkur maupun ngiler, hanya saja kalau tidur dia seperti olahragawan. Fajar ini Frayza harus segera bersiap untuk upacara peringatan mendiang Pangeran Naruhito. Dia berlari ke asrama dan bergegas memakai Yukata warna hitam. Tak lupa senjata pertahanan diri dipasang untuk antisipasi.


“Semalam kau dimana?”


“Semalam aku tidur,” mulai merasa kalau Ramon curiga.


“Semalam kau tidak ada, apa yang sedang kau lakukan?”


Pangeran Takeshi ikut campur saat Ramon mencerca Frayza. “Semalam dia menjagaku di Istanaku. Ada masalah apa Ketua Ramon?”


“Pangeran Takeshi, hormat saya. Saya semalam mencari Agen Frayza untuk gladi bersih.”


“Aku mengalami susah tidur, jadi semalam dia membacakan buku fiksi. Aku butuh teman untuk melukis, dan inspirasi dari bacaannya.”


“Oh baiklah kalau begitu, saya undur diri.”Ramon pergi meninggalkan Frayza bersama Takeshi.


“Sepertinya dia sangat mengkhawatirkanmu, hati-hati dia adalah tangan kanan Pangeran Hiroshi.”


“Terimakasih atas masukannya Pangeran, dan sudah menolongku meyakinkan Ketua pengawalan Istana.”


“Aku hanya tidak kau terlibat masalah di Istana ini. Oiya, setelah menjadi pengawal untuk Upacara peringatan ini. Apa kau tidak berminat bekerja di Istana?”


“Hehehe soal itu ya, saya tidak bisa bekerja dilingkungan yang terikat seperti ini seumur hidup. Saya hanya ingin memperoleh Surat Sertifikasi dari Kerajaan agar dapat merekomendasikan lamaran pekerjaan.”


“Padahal aku sudah cocok denganmu, kenapa ya tidak ada pengawal yang bertahan lama bersamaku? Apa karena aku cacat ya, jadi mereka beban merawatku.”


“Pangeran Takeshi, sudah saatnya kita ke tempat upacara.”


“Hemmbb baiklah, kau berangkatlah lebih dulu. Aku mau menyapa Kaisar dan Permaisuri dulu.”


*


*


*


“Haduhhh... Gara-gara kejadian tadi pagi aku telat mengikuti apel pagi. Cih, sekarang aku harus menuju langsung ke tempat upacara!” menyingsing Yukatanya sambil berlari kecil.


Para tetamu dan pejabat penting sudah datang untuk memberikan penghormatan. Tampak anggota keluarga kerajaan sudah mulai sembahnyang mendoakan arwah mendiang Pangeran Naruhito.


“Kenapa kau datang terlambat, kalau Ketua tahu bisa tamat!” rekan pengawal yang berjaga.


“Hehehe maaf, tadi pagi aku banyak urusan dengan Pangeran Takeshi.”


“Owh, pakai alat pendengar ini. Aku mau patroli di bagian makanan. Kau sisir tempat para tamu yang akan masuk!”


“Baiklah,” frayza bergegas menuju pintu gerbang bersama pengawal lain yang memeriksa para tamu yang datang.


Ia tidak mendapati Tuan Muda berdarah campuran Jepang-Inggris. Apakah pria itu masih tertidur, karena dirinya terburu-buru tak memikirkan Hikashi. Pada siang hari dilanjutkan acara ramah tamah di aula. Para tamu undangan diperkenankan untuk menyantap hidangan khas Kerajaan.


“Ketua Matsumoto, akhirnya aku menemukanmu hehehe.” Pria plontos itu wajahnya kusam dan kusut, tampak sedang berduka.


“Maaf Nona, saya sedang sibuk. Kami sedang terburu-buru.” Mengabaikan Frayza yang hendak menanyakan keberadaan Hikashi.

__ADS_1


“Aneh, padahal kan aku mau memuji riwayat hidup ayahnya. Apa, dia menghilang karena sedih ya. Sebaiknya aku mencari ditempat yang sepi.


Frayza tahu tempat sepi di lingkungan Istana ini ialah Danau Pangeran Takeshi. Tak ingin menduga-duga ia mencari Hikashi di sekitaran Danau. Namun tak ia dapati, ketika ada panggilan untuk berkumpul. Para staf keamanan berada di lapangan untuk tugas akhir. Yaitu membereskan peralatan keamanan. Saat sedang menggulung kabel, ia melihat Hikashi paling akhir muncul. Yah, pria itu tampak dingin dan kaku. Didepannya ada Pangeran Takeshi yang duduk dikursi roda.


“Walaupun Pangeran Hikashi sedang berduka tapi wajah tampannya masih mempesona.”


“Dan untuk pertamakalinya Pangeran Takeshi mau menampakkan dirinya dalam kegiatan Istana.”


“Apa kalian tidak tahu, kalau Pangeran Takeshi sangat menyayangi Pangeran Hikashi melebihi Pangeran Hiroshi. Lihat saja posisi mereka beriringan dan selaras.”


“Membuatku iri sajaaa.”


Itulah suara percakapan para Pengawal dan Dayang Istana perempuan yang menyorot para penerus Kerajaan.


“Dan sebagai Putra Mahkota ruang lingkup dan pergaulannya pun dibatasi.”


“Emb, permisi apakah kalian tahu menggunjing anggota Kerajaan akan kena sanksi ya?” potong Frayza yang kesal dengan perempuan lain yang menilai para Pangeran Istana.


Usai apel penutupan, para petugas keamanan cadangan seperti Frayza harus berkemas dan kembali ke masyarakat. Saat inilah surat sertifikasi pelayanan dari Istana dikeluarkan secara resmi. Dan diberikan langsung oleh Pangeran Hiroshi. Mereka dapat bertatapan langsung dengan calon Raja masa depan. Dan prosesi ini berjalan lancar tanpa gangguan. Malam harinya saat para pengawal cadangan ini berkemas, Frayza ingin berpamitan langsung dengan Pangeran Takeshi. Tapi, ia tidak bisa melakukannya karena pihak Istana sedang dimalam perenungan. Dan Frayza kembali ke Pulau Honda/Honshu tempatnya ia tinggal dan bekerja.


*


*


*


Setibanya di Pulau Honda, Frayza membeli makanan yang agak mewah dan mahal. Sebagai wujud syukurnya merayakan perhargaan atas kerja samanya. Dirinya akan memasak daging dan makan buah yang lebih banyak. Tidak mengkonsumsi susu dan roti seperti hari biasanya.


“Haaaiiihh akhirnya sampai dirumah juga hehehe.” Mencopot sepatu dan meletakkan belanjaannya didalam lemari pendingin. Setelah memasukkan semua, Frayza membersihkan kamarnya yang kotor tak ia tempati. Tubuhnya berkeringat dan kotor, lantas ia mandi dan melepaskan penat dengan air hangat. Kegiatan mandinya terganggu karena suara bel yang berdering brutal. Ting tong ting tong ting tong begitu bunyinya berulang kali ditekan tombolnya.


“Iyayaya sabarrr,” memakai handuk untuk membalut tubuhnya yang masih basah.


“Aihh pencuri!” teriak Frayza.


“Apa? Kau mengatai aku pencuri? Kau pikir apa yang bisa aku curi darimu hah!”


“Tu-tuan muda?” sungguh tak diduga Hikashi berada di rumah susunnya saat ini.


“Tutup tubuhmu dengan kain!” melempar selimut diatas ranjang.


Seperti mimpi, hingga ia mencubit pipinya keras. “Ternyata ini nyata, tunggu sebentar bisa jadi dia jelmaan hantu!”


“Aish, Nona Frayza tolong kenakan baju dihadapan kami!” ucap Matsumoto menutup kedua matanya.


“Hhhhhhhhhaaaaaaaaaaaaahhhhhhh!!!” kali ini Frayza lebih kaget lagi karena yang menegurnya ialah si kepala plontos. Dia kembali menutup rapat pintu kamar mandi. Jantungnya mau copot, rumahnya sekarang didatangi Hikashi beserta rombongannya.


“Hai wanita bodoh! Mau sampai kapan kau berada didalam sana?” sambil menggedor pintu kamar mandi.


“Apa-apaan ini kalian datang kerumah orang tanpa sopan!”


“Gedung ini sudah aku beli semua, kalau kau tidak mau keluar aku robohkan gedung ini.”


“Hah, kau mau mengusirku secara kasar. Baiklah aku akan bayar tunggakan sewanya, tapi bisakah kau menyuruh anak buahmu itu tidak masuk kedalam rumahku?”


“Oh itu, baiklah tapi kau harus keluar ya. Aku takut kalau kau menjadi kecoa didalam sana.”


Setelah meyakinkan kalau pengawalnya keluar, Frayza berani menampakkan dirinya. Dia berjalan menempel tembok sambil membelakangi Hikashi yang duduk.

__ADS_1


“Hai kecoa bodoh!”


“Aku manusia, bukan kecoa!”


“Pakai baju ini, aku sudah membuang baju kumuhmu ke tempat sampah!” melemparkan tas berisi pakaian.


“Apa! Beraninya kau membuang baju-bajuku itu, kau tidak tahu aku sengaja berhemat dengan tidak membeli baju!”


“Cerewet! Sudah dibakar Matsumoto di sana, lihatlah. Asap baju murah itu menusuk, uhuuukkk uhuuukkk.” Sambil terbatuk-batuk bohongan.


“Kalau begitu kau keluar juga, aku mau ganti baju!”


“Sudah, begini saja. Kau bisa ganti baju sekarang.” Memejamkan matanya.


Untuk memastikan Hikashi tidak mengintip dirinya ganti baju, dia berganti baju dikamar mandi lagi. Ternyata Hikashi masih terpejam matanya. Dan tidak bergerak sama sekali, “mungkinkah dia tertidur?” mendekatkan wajahnya dengan Hikashi.


“Mana bisa aku tidur dalam posisi duduk seperti ini,” mengagetkan Frayza yanh wajahnya beradu. Hikashi memegang kepala bagian belakang agar maju lebih merapat.


“Jangan menciumku!” tolak Frayza.


“Mesum! Aku sedang tidak bernafsu malam ini, aku mau bilang kalau mau menginap disini.”


“Apa menginap?”


“Aku bisa tidur diranjang kecilmu itu, dan kau tidur dilantai. Bukankah suatu kehormatan rumah jelel rakyat jelata disinggahi keluarga kerajaan.”


“Benar-benar...” menggerutu.


“Iya aku tahu, aku benar-benar berjiwa sosial tinggi dan membaur. Aku tahu kau pasti tersanjung sudah menjamuku secara tidak layak, tak usah cemaskan.”


“Haaaahhhhh?” melongo dengan perkataan Hikashi yang keterlaluan.


“Ganti spreinya, jelek!” Frayza menggantinya.


“Semprotkan pembasmi serangga! “ menyemprotkan keseluruh ruangan.


“Eh sediakan air minum disebalah ranjangku, air putih dan susu rendah lemak!” Frayza membuatkannya.


“Ganti selimutnya yang lebih lembut, ini selimut usang. Ganti dengan yang baru.” Terpaksa membeli lewat daring. Kemudian diantar oleh kurir.


“Haii punggungku pegal ayo pijiti, seharian ini aku lelah menyapa tamu!” memijiti sambil mengantuk berat.


“Hai, kau diam saja? Apa kau kehilangan kosakara bicara, ayo teruskan lagi pijitanmu jangan berhennnnttttiii.” Tiba-tiba punggungnya berat tertimpa tubuh gadis yang kelelahan melayaninya.


“Hehehe kau lelah ya Bodohku?” merebahkan dengan perlahan untuk dibaringkan bersamanya. Hikashi miring sengan menyangga kepalanya memakai tangan kirinya. Dia mencium tangan frayza yang tidak lembut, sambil mengatakan ‘jangan tidur dulu, aku mau kau hibur. Mana jatahku! “ sontak mata Frayza terbuka dan kaget.


“Apah?” jawabnya spontan.


“Haaaiissss kamar ini benar-benar engap, tidak ada pendingin udara, jendelanya kecil dan engap hah aku rasanya seperti terjebak dalam rumah kardus!”


“Tuan Hikashi, jika kau mencintai wanita kaya pasti dia akan memberikanmu istana. Jangan kau habiskan waktumu disini untuk menderita, kau tidak tepat berada disini. Kembalilah ke Istanamu, dan pelayanmu pasti melakukan perintahmu dengan baik. Maaf, aku mengantuk dan lelah.” Membalikkan badannya dan kembali tidur.


“Haiihhh bicara apa kau!” menoyor kepala Frayza. Gadis itu tidak berkutik sama sekali, bahkan tidak mengumpat.


“Hai... Hai Bodoh, kau sudah tidur? Bangunn hai, aku hanya bercanda tadi. Kau jangan tersinggung, Bodooohhhh...”


“Tuan Hikashi, aku ingin tidur dan bermimpi berada ditempat yang Indah. Tolong diamlah jika kau masih ingin disini. Tubuhku perlu istirahat untuk ku gunakan bekerja besok, jangan usik aku ya.”

__ADS_1


Hikashi merasa bersalah sudah sewenang-wenang dengan Frayza. Sebenarnya Hikashi ingin mengajak Frayza bertukar perasaan dihari mendiang ayahnya wafat. Namun, situasinya sekarang Frayza tidak bisa. Akhirnya Hikashi pergi menginap di Hotel, karena ia tidak bisa tidur dirumah susun Frayza. Dan esok paginya ia akan menjemput Frayza sebelum berangkat bekerja.


__ADS_2