TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
JANGAN COBA-COBA MENIPUKU!


__ADS_3

#FRAYZA,


Ramon memperhatikan wajah Frayza, dia memastikan jika wanita yang berada didepannya adalah gadis yang malang.


“Kau melihatku seolah aku hantu saja hehehe.”


“Tidak, kau cantik.”


“Apa katamu?”


“Tidak, lupakan saja.”


“Kenapa tidak berani mengulanginya lagi, aku mau mendengarnya.”


“Fray, kau itu cantik. Sudah ya, jangan menyuruhku berkata itu lagi. Aku takut Digna nanti cemburu kalau aku memuji wanita lain.” Melihat keatas memandang langit.


“Digna tidak akan cemburu, karena disana pasti dia bertemu orang yang jauh lebih baik darimu.”


“Sembarangan, ngawur kamu. Dia adalah gadis yang setia kepadaku sampai kapanpun.”


“Aku juga Setia, huuuuu.”


“Kau itu bodoh, kalau kau setia sudah pasti dia tidak menduakanmu.”


“Haiii...” protes Frayza.


Melihat Frayza sudah bersama Ramon, akhirnya Dokter Kelvin memutuskan kembali ke Jepang untuk meneruskan karirnya. Yang masih bisa diselamatkan usai melarikan diri. Dia tidak berpamitan kedua rekan timnya, karena bagi Dokter Kelvin perpisahan adalah momen menyakitkan. Dan dia ingin terus berhubungan dengan Frayza, gadis yanh berada dalam sketsa buku gambarnya. Selama ini dia memiliki kehaluan mengenai sosok wanita yang ideal untuknya.


*


*


*


#BALI.


Melepaskan karir sebagai olahragawan membuat Julian berkecil hati untuk kembali ke keluarganya. Beruntungnya dia masih dipercaya oleh Frank untuk mengelola Toko oleh-oleh dan kerajinan tangan. Sekarang Frank tinggal di ruko bersama Nimas. Wanita yang sudah hamil besar selalu bersama Julian. Mereka kini tinggal bersama, namun Julian tidak berani mengakui Nimas sebagai kekasihnya karena dalam keadaan hamil.


“Sayang, aku sudah menyiapkan makan siang. Jangan bekerja terus, nanti perutmu sakit.”


“Iya sebentar lagi, aku sedang mengecek alamat barang yang akan dikirim sore nanti.”


“Lihatlah Nak, ayahmu sangat tekun bekerja untuk menyambut kelahiranmu. Sampai-sampai dia susah diajak makan bersama.” Nimas mengajak bicara bayi dalam kandungannya.


“Emuaaccchhh... Ibu dan anak tidak sabaran sekali. Ya sudah ayo kita makan bersama.” Julian menuruti keinginan Nimas. Gadis itu benar-benar beruntung memiliki Julian saat ini.


Walaupun hidup sederhana tapi Nimas dapat merasakan Cinta dari lelaki yang tulu kepadanya. Walaupun terkadang Wayan masih datang meminta jatah uang. Selama ini Julian tidak keberatan dengan kondisi Nimas yanh berbadan dua. Baginya, Nimas adalah cinta pertamanya. Dan akan sangay indah bila cinta itu bisa dirawat bersama-sama.


Setibanya di Bali, Ramon membeli sebuah Villa yang berada di penggiran kota yang masih asri. Dia memilih tempat yang sunyi dan tenang untuk menghilangkan penatnya.


“Katakan padaku, informasi apa saja yang kau dapatkan dalam pencarianmu?”


“Emmbb tidak ada, aku mau berjemur dahulu. Lagipula hal itu sudah berlalu, kau akan lebih menarik jika memakai kalung ini.”


“Kalung mutiara hitam, bukankah ini mahal?”


“Tidak masalah, asal benda itu nampak cocok di lehermu pasti aku akan membelikannya.”


“Terimakasih Ramon,” Frayza menyukai hadiah dari Ramon.

__ADS_1


Malam harinya mereka memutuskan untuk pergi makan malam ke sebuah Restoran China. Diseberang jalan nampak orang mengambil paketan di sebuah ruko yang lumayan besar. Frayza tertarik untuk melihat-lihat sebentar .


“Apakah makanannya masih lama?”


“Kurang lebih satu jam lagi, bersabarlah.”


“Kalau masih lama aku mau ke Toko itu.”


“Mau beli apa?”


“Sesuatu hehehe.” Frayza berniat memberikan kado balasan yang dia terima.


Dia berjalan sendiri tanpa ditemani Ramon yang sibuk dengan Laptopnya. Pria itu sangat fokus dengan pekerjaannya, dan tidak mengekang Frayza melakukan apapun.


“Selamat datang Nona di Toko kami,” sapa ramah Nimas.


“Iya,” Frayza mulia melihat-lihat koleksi yang berada di dalam toko.


Benda dan barang-barang yang dijual memiliki nilai sejarah dan karya seni yang bagus. Hingga akhirnya dia melihat pergelangan tangan Nimas memakai gelang kepunyaan Julian.


“Dimana anda membuat gelang itu?”


“Oh gelang ini, aku menemukannya di pantai. Seseorang menjatuhkannya tak sengaja, lalu aku memungutnya.”


“Kenapa tidak lapor Pihak Kepolisian tentang temuan barang. Mungkin saja pemiliknya sedang kebingungan mencari.”


“Oh soal itu, takdir jugalah yang mempersatukan kami lewat gelang ini.” Nimas membanggakan gelang milik Julian yang dipakainya.


“Maksutnya?”


“Karena gelang inilah, aku sekarang hidup bahagia bersama dan akan menyambut kelahiran bayi kamu pertama.”


Dalam hatinya Frayza bahagia, melihat wanita yang hamil bersama lelaki yang bertanggungjawab penuh. Andai dia seberuntung wanita yang berada didepannya, tapi sayang Frank lebih memilih menggugurkan kandungannya dengan cara kekerasan.


“Terimaksih Nona, ngomong-ngomong anda kemari mencari apa?”


“Aku sedang mencari hadiah untuk teman lelakiku, dia orang yang sangar tekun bekerja jadi aku berpikir hadiah apa yang cocok untuknya.”


“Ah seorang pebisnis ya, tunggu sebentar. Aku panggilkan kekasihku, mungkin dia bisa memberikan referensi yang baik.”


Dalam benaknya, Frayza berharap bila itu adalah adiknya Julian. Karena gelang naga itu dia pesan khusus di pengrajin perhiasan. Semoga harapannya tidak meleset dan berakhir kekecewaan.


“Nona, kau sedang mencari kado untuk teman priamu ya?” Suara Julian yang Frayza hafal.


Ternyata benar, pria yang dibicarakan tadi adalah Julian. Perasaan rindu kepada adik bungsunya harus ia tutup rapat-rapat. Karena dia bukanlah Frayza yang dulu, melainkan orang asing.


“O’iya, bisa bantu aku pilihkan benda yang sesuai untuknya?”


Beberapa barang yang direkomendasikan Julian tidak ada yang cocok dengan karakter Ramon. Frayza hanya mengulur waktu agar lebih lama berbincang dengan adiknya. Perasaan sedih dan haru kala melihat adiknya yang berambut gondrong dan berkumis. Lebih tua dari usia sebenarnya. Tubuh atletis dan berotot yang ia banggakan sudah hilang tergerus pekerjaannya. Wanita yang hamil itu selalu menempel Julian, mungkin naluri wanita hamil. Padahal Nimas cemburu pada Frayza yang menatap dalam kekasihnya seperti menaruh hati.


“Nona, jika kau sudah selesai menentukan pilihan aku segera bungkus.”


“Simpan saja disana, aku mau tambah lagi pesananku.”


“Emmmbb baiklah, tapi teman priamu itu ya yang datang kemari. Sepertinya dia menuju kemari setelah melihatmu.”


“Siapa?” Ramon datang mendekati Frayza.


“Kenapa kau belanja barang-barang ini semua, bukankah kau bilang tidak menyukai barang-barang antik.”

__ADS_1


“Seleraku berubah sejak tinggal di Bali, aku suka apapun yang berbau kerajinan tangan hehehe.”


Sambil membawakan barang pilihan Frayza Julian berkata “Selera Nona ini, Tuan. Aku saja kaget, untuk memberikan kado kepada teman prianya dia memborong sebanyak ini.”


Andai saja Julian tahu kalau wanita yang anggun itu adalah Frayza pasti dia akan bahagia. Karena kakaknya masih hidup, dan rasa bersalahnya tidak seperti sekarang ini. Dia bersama Nimas yang hamil besar untuk membalas hal yang tak pernah Frayza dapatkan.


*


*


*


Keesokan harinya, Nimas yang datang mengantar barang pesanan di Villa milik Ramon. Dibantu beberapa kurir angkut. Nimas menyerahkan faktur dan nota kepada Frayza. Ketika Nimas hendak pergi, Frayza menahannya dengan pertanyaan.


“Apa kau tahu siapa seluk beluk kekasihmu?”


“Eh, tentu saja aku tahu Nona. Dia adalah orang Singapura yang tinggal disini. Aku sudah berhubungan dengannya sudah lama.”


“Apa kau sudah bertemu orang tuanya?”


“Orangtuanya sangat sibuk bekerja di Hotel. Terkadang kami berlibur di Hotel milik orang tuanya.”


“Jika kekasihmu orang kaya, kenapa dia tidak meneruskan usaha orang tuanya. Apakah hubungan kalian tidak direstui hhhaaa?”


“Nona, kenapa kau bertanya seolah sudah tahu lebih banyak soal kekasihku. Aku wanitanya, aku yang hidup bersama. Kau hanya pembeli yang kebetulan datang ke Toko kami hanya untuk belanja. Atau jangan-jangan dugaanku benar jika kau menaruh perhatian pada Julian?”


“Tunggu, kau salah paham. Aku bukan orang seperti itu, Julian adalah anak yang baik. Dia tidak mungkin menghancurkan karirnya!”


“Apa? Karir apa? Nona, jangan karena kau orang kaya lalu mengarang cerita yang bukan-bukan ya terhadap kekasihku. Aku sedang hamil dana kan melahirkan, sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi.”


“BAGAIMANA BISA KAU MENUNTUT JULIAN MENJADI AYAH BIOLOGIS BAYIMU. SEDANGKAN DIA DATANG KE BALI 6 BULAN LALU, JAWAB SIAPA YANG MENJADI PENGUSAHA HOTEL. AYAHNYA SEORANG WALIKOTA DAN IBUNYA PENGUSAHA. LIHAT INI!” Frayza melempar fakta tentang waktu kedatangan Julian ketika masuk ke Indonesia. Dia melacaka dari nomor Pasport dan jaringan nomor seluler yang digunakannya.


Nimas tak bisa lagi berkurik setelah Frayza membeberkan fakta salinan tentang Julian. Dia gagal membohongi Frayza yang sudah mengantongi bukti akurat.


“Sekarang kau mau berkelit lagi, tidak akam kubiarkan!”merebut gelanh naga di pergelangan tangan Nimas.


“Nona, kembalikan gelangku ini. Kau sudah melakukan tindakan kriminal yanh merugikan penduduk pribumi. Aku bisa melaporkanmu di pihak imigrasi dan kau bisa di deportasi!”


“Aku tidak takut, dan aku akan membuatmu tidak melihat matahari terbenam. Jika kau tidak melepaskan Julian!” Frayza mengancam Nimas yang keras kepala.


“Dasar orang gila!” mendorong Frayza.


“Kembaliiii... Aku belum selesai denganmu pencuriiiiii!!!”


Nimas yang ketakutan itu berlari tak memperhatikan jalan, hingga mobil yang dikendarai Ramon masuk dan menabraknya. Frayza yang melihat hal naas itu membawanya ke Rumah sakit bersalin, karena Nimas mengalami pendarahan. Ramon yang ketakutan jika terlibat kasus hukum, akan mudah jati dirinya terekspos oleh media. Dan keberadaannya diketahui oleh Hikashi.


“Kenapa kau bisa secerobih ini Frayza?”


“Dia berbohong kepadaku, aku tidak bisa membiarkan wanita memperalat adikku.”


“Maksutmu?”


“Pria pemilik Toko itu adalah adik bungsuku, Julian.”


“Ya Tuhannnnn, dan wanita yang berada di dalam ini adalah adik ipar dengan calon bayi mereka? “


“Wanita itu tidak mengandung darah daging Julian, dia menjual tubuhnya untuk memperoleh uang. Nasib sial sedang berpihak pada Julianku yang polos. Dia harus menampung wanita hamil ini dan anaknya kelak!”


“Tapi mereka hidup dengan baik dan saling menyayangi, Frayza. Kamu tidak boleh merusak hubungan mereka, walaupun menurutmu itu salah. Tapi, Julian tetap menikmatinya bukan, mereka nyaman satu sama lain.”

__ADS_1


“Cukup Ramon, ini urusan keluargaku. Kau tidak berhak berasumsi.”


“Baik, oke Frayza jika itu maumu begini ya silahkan. Ini urusan keluargamu, dan aku orang asing bagimu. Baiklah Frayza, selamat bereuni saja untukmu dengan saudara tersayangmu. Jangan cari aku.” Ramon pergi meninggalkan Frayza usai menurunkan di depan pintu lobi utama.


__ADS_2