TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
TERNYATA AKU MANDUL?


__ADS_3

“Pihak Rumah Sakit sudah mengembalikan ijin praktek mu kembali. Jangan gegabah lagi, kedepan berhati-hatilah. Karena kau putraku satu-satunya sekarang!”


“Baik Ayah.”


“Aku akan menemani Ibumu pergi liburan beberapa hari di kampung halamannya. Jadi kau urus tumah dan Yung Hee baik-baik.”


“Pesan Ayah akan selalu aku ingat.”


Seorang perawat datang mendekat, wajahnya seolah mengatakan jika ada hal yang penting. Untuk segera dikerjakan.


“Pergilah temui pasienmu pertama hari ini. Jadilah Dokter yang bermartabat.”


“Ayah...” Thomas terharu dengan motivasi ayahnya.


Diruangan prakteknya sudah ada seorang pasien yang menunggu. Pria berkacamata dan tampak lesu.


“Ada keluhan apa yang bisa saya bantu, Tuan?”


“Ini soal metode kontrasepsi.”


“Apakah Anda sudah menikah?”


“Belum.”


“Apakah kau takut pacarmy hamil?”


“Aku...”


“Pria jaman sekarang banyak mengencani wanita berbeda-beda kok hehehe.”


“Aku masih perjaka sebelumnya.”


“Ups.” Tertegun.


Hari gini masih ada perjaka di usia super matang. Thomas rasanya ingin tertawa sangat kencang. Namun, ini tidak lucu jika ia lakukan. Jadi ia bersikap santai kembali. Menanggapi keluhan pasiennya.


“Sepertinya kau perlu meminum suplemen penyubur dan berlibur. Setres karena pekerjaan dan hubungan sosial bisa menurunkan tingkat kesuburan.”


“Aku merasa tertekan dengan wanita, apakah bisa Dokter memberiku saran atau obat?”


“Kenapa? “ wajah Thomas mendekat pada pasiennya.

__ADS_1


Kakinya bergertak menghentakkan dilantai, tampaknya pasien ini begitu gamang dengan kondisinya.


“Aku takut ia hamil setelah kejadian kemaren. Jujur aku sedikit, emb banyak depresi karena sudah melakukannya kemaren. Tapi aku diluar kendali saat itu. Apakah dia bisa hamil?”


“Dari kondisi ****** yang Anda hasilkan kwalitasnya sangat buruk. Bisa dikatakan bahwa Anda mengalami kemandulan stadium awal.”


“Apa!”


“Tenang... Tenang... Ini bisa diobati kok hehehe. Jangan kaget gitu dong, belum selesai bicara nih Dokternya.”


“Ya was-was lah Dokter, ini menyangkut masa depan penerus keluarga soalnya.”


“Usia anda sudah memasuki kepala 4 jadi sebaiknya melakukan terapi pengobatan mental dahulu. Dan memperbaiki kwalitas spermanya kemudian.”


“Berapa lama lagi waktu yang saya perlukan.”


“Kurang lebih 1 tahun jika Anda berhasil melewati masa krisisnya. Setelah itu, coba carilah wanita yang masih muda dan subur. Itu akan mempercepat proses pembuahan.


Jadi selama setahun ini Andreas harus meliburkan aktifitasnya. Dan memulai pemulihan kesehatannya. Menjadi pengacara dengan tingkat setres yang tinggi. Serta perasaannya yang kacau tak menentu. Andreas sedikit lega karena penuturan Dokter Thomas, jika spermanya lemah. Tidak bisa membuat Franda hamil. Walaupun sudah melakukan hubungan badan sebelumnya.


Didalam kamar mandi, Franda sedikit was-was mengecek apakah ia datang bulan atau tidak. Pasalnya, sehari yang lalu ia mengeluarkan flek. Jangan-jangan ini tanda awal kehamilannya. Pikirannya mulai tak tenang. Ia segera mengemasi barang-barangnya dan harus kembali ke Singapura. Guna untuk mempermudah akses mendekati orang tua Andreas. Ia harus gerak cepat agar situasinya dapat dikendalikan.


“Tiket siapa saja?”


“Kau dan aku.”


“Aku masih betah disini.”


“Urusan kita disini kan sudah selesai, lagi pula apalagi yang kau cari?”


“Aku mau tetap disini.”


“Pulang! Tidak ada alasan lagi, kita harus kembali. Aku sendiri yang akan mengemasi barangmu!”


“Franda, cukup!”


“Apanya? Aku hanya minta kau bersiap, tiket dan koper aku sukarela siapkan. Kau mau alasan apalagi hah!”


“Biarkan aku tetap tinggal disini untuk ketentraman hidupku. Kau terlalu menempel denganku, dan membuatku sesak.”


“Andreas, jadi ini sifat aslimu.” Melempar tas tentangnya.

__ADS_1


“Aku setres jika kau terus mengatur arah hidupku, kau tidak bisa menjadi wanita yang menjadi peraduanku. Maaf.”


“Andreas tunggu!”


“Aku sudah diujung lelahku, segalanya telah aku coba. Namun, aku tak bisa.”


“Kita sudah melakukannya, jika benih ini tumbuh dalam rahimku. Maka kau harus tahu ada anakmu didalam sini.”


Perut rata Franda diusap agar lebih dramatis aktingnya. Maklum, akting Franda bukan kaleng-kaleng lagi dah kalau urusan beginian.


Senyum kemenangan tampak jelas diwajah Franda saat meninggalkan Bandara. Andreas hanya mengantar Franda, dan bersikukuh untuk tetap tinggal di Korea. Entah apa yang akan ia lakukan nantinya disini. Yang jelas, ia harus menuruti saran Dokter siang tadi. Tak ada yang perlu Andreas khawatirkan, karena Dokter sudah menjelaskan kondisinya. Yang tak bisa membuat wanita hamil. Sekarang ia tak akan terikat apapun lagi. Termasuk ancaman Franda jika nanti mengandung. Andreas ingin mencari wanita penggantinya Frayza. Seorang wanita yang hangat dan keibuan. Ia ingin memiliki keluarga yang harmonis, bukan hanya formalitas belaka.


“Sayang, aku mau pipis.”


“Ah.... Ikut...” rengeknya.


“Sebentar lagi Matsumoto datang menjemputmu.”


“Dia belum kelihatan kok.”


“Sayang, aku akan pakai toilet tamu. Jadi kau tidak usah ikut.”


“Aaaa.... Frayza istriku, ikutttt.”


“Ck.... Papa berulah lagi.” Cibir Jade.


“Biarkan saja, sebagai anak kita harus lebih dewasa memakluminya. Mama memiliki lem apa sehingga Papa begitu lengket.”


“Sssttt... Awas nanti Papa dengar bisa gawat nasib uang jajan kita Seven.”


“Aku punya senjata pamungkasnya, Mama.”


“Itu kelemahannya Seven, aku pun tahu.”


“Makanya, kalau ada perlu sama Papa larinya ke Mama saja. Aku yakin semuanya beres.” Mengacungkan jempol.


“Hehehe kau adikku yang jenius.”


“Itulah gunanya Mama,” matanya melirik ke ayah mereka yang mengekori istrinya ke kamar mandi.


Setiap hari kemanjaan Hikashi sudah melebihi anak-anaknya. Bahkan ia tak malu lagi meminta suap saat makan. Ia juga tidak mengijinkan Frayza keluar kamar tanpa dirinya. Hal ini membuat kedua putranya susah untuk mendapatkan kasih sayang ibunya. Ayahnya terlalu mendominasi ibunya, sehingga anak-anak mereka tumbuh dewasa lebih cepat pemikirannya.

__ADS_1


__ADS_2