
Setibanya di Bandara New Delhi, India. Julian kalang kabut hendak mencari taksi. Disana ia menjadi rebutan para sopir, hingga koper dan ranselnya berserakan isinya.
“Hiaaaassss pergiiii!” usirnya.
Para sopir itu seolah tak kenal kata menyerah, dan akhirnya terjadi tarik-menarik barang bawaannya. Dan Julian berlari menjauhi mereka, dirinya merasa terjebak dinegara yang garang. Napasnya tersengal-sengal karena kabur dari kejaran tadi. Dia melihat Cafe di Bandara, kebetulan ia merasa haus dan sedikit lapar.
“Julian, jangan pernah memakan makanan olahan. Tapi belilah makanan jadi dan kemasan!” pesan Frayza yang selalu diingat-ingat Julian.
Ia membatalkan pesanan kopinya dan membeli mie instant dan air mineral botolan. “Ya Tuhannn, kirimkan aku orang yang baik sekarang!” keluh Julian frustasi memukul-mukul kelapanya.
Klakkk, gagang kacamatanya pecah begitu saja. Kesialan Julian terjadi lagi, dia sangat menyayangkan kacamatanya ini. Terik panas matahari menyilaukan pandangannya.
“Huft, harus kemana lagi aku harus mencari taksi dan penginapan. Aku seperti orang yang benar-benar kesasar di planet antah-berantah, cih.” Julian berjongkok putus asa dengan nasibnya sekarang. Tak ada pilihan lain kecuali memberanikan diri membeli tiket kembali ke Singapura. Julian benar-benar ketakutan seorang diri di Negara yang ia datangi ini.
Sedangkan penerbangan ke Singapura mengalami keterlambatan. Tiket yang sudah ia pesan ternyata hilang ketika di kamar mandi, nasibnya benar-benar buruk. Akhirnya Julian menukarkan uangnya lagi, dan memutuskan nekat mencari taksi dan penginapan yang murah dan aman. Ketika ia mencari taksi semuanya penuh penumpang. Saat hari menjelang malam, hujan deras turun disertai petir. Perutnya mulai lapar lagi, dan baterai ponselnya habis. Julian tidak membawa pengisi daya. Mungkin lupa atau hilang saat terjadi kejar-kejaran tadi.
Setelah menunggu sekitar 4 jam, akhirnya hujan reda. Melintaslah tukang bajaj yang kebetulan menurunkan penumpang. Julian tak peduli dan masuk kedalamnya. Tarifnya luar biasa mahal, karena si sopir bajaj itu tahu kalau Julian adalah seorang turis.
“Kalau kau tidak setuju dengan harganya, kau boleh turun dari cari transportasi lain!”
“Apa kau bercanda Pak sopir, aku naik bajaj bukan taksi.” Bela Julian yang merasa tarif bajajnya tidak wajar.
Tetibanya pintu sopir bajaj itu digedor oleh beberapa orang berpakaian rapi. Mereka membuka pintu sopir bajaj, dan menariknya keluar. Sepertinya mereka tengah berdiskusi hal serius, sopir bajaj itu beberapa kali menoleh ke Julian yang duduk di kursi belakang.
“Mati aku,” ia ketakutan dengan yang ia bayangkan. Jika terjadi hal buruk pada dirinya. Saat ini Julian berpikir bagaimana caranya untuk kabur dari bajaj. Dirinya diam-diam mengendap berjalan menenteng koper dan ranselnya.
Setelah ia pikir aman, ternyata ia terciduk beberapa pasang kaki yang berdiri didepannya. “Tolong jangan ganggu saya!!!” Julian mengatupkan kedua tangannya di kepala. Matanya terpejam tak berani menatap orang-orang sangar didepannya.
“Silahkan ikut kami Tuan Julian,” sepertinya orang-orang bertubuh tegap itu mengenal Julian. Perlahan ia membuka matanya, dan ternyata sudah ada mobil berwarna hitam terbuka pintunya.
“Tidak, terimakasih. Mungkin kalian salah orang, aku tidak kenal kalian. Permisi,” Julian berbalik badan dan berjalan cepat.
Sleppp, tangan menghadang tepat diwajahnya. “Silahkan masuk kedalam mobil, Bos kami ingin bertemu dengan anda. Mari bekerja sama dengan baik.”
Julian dibawa pergi menuju suatu bangunan dengan tembok yang sangat tinggi. Beberapa jam lamanya waktu tempuh perjalanan darat yang melelahkan. Nampaknya bangunan yang dilindungi tersebut dijaga ketat. Disekelilingnya terpadat pepohonan tinggi dan kolam air mancur yang besar seukuran kolam renang. Beberapa pelayan lelaki berseragam berjajar menyambut kedatangan Julian. Mereka mengambil ransel dan kopernya. Serta meminta jaket yang dipakai Julian juga. Ia terheran-heran kenapa diperlakukan seperti ini, kemudian ia melewati pemeriksaan metal detektor. Hanya ponsel mati yang ditemukan dalam sakunya.
“Selamat datang di kediaman kakak iparmu, tuan Julian.” Sambu ptia berkepala plontos yang masih mengenyot permen lolipop.
Tumben sekali Matsumoto memakai kaos dan celana kolor santai. Biasanya dia adalah orang berpenampilan perlente dan klemis. Julian masih ingat dengan jelas siapa Matsumoto ini, kaki tangan William. Orang yang tak asing dalam ingatannya.
“Kembalikan semua barang-barangku, aku tidak pantas berada disini!”
“Ooooooo...tidak bisa, Bos menyuruh kami menjamu anda dengan baik.”
“Katakan kepada Bos kalian kalau tidak perlu menjamu dengan baik. Kembalikan barang-barangku sekarang!”
“Saat ini aku menahan amarahku karena kau adalah paman muda dari putra Bos kami. Jika tidak ingin kehilangan gigi-gigimu akibat kelancanganku. Maka berkeras kepala lah.”
“Baik, aku turuti kemauanmu!”
“Pelayan, bawa tamu kita ke kamarnya, dan jamu dengan baik.” Para pelayan yang sedianya disiapkan tadi membawa Julian ke kamarnya.
Sesampainya dikamarnya, alangkah takjubnya saat melewati beberapa taman yang menghubungkan dari tempat utama ke ruangan yang lainnya. Bangunan ini tidak hanya luas dan besar, tapi ini lebih mirip istanan Raja. Yang benar saja, kamar seorang tamu saja sebesar apartemen tempat tinggalnya sekarang. Ya Tuhan sekaya apa sekarang Bosnya Matsumoto itu sekarang.
Julian mendapatkan pengisi daya untuk ponselnya, betapa banyaknya pesan yang dikirim oleh Frayza dan Bibi Fang kepadanya. Dia menjelaskan kepada kakaknya jika mengalami hari yang buruk. Tapi Julian menahan bibirnya agar tidak membuat Kedua wanita yang menyayanginya khawatir. Ia berkata kalau sedang menginap di hotel yang mewah dengan harga yang murah.
“Kalian awasi terus tamu kita, dan serahkan bukti percakapannya kalau sudah selesai!” perintah Matsumoto kepada pegawai diruang pemantau kamera rahasia.
Mereka sebelumnya sudah menambahkan kamera dan alat penyadap di kamar tamu. Hal ini untuk mencari bukti tentang kebenaran video yang dikirim Kenzo. Matsumoto terpaksa berkata jujur kepada Hikashi soal video tersebut. Dan ia diberi tugas oleh Hikashi untuk mencari tahu kebenarannya. Setidaknya sampai Hikashi kembali dari kunjungan kerjanya di beberapa anak perusahaannya.
“Apakah anda ingin jalan-jalan?”
“Tidak!” sejenak ia ingat kalau ke India untuk mencari bahan baju rancangan. “Eh ada, tapi akan membosankan bagi kalian.”
“Tidak apa, katakan saja.”
“Antar aku ketempat ********” Julian menyebutkan tempat-tempat yang menjual bahan kebutuhannya.
__ADS_1
“Pengawal, antar dan bayarkan semua seluruh belanjaan Tuan Julian. Sekalian kirim paketnya yang ekspres.” Matsumoto memberikan kartu hitam untuk memuluskan transaksi.
“Glek,” Julian menelan salivanya terbujur kaku mendengar perkataan Matsumoto yang gamblang.
Betapa diluar dugaannya, semua kwalitas dan bahan yang ditujukan oleh anak buah Matsumoto sangat baik. Selain itu harganya juga terjangkau, tidak semahal ekspektasinya. Dia memborong semua bahan yang dianggapnya perlu. Sampai bertruk-truk bahan yang ia beli.
“Ah... Ini lucu sekali, cocok untuk Seven ponakanku.” Gumamnya pelan.
Sepertinya satu set lengkap baju bayi terdiri dari selimut, bantal, guling, boneka, kasur bayi dan celemek ini sangat mahal. Mata Julian berkali-kali berkedip jika ia salah melihat angka yang tertera.
“Apakah ini ada yang diskon?”
“Maaf Tuan, ini produk premium. Jika anda minta harga terjangkau, silahkan membeli item yang terjual terpisah.”
Tapi set untuk bayi tadi sangat bagus menurut Julian,warna putih dan biru langit. Warna yang cocok dan bagus untuk bayi Seven. “Huffttt andai aku tidak beli tiket dan menghilangkannya, pasti ku belikan untuk Seven.” Sekarang uang Julian sudah menipis jika memaksakan membeli set bayi itu.
Akhirnya Julian memotret set bayi tersebut untuk kenang-kenangan barang yang tidak mampu ia beli. Sayang sekali, kesempatan ini diketahui oleh anak buah Matsumoto. Ia menguping pembicaraan Julian dengan pemilik Toko.
“Tuan Hikashi, ipar anda ingin membeli barang ini untuk keponakannya.”
“Borong!” perintah Hikashi.
“Yang mana?”
“Borong semua untuk keponakannya,” Hikashi beranjak dari kursi kerjanya.
Anak buah Matsumoto memperoleh ijin untuk membeli set bayi untuk Seven. Yang kemudian dibungkus sebagus kado istimewa. Setelah semua barang belanjaan Julian selesai. Saatnya mengirimnya ke pengirimam barang lewat kargo pesawat.
“Dipastikan barang itu akan sampai ke Nona Frayza dalam waktu 2 hari setelah pengiriman hari ini. Dan ini alamat tempat tinggal mereka sekarang, Tuan.”
“Hemmb,” wajah dinginnya menyimpan banyak rencana.
*
*
*
Wajah Hikashi dipenuhi brewok dan kumis, rambutnya dikuncir. Memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga kesiku tangan. Memakai celana tanggung warna putih bersih.
“Pa-pagi,” sapa Julian ragu-ragu.
“Permisi,” Matsumoto menggeser kursi untuk Julian.
“Eee... Ti-tidak perlu, saya hanya ingin mengucapkan banyak terimaksih atas kebaikan Tuan William dan Tuan Matsumoto.” Ucapnya sambil terbata-bata.
“Duduklah,” perintah Hikashi.
“Bos kami ingin bicara padamu, duduklah Tuan Julian.” Bujuk Matsumoto.
Dengan berat hati Julian menuruti keinginan kedua pria sangar ini. Keringat panas dingin mulai bercucuran dari dalam tubuhnya. Beberapa kali ia menyeka keringatnya agar tidak keluar banyak.
“Apa mereka memperlakukanmu dengan buruk selama disini?”
“Ti-tidak Tuan William, mereka semuanya baik. Dan terimakasih untuk kemurahan hati anda.”
“Hemb, beri tahu aku sekarang sebagai imbalannya.” Tiba-tiba Hikashi berkata demikian seolah meminta hal yang berat.
Karena Julian sekarang sudah masuk disarang naga besar. Mau tidak mau ia menceritakan siapa sebernya Seven itu. Hikashi berdiri membelakangi Matsumoto dan Julian. Sedangkan Julian terus bicara setahu yang ia ketahui mengenai Seven.
“Waktu itu, utusan Tuan Ramon mendatangiku. Ia berkata bahwa di Rumah sakit dirawat bayi prematur. Bayi tersebut baru saja ia selamatkan dari musibah besar. Ketika Tuan Ramon mengatakan lewat sambungan seluler bahwa bayi prematur itu adalah putra Kak Frayza. Malam itu juga aku bergegas untuk menengoknya di rumah sakit. Dan benar, bayi mungil itu memiliki golongan darah dengan Kak Frayza.... “ Julian bercerita terus untuk Hikashi dengarkan.
Airmata seorang ayah yang merindukan buah hatinya menetes perlahan membasahi pipinya. Walaupun Hikashi sejahat dan seburuk monster, tapi cintanya untuk darah dagingnya sama seperti manusia. “Jangan beritahu tentang pertemuan kita disini, terimakasih sudah menjaga Seven.” Ucap Hikashi yang berjalan pergi karena ia rasa cukup menyakitkan.
“Tunggu Tuan William, kakakku mengalami gangguan ingatan. Apakah kau sudah tahu hal ini?”
Hikashi dan Matsumoto lebih terkejut lagi, apakah efek racun yang disuntikkan Damora berefek panjang? Hal ini menambah beban Hikashi, karena dirinyalah yang membuat sengsara mantan istrinya.
__ADS_1
“Matsumoto, antar Tuan Julian ke Bandara. Jangan sampai ia terlalu lama meninggalkan keluarganya di Singapura.” Padahal dalam hatinya, Hikashi ingin ikut bersama Julian.
“Tuan, kita masih memiliki waktu yang banyak. Apakah anda tidak ingin sedetik saja menemui darah dagingmu?”
“Tidak, aku sibuk bekerja. Itu sudah kemauannya Frayza sebelum kejadian ini. Ia sudah menginginkan perpisahan ini. Jadi aku hanya menganggap Jade putraku satu-satunya.” Dengan agkuhnya Hikashi berkata bohong seperti itu. Ia berpura-pura tak peduli dan acuh kepada Seven. Tapi sebenarnya ia jaduh hati kepada putra keduanya tersebut. Terlebih lagi, dialah anak yang diharapkan kehadirannya.
Kebatuan hati Hikashi ini membuat Matsumoto mengikuti perintahnya. Hari ini Julian mengurungkan niatnya untuk memberikan bingkisan kecilnya. Ia rasa barang ini tidak berguna dimata Hikashi yang memiliki segalanya.
*
*
*
---- SINGAPURA ----
Di Butik, Frayza menggantikan posisi Julian bekerja. Ia mengubah ruangan kerja Julian menjadi lebih rapi dan indah. Beberapa tanaman hijau pembersih ruangan ia tambahkan. Lalu ia memajang lukisannya didinding sebagai pemanis ruangan.
“Nah, ini foto keluarga kecil kita hihihi.” Meletakkan pigura kecil diatas meja.
Beberapa hari Frayza bekerja dengan giat dan rajin. Termasuk membantu proses pembuatan baju. Beberapa stel baju pesanan klien mereka tampak puas dengan pola yang dibuat oleh Frayza. Mereka merasa nyaman saat memakainya. Dan tak jarang pula, ada beberapa rekanan kerja yang merekomendasikan Butiknya.
Orderan lewat blog juga memenuhi kanal jaring sosialnya. Perlahan nama butiknya mulai tenar dari kalangan eksekutif muda. Kebanyakan yang datang adalah pria, mereka mendengar rumor bila pemilik Butiknya sangat cantik dan ramah.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?”
“Aku mencari Julian, karena akhir-akhir ini Butiknya ramai dibicarakan.”
“Tunggu sebentar, apakah anda sudah membuat janji?”
“Sebelumnya aku bertemu langsung dengan Julian, dia berpesan kalau aku bisa menemuinya kapan pun.”
“Tapi Tuan Julian sedang di luar negeri,” jawab pegawai butiknya.
“Lalu siapa yang bertanggungjawab disini?”
“Saudara perempuannya Tuan Julian, Nona Frayza.”
Deg, jantung Rose berdegub kencang. Apakah ini Frayza gadis yang ia temui dulu. “Letti, aku akan pulang sebentar karena ada tamu datang kerumahku.” Suara Frayza yang menuruni tangga. Mata Rose terperangah melihat wanita anggun yang mengenakan setelan celana dan blazer.
“Maaf, apakah kau Kak Frayza?”
“Iya benar, apakah kita pernah bertemu?”
“Bagaimana mungkin kau tak ingat aku, Kak. Kita adalah teman akrab sebelumnya, apa yang terjadi padamu?”
“Oh bagitu kah, maaf Nona jika aku sudah menyinggungmu. Sebelumnya aku tinggal di Amerika karena sakit. Akibatnya ingatanku terhapus sebagian karena koma.”
“Apa, kau koma Kak?”
“I-iya, dan aku sekarang sudah sembuh. Tapi memoriku belum sepenuhnya kembali. Jadi maaf jika aku lupa hehehe.”
“Namaku Rose, Kak.” Menjabat tangannya.
“Senang berkenalan denganmu Rose. Oiya, bisa kau ceritakan apa keperluarmu yang bisa aku bantu?”
“Aku sedang mencari Julian, konon katanya dia sudah punya anak ya.”
“Hahahaha gosip darimana? Maksudmu Seven putraku?” Frayza tertawa terbahak-bahak.
Rose yang selama ini salah paham hanya mematung mendengarkan cerita Frayza. Jika selama ini Julian dibantu Bibi Fang merawat Seven, saat dia tengah koma. “Hahahah Julian masih lajang dan dia tidak memiliki teman dekat. Apa kau menyukainya?”
“Maaf Kak Fray,” menunjukkan cincin dijari manisnya yang menunjukkan dirinya sudah terikat pernikahan dengan pria lain.
“Ups, Rose jangan-jangan kau.” Rose mengangguk membenarkan.
“Kak Frayza, lain kali aku akan datang kemari. Katanya tadi ada tamu yang menunggumu dirumah. Kapan-kapan aku akan kemari lagi. Senang bertemu denganmu kembali Kak Frayza.” Rose memberikan pelukan hangat kepada Frayza.
__ADS_1
Ia meninggalkan butik dengan perasaan campur aduk didalam hatinya. Ternyata selama ini ia salah menerka jika Julian sudah berkeluarga. Faktanya sekarang ia menyesal sudah terikat pernikahan dengan Frank. Ia terus memandangi cincin pernikahan yang melingkar di jarinya. Seandainya dulu ia mencobanya dahulu, mungkin masih bisa mengusahakan Julian. Namun kenyataan ya ia sekarang sudah sah menjadi istri Frank.