Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Tak ketemu


__ADS_3

Kali ini aku dan pria yang tak tau siapa namanya ini saling berdekatan, dia terlihat sibuk dengan gawainya sama sekali tak menoleh ke arahku dan aku pun masih cemas akan nasibku setelah ini.


tiba-tiba Ponselku pun berbunyi, mbak Lidia meneleponku dan aku segera mengangkatnya.


"aduh Mati mbak mati!" Kataku begitu mengangkat telepon dari mbak Lidia.


"Mati? siap yang Mati deb?


jangan ngawur ngomongnya Deb, yang jelas Tanya donk, jangan buat mbak binggung gini." sambung mbak Lidia.


"Dokter Firman marah mbak!"


"Tunggu bentar Deb, kenapa semua membicarakan kamu disini? Kamu udah ketemu sama dokter Tedi kan?"


"Tuh kan mbak pasti kali ini aku bakalan dipecat deh Mbak, gimana dong ini mbak?" Gerutuku memelas, ku helahkan nafas kasar, sambil menyesali perbuatanku tadi.


"Emang kamu udah berbuat apa Deb?" tanya mbak Lidia kepadaku.


"Aku nggak ketemu Mbak sama dokter Tedi, ini gara- gara orang kecelakaan tadi, orang itu mengalami patah tulang dan aku segera mebantu, terus aku telat, jadi aku nggak ketemu sama Dokter Tedi, dia marah katanya mbak? Gimana kalau sampai aku dipecat?" Rengekku pada Mbak Lidia.


"Kamu kok bisa ceroboh gitu sih Deb, Dokter Tedi itu bukan orang sembarangan, dia Dokter spesialis kanker dari USA Debby!"


"Hah? USA? Maksud mbak Lidia bule gitu y? Mbak nggak ngomong sih kalau ciri-cirinya bule, mbak cuma bilang pake kacamata, tinggi" celotehku.


"Ya emang kamunya aja yang telat, kamu kan udah bawa tanda pengenal katanya, kalau kamu nggak telat ya pasti dia lihat, malah nyalahin mbak pula! Lagian Kamu musti tau kalau dokter Tedi itu bukan bule Deb, Dokter Tedi asli keturunan Indonesis, yang sudah lama tinggal di USA." jelas mbak Lidia

__ADS_1


" Eh ... Mbak udah dulu ya, aku numpang di taksi orang nih, nggak enak jika terlalu berisik!" Bisik ku, kupelankan suaraku setelah ku sadari orang yang ada di sampingku dari tadi melirikku dengan tajam, Ku matikan panggilan mbak Lidia dan kumainkan gawai ku untuk menghilangkan rasa kecanggungan ku.


"Ehem... Ehem... kamu lagi jemput orang?" Tanya pria itu tiba- tiba.


"Hah? I..iya Mas." Jawabku terbata


"terus!,Nggak ketemu?"


Kugelengkan pelan kepalaku." Aku belum pernah ketemu orangnya mas, jadi agak susah bagiku untuk menemukanya.Oya, Mas Dari mana?" Tanyaku balik.


"USA!"


"Hah? Kebetulan mas, oh iya tadi di pesawat Mas lihat nggak, orang pake kacamata, umurnya sekitar 55- 70 tahunan mungkin, kepalanya mungkin Botak gitu."


"Seorang dokter, nih namanya mas,Dokter Tedi" jawabku kutunjukkan tulisan yang ku buat tadi malam untuk menjemput Dokter Tedi.


"Ini kamu yang buat?" Tanyanya sambil mengiringkan senyum nya, mungkin saat ini dia sedang mengejek tulisanku yang agak berantakan, aku memang tak pandai dalam membuat seni menggambar.


"Iya biar gampang, tadinya." Jawabku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Terus darimana kamu tau kalau dia botak, tua, kalau kamu belum pernah ketemu sama dia?" Tanyanya lagi.


"Ya, Karena menirut ku, orang yang saya jemput itu orangnya cerdas, IQ nya di atas rata- rata pastinya, pasti wajahnya nggak jauh- jauh beda dari orang-orang cerdas yang terkenal seperti ilmuan." Jawabku, karena memang itulah yang ada di pikiranku tentang seorang Dokter Tedi spesialis kanker itu.


"oh iya, kenalkan nama saya Debby," kataku sambil mengulurkan tangan,dan bertanya.

__ADS_1


"Kalau Mas?"


"Aska, panggil saja saya Aska!" Jawabnya, lalu kamipun berjabat tangan. Ternyata bukan hanya wajahnya saja yang tampan, tangannya yang putih, halus dan lembut, menurutku dia bukan orang sembarangan.


"ngomong-ngomong Mas Aska ke rumah sakit mau jenguk kerabat atau gimana mas?..."


"Anggap saja seperti itu." Potongnya lalu kembali sibuk dengan gawainya, aku pun memilih untuk sibuk dengan gawaiku walau hanya scroll FB setidaknya terlihat sibuk didepanya.


tak lama mobil telah memasuki kawasan rumah sakit, aku pun memberi tahu mas Aska yang masih sibuk dengan gawainya.


"Eh mas kita sudah sampai ni,di sini aja pak ya! aku duluan ya mas, soalnya aku udah di tunggu sama atasan-atasan kataku sambil membuka pintu, dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas tumpangannya.


"Lain kali kalau mau jemput orang yang belum pernah kamu ketemui, minta fotonya biar nggak salah lagi!" Pesannya sebelum aku menutup pintu.


"I_ya Mas Aska, makasih!"


"Pak ini biar saya aja yang bayar!" Kataku sambil menyodorkan uang pada supir taksi, karena aku yang memaksa minta tolong, aku cukup tau diri untuk tidak menerima gratisan gitu.


"Udah nggak usah Pak, biar saya yang bayar!" Tolak mas Aska mengembalikan uangku.


"Kalau gitu makasih banyak mas, saya permisi dulu ya mas.!" lalu, aku pun segera berlari meninggalkan taksi itu menuju gedung rumah sakit.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2