
Rasa ingin tahu ku tentang kehidupan rumah tangga Debby mungkin lancang, tapi, setidaknya aku tau perpisahan yang terjadi antara Debby dan suaminya bukan karena aku mengajaknya makan malam, tapi memang hubungan mereka yang tidak baik sejak dulu.
Setelah suster Lidia pergi dari ruangan ku, aku segera memesan taxsi Online, hari ini aku akan pergi ke kediaman Adijaya, tempat yang paling tak ingin aku datangi dan terpaksa aku harus mendatanginya sekarang. Ya tadi pagi, mama memaksaku akan menginap di apartemen, jelas itu tidak bisa dibiarkan, ada Debby di sana. Tanpa pikir panjang, aku menjanjikan Mama untuk berkunjung ke rumah, dan Mama sangat senang mendengarnya.
Aku turun di depan pintu gerbang rumah yang sudah 8 tahun aku tinggalkan itu. Rumah itu terlihat masih sama seperti 8 tahun yang lalu, hanya catnya saja yang di ganti dengan warna yang lebih modern.
"Aku pun tak habis fikir, hanya demi Debby, Aku harus menginjakkan kaki ku ke rumah ini lagi..." Gumamku. Ku pencet bel dan tak berapa lama satpam membukakan pintu gerbang yang menjulang tinggi itu, sepertinya satpam itu baru.
"Maaf tuan cari siapa?" Tanyanya.
"Nyonya Adijaya, ada?"
"Ada perlu apa?" Tanyanya lagi, sepertinya rumah ini dijaga lebih ketat dibanding dulu.
"Perlu? Oh iya saya dokter dari rumah sakit Adijaya , tadi siang nyonya Adijaya telepon katanya suruh kirim dokter kesini." Kataku menunjukkan kartu pengenalku.
"Oh... Gitu, kalau gitu mari saya antar."
Ku langkahkan kakiku masuk ke halaman rumah yang sangat megah itu, mengikuti langkah satpam yang saat ini berada di depanku, hanya satu harapan yang ada dibenak ku dan doa yang bisa ku panjatkan dalam hatiku. Semoga saja di rumah hanya ada Mama dan tanpa Papa, mas Kevin, ataupun Vannia.
Akhirnya kami pun sampai di depan pintu utama keluarga Adijaya, satpam yang aku tidak ketahui namanya itu mulai mengetuk pintu rumah Mama. Tak berselang lama, pintu pun dibuka. Cekrek... Mama sendiri yang membukakan pintu aku tau Mama pasti sudah tau kalau aku yang datang.
"Sa...." Kata-kata Mama pun terhenti saat melihat aku letakkan jariku di bibir, tertanda bahwa aku menginginkan Mama tidak melanjutkan kata- katanya.
"Nyonya, dokter yang nyonya pesan sudah datang." Kata satpam, mama menautkan dahinya, aku tau mama pasti bingung.
"Dokter?"
__ADS_1
"Iya Nya, ini dokter dari rumah sakit Adijaya hospital." Jawab satpam itu.
"Oh... Ya udah, kamu boleh balik ke depan sana." Kata Mama, seprtinya mama cukup tanggap dengan skenario yang ku buat. Satpam itu pun kembali ke pos.
"Satpam baru ya Ma? Pak jamal pensiun?" Tanyaku.
"Pak jamal pulang kampung, ia sudah dilarang kerja sama Anak- anaknya." Jawab Mama.
"Oh... Gitu, ya Pak jamal emang udah seharusnya istirahat. Kasihan kalau harus kerja terus. Tapi, Mama nggak lupa kan sama Pak jamal?" Tanyaku.
"Iya, Mama selalu kirim tiap bulan ke anaknya buat pak jamal, pak jamal kan berjasa sama keluarga kita, apa lagi kalau jagain kamu yang super bandel waktu kecil, Mama masih ingat, Pak jamal mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan kamu, yang hampir ketabrak Mobil waktu itu, gara- gara ke bandelanmu." Kata Mama, aku pun terkekeh.
"Hemmm... Ngomong apa kamu sama satpam Mama?" pertanyaan Mama menghentikan tawaku.
"Dokter yang mau ngecek kesehatan Mama." Jawabku, wajah mama yang tadinya berbinar kini seketika mulai berubah menjadi murung.
"Sampai kapan mama harus menahan untuk menyebut kamu sebagai anak Mama? Kamu anak Mama Ted!"
"Mama nggak mau ngajak Tedi masuk? Tedi udah Laper ni." Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya mama sampe lupa, ayo masuk, mama sudah masak semua makanan kesukaanmu, semoga selera dan lidah kamu nggak berubah setelah lama meninggalkan indonesia."
Aku dan Mama masuk ke rumah dimana dulu aku dilahirkan, mama terus melingkarkan tangannya di pinggangku aku pun merangkulnya, kami berjalan bersama menuju ruang makan. Hati ku sedikit tenang, melihat suasana rumah yang lengang, artinya hanya ada Mama di rumah. Ku lihat begitu banyak masakan tertata begitu rapi di atas meja makan. Semua memang menu makanan kesukaan ku dulu, ada semur daging, tempe goreng tepung, ayam saos mentega yang selalu menjadi favoritku, dan ada juga cemilan sosis dan naget beserta cocolan mayones kesukaanku, dan tak lupa minuman. Mama mempersiapkannya dengan sangat begitu lengkap, membuatku semakin merasa bersalah padanya.
"Loh kenapa bengong Tedi? ayo makan nak, kamu mau apa?" Tanya mama yang sudah memegang piring dan siap mengambilkan nasi beserta lauknya.
"Udah ma, aku ambil sendiri aja." Aku mengambil nasi dan tempe goreng yang di USA tidak pernah aku temui lalu memakannya.
__ADS_1
"Ma, Papa pulang..." Suara Papa menghentikan aktifitas ku.
Aku menoleh ke arah suara itu, papa dan Vannia datang bersamaan, mereka terperanga saat melihatku sedang duduk di meja makan, begitu juga denganku. Mama memegang tanganku dengan erat, seolah tau, apa yang akan aku lakukan setelah ini. Ku tepuk lembut tangan Mama lalu tersenyum padanya.
"Eh Papa, Vannia , sini duduk kita makan bareng dulu." Kata Mama mencoba mencairkan suasana, ku hampiri Papa kuraih tangannya, ingin ku cium punggung tangannya yang sudah lama tak ku sentuh namun ia menolak dengan menyembunyikan tangannya di belakang dan memalingkan wajahnya dariku, aku tak mempermasalahkan itu, ku beralih pada vannia yang saat ini berdiri di samping Papa, ku ulurkan tanganku padanya dan dia tersenyum menyambut tanganku.
"Hai, Tedi... apa kabar kamu?" Tanyanya terlihat canggung, ini adalah kali pertama aku bertemu dengan vannia setelah kami mengakhiri hubungan kami delapan tahun yang lalu, ku lihat dia sangat banyak berubah terutama dari penampilannya yang lebih glamor dengan make up tebal. Aku tak heran, yang ku dengar, sekarang Vannia sudah menjadi model papan atas yang sangat terkenal.
"Baik" jawabku singkat. tiba-tiba ponsel disaku celana ku pun berbunyi, ku lihat Bama debby tertera dilayar ponsel menghubungiku, ada sedikit rasa khawatir mengingat keadaan Debby saat ini, tanpa berpikir panjang segera ku angkat telepon dari Debby.
"Ya, Halo" jawabku pelan.
"Dokter, bisa minta tolong?" Katanya.
"Iya, WA aja ya. ini saya masih di luar."
"Oh, iya dok Maaf"
"Ya." Tutup ku,
Begitu ku tutup telepon dari Debby
aku pun menghampiri Mama, untuk berpamitan.
"Ma, Tedi pulang dulu" pamitku pada Mama, wajahnya mulai terlihat sangat kecewa.
"Tidurlah disini, semalam saja Tedi!" Pintanya sambil membelaiku.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π