
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 91
"ih Debby..." Goda Sinta.
"Apa? Nggak usah sok nuduh- nuduh gitu deh. Aku yakin kalian juga tadi bertanya- tanya kan? Harusnya kalian berterimakasih karena aku sudah membantu kalian mendapat jawaban!"
Setelah sampai di parkiran rumah sakit, kami berpencar mencari kendaraan kami masing- masing.
"Selamat berakhir pekan buat yang besok free." Kata mbak Desi yang sudah ada di atas motor Hitamnya. Entah mengapa, aku merasa dia sedang mengejek ku karena aku besok masih harus shift pagi.
Aku berjalan menuju motor maticku yang kebetulan terparkir di bagian paling ujung.
Aku segera naik dan ku ambil helmku, saat aku hendak memakai helm, tiba- tiba tangan seseorang mencekal ku.
"Debby" Mas Doni sudah berdiri di sampingku, hampir saja aku berteriak karena aku takut itu adalah penjahat.
"Lepas, ada apa lagi muncul di depanku?" Tanyaku kasar.
"Deb, Linda ingin bertemu denganmu, dia ada disini sekarang. Dia sedang sakit Deb." Katanya, ingatanku kembali pada hari dimana aku melihat mobil mas Doni yang masuk area Rumah sakit. "Berarti benar yang ku lihat kemarin adalah Mas Doni, dan yang sakit adalah Mbak Linda." Batinku.
__ADS_1
"Bukannya dari dulu memang sudah sakit!" Ketusku sembari memakai helmku yang sempat tertunda.
"Tapi kali ini beda Deb, tolong temui dia sebentar saja." Ucapnya dengan wajah yang begitu penuh harap.
"Mas, jangan menggangguku lagi. Aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan kalian. Permisi!" Jawabku, ku nyalakan motorku lalu ku tinggalkan mas Doni di parkiran.
"Debby... tunggu Deb." Mas Doni mencoba menahan ku dengan memegang stang motorku, aku tak peduli, ku naikkan kecepatan ku, dia pun terjatuh. Ku tinggalkan dia, aku yakin dia tidak terluka.
Aku memperlambat laju kendaraan ku saat sudah sampai di gerbang rumah sakit dan tiba- tiba Seseorang naik di jok belakangku.
"Maaf, saya bukan tukang ojek." Kataku.
"Saya nebeng sampai hotel depan sana." Jawabnya. Ku dengar dari suaranya aku mengenal orang ini. Ku tengok ke belakang, lagi- lagi dokter Teddy datang tanpa di undang.
"Nebeng...Deb."
"Nggak mau."
"Saya juga nggak mau turun."
Priiiit... Di tengah perdebatan kami, peluit satpam rumah sakit pun berbunyi tertanda bahwa, aku harus secepatnya melajukan motorku. Ku hembuskan napas kasar.
__ADS_1
"Debby ni pak, nggak mau jalan... Buruan Deb, belakang sudah nungguin tuh..." Serunya dokter Teddy, berteriak pada satpam.
"Mbak Debby ayo maju mbak..." Teriak satpam padaku. Aku pun melaju kan motor matikku dan menyeberangi jalan besar dengan kekesalanku.
"Dokter! Turun!" Ku pinggirkan dan ku hentikan lagi motorku.
"Nggak mau." Jawabnya enteng.
"Dokter kan nggak pake helm!"
"Nggak papa, polisinya kenal sama saya. Lagian udah malem nggak ada polisi lagi kok. " Jawabnya Lagi- lagi menguji kesabaranku.
"Kalau kenal, kenapa dulu saya suruh pinjem helm ke Alex?"
"Kenalnya setelah beli sate."
"Nggak mau, pokoknya turun! Kalau nggak mau turun aku yang turun." Ancamku, lalu aku turun diri motorku.
"Ya sudah kalau kamu turun, motornya saya yang bawa, kamu naik taksi aja. gimana?" Jawabnya,sekarang dia sudah beralih ke depan kemudi dan memegang setir.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π