
Aku bukan rahim cadangan
Part 158
Sehingga kami memilih untuk tidak berkomitmen demi menaikkan karier kami sebagai dokter spesialis. Kami hanya sering jalan dan makan bersama saat weekend tiba, tanpa ikatan. Tapi itu dulu, jauh sebelum aku mengenal Debby.
"Debby, kita keluar sebentar." Ajakku meraih tangan Debby, dia menepisnya.
"Dokter nggak lihat apa, saya lagi kerja?" Ketusnya, masih fokus mengamati Alat pemecah batu ginjal keluaran terbaru. Sedangkan dokter Firman terlihat menahan tawa di belakang Debby.
Aku hanya bisa bersabar untuk mengekori kemana Debby pergi dan menuruti kemauannya. Tak mungkin memaksanya, karena hanya akan menimbulkan keributan.
Hingga seorang rekan yang juga panitia pelaksana memanggilku untuk membicarakan sesuatu.
Ku tinggalkan Debby dan dokter Firman untuk sesaat.
πΈπΈπΈ
Aku kembali sekitar setengah jam, ada beberapa masalah yang harus ku selesaikan. Ku cari keberadaan Debby dan dokter Firman. Ku lihat dokter Firman masih berada di tempat yang sama saat aku meninggalkannya tadi. Sepertinya dokter Firman sedang membicarakan sesuatu untuk mencari tau tentang alat yang ku dengar dibutuhkan oleh Atmajaya Hospital. Tapi Debby, Debby sama sekali tak terlihat disana.
__ADS_1
"Mana Debby?" Tanyaku pada dokter Firman.
"Debby? Tadi ada disini." Jawabnya melihat ke arah belakang.
"Kebiasaan dokter."
"Ke toilet mungkin Ted." Sambung dokter Firman.
Ku cari Debby ke toilet seperti apa yang dikatakan oleh dokter Firman. Aku terkejut saat ku lihat Debby dan Laura keluar dari toilet bersamaan. Ku hentikan langkahku.
"Teddy" Laura memanggilku. Dan Debby pergi, melewatiku begitu saja, tanpa melihatku.
"Debby..." Panggilku, Debby tak menyahut dan terus berlalu.
Ku cari Debby namun tidak ku temukan. Dan bukan hanya Debby namun dokter Firman pun tak ku temukan.
Drrrt... Ponselku bergetar, pesan masuk dari dokter Firman, ku buka lalu ku baca.
Dokter Firman [Saya dan Debby pulang dulu, naik taksi. Debby minta pulang, kamu tolong cari info pemesanan alat yang saya lihat tadi ya. Tolong]
__ADS_1
Aku berdecih kesal "Nggak tau lagi urgent apa? Pake nyuruh- nyuruh segala." Gerutuku.
πΈπΈπΈ
Setelah ku pastikan pekerjaanku selesai, aku pun segera pulang, ku lajukan kendaraanku dengan kecepatan tinggi. Pikiranku berkelana, sejak kepulangannya bersama Dokter Firman tadi, Debby sama sekali tak mau mengangkat telpon dariku, sudah dipastikan dia benar- benar marah padaku. "Keras kepala" gerutuku, ku usap kasar wajahku.
"Laura... kenapa kamu harus muncul sekarang?" Keluhku didepan kemudi, Laura memang pernah singgah di hatiku tapi tak sedalam Debby yang berhasil menjadi pemilik hatiku.
Segera ku buka pintu begitu aku sudah sampai di Apartemen "Debby..." Seruku,
"Dateng main masuk, nggak salam." Protes Dokter Firman.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam" jawabnya.
Ku cari sosok Debby, tapi Aku tak melihat Debby disana. Yang ku lihat hanya Dokter firman yang sedang duduk di sofa dengan mantel baruku, mantel warna coklat susu, senada dengan mantel yang ku belikan untuk Debby, Aku sengaja membeli mantel couple itu untukku dan Debby.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..