
Aku bukan Rahim Cadangan
Part 122
Setelah satu Minggu, aku pun sudah diperbolehkan untuk pulang, rasanya begitu lega bisa kembali menghirup udara luar.
Aku juga harus cepat- cepat memulihkan kesehatanku, aku sudah tidak sabar untuk kembali bekerja, sudah merasa tidak enak juga dengan profesor Atmajaya yang begitu baik padaku. Dan mungkin dengan bekerja, waktu akan berjalan lebih cepat, dengan begitu yang ku tunggu pun akan lebih cepat datang.
Aku kembali ke panti setelah dokter memperkenankan aku untuk pulang. Adik- adik panti sudah menyambut ku di depan pintu masuk panti. Aku sangat senang,
"Ye Mbak Debby sudah pulang..." teriak Aldo melompat kegirangan.
"Mbak Debby sudah sembuh?" Tanyanya yang menghampiriku.
"Sudah sayang... Kamu nakal nggak selama Mbak nggak ada?"
"Nggak dong mbak, kan udah main bola waktu itu sama om dokter." Jawabnya
"Om dokter?"
"Om ganteng itu dokter mbak, Aldo juga mau jadi seperti om itu kalau sudah besar nanti. Biar Aldo bisa sembuhin mbak kalau mbak Debby sakit " celotehnya.
"Aamiin, mbak doakan ya semoga nanti Aldo bisa seperti om dokter!" Kataku tersenyum, mendengar Aldo membicarakan dokter Teddy aku jadi semakin rindu padanya. Aku segera masuk ke kamar, ku ambil gawaiku dan ku hubungi nomor suami sekaligus dokterku itu, setelah ku saat ini adalah jam makan siang waktu USA.
__ADS_1
"Halo Debby? Gimana dokter Ferdi sudah kasih kamu ijin pulang kan?" Tanyanya begitu, dia mengangkat telepon.
"Assalamualaikum."
"Astaga, Waalaikumsalam. Maaf sayang." Jawabnya, sekarang dia lebih sering memanggilku dengan sebutan sayang, awalnya terdengar sangat aneh tapi lama- lama nagih juga. Aku sempat protes tapi dia bilang dia sudah bukan dokter Atmajaya hospital, jadi aku bukan pasiennya dan bawahannya, aku istrinya.
"Saya sudah pulang dok."
"Debby, kenapa susah sekali membuang panggilan dokter dari kamu?" Keluhnya yang hampir setiap hari disampaikannya padaku. Tapi rasanya aku belum mempunyai panggilan yang cocok untuknya, sayang terlalu berlebihan bagiku.
"Mau panggil apa lagi?" Tanyaku.
"Kan bisa Mas, sayang, honey, baby, banyak Deb. Kalau gini, kesannya saya itu bukan suamimu tapi dokter kamu!"
"Mas dokter?" Celetukku
"Kenapa menghubungiku?"
"Apa nggak boleh menghubungi suami sendiri? Atau dokter sudah lupa kalau sudah punya istri karena disana taunya dokter lajang?"
"Siapa bilang seperti itu? Disini mereka sudah tau kalau saya sudah punya istri. Makanya saya mau cepet- cepet balik ke Jakarta."
"Apa kamu merindukanku Debby?" Bisiknya.
__ADS_1
"Emmm... Obat, kenapa obat nyerinya nggak ada ya ini? Saya telepon karena mau tanya soal obat." Celetukku, mengatakan rindu rasanya terlalu dini, bisa keGRn juga dia.
"Ah masak Deb? Nggak mungkin."
"Iya beneran"
"Bohong, dokter Ferdy nggak seceroboh itu deh. Pasti kamu kangen kan sama saya?" Katanya tak percaya dengan alasanku.
"Iya, tapi..."
"Tapi apa?" Tanyanya dengan antusias.
"Tapi boong..." Jawabku lalu tertawa.
"Hemmm."
"Kamu kapan pulang?" Tanyaku lagi.
"Segitu rindunya ya kamu Deb? Sampai satu Minggu aja udah berapa kali kamu tanya kapan pulang?"
"Kalau nggak mau jawab juga nggak papa kok?"
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..