
Aku bukan Rahim Cadangan
Part 155
"Bukannya masih ada makanan kemarin? Di panaskan saja, atau kita cari makan di luar aja, kebetulan profesor ngasih uang saku lebih dari biasanya." Katanya yang memberi ide.
"Ya terang saja dikasih lebih, dokter bawa menan..." Kataku terhenti saat aku sadar hampir saja menyebut kata menantu di depan dokter Firman.
"Menan apa?"
"Maksud saya menjadi satu- satunya orang kepercayaan profesor." Jawabku yang beralasan.
"Bikin kopi sendiri dok, saya tunggu di meja makan." Kataku meninggalkan dokter Firman di dapur dan membawa makanan yang sudah siap sebelum dokter Firman semakin curiga.
Ku ketuk pintu kamar Debby, untuk mengajaknya sarapan bersama. Dia menyahut dan menyuruh kami untuk sarapan terlebih dahulu.
Aku kembali ke meja makan, terlihat Dokter Firman dengan kopinya sudah siap disana.
"Debby mana?" Tanyanya padaku setelah aku kembali ke meja makan tanpa Debby bersamaku.
"Suruh sarapan duluan katanya, mungkin dia sedang bersiap untuk pergi ke pameran."
__ADS_1
"Ditunggu aja Ted, kasihan kalau dia harus makan sendiri." Saran dokter Firman. Dan akhirnya Kami pun menikmati kopi sambil menuggu Debby keluar dari kamarnya.
Kami menunggu cukup lama, "Apa saja yang dilakukan Debby, lama sekali." Gerutuku. " Saya panggil Debby, lama sekali anak itu." Kataku beranjak dari tempat dudukku. Belum sampai ku langkahkan kakiku, Debby sudah muncul dengan busana muslimnya, gamis modern dengan warna pich lengkap dengan khimarnya. Lagi- lagi membuatku terpana akan pesona kecantikanya, aku heran, meski sudah sering melihatnya bahkan tidur bersama, tetap saja aku tertegun setiap melihat wajahnya yang semakin hari semakin terlihat bersinar bagiku.
"Udah keluar Ted, duduklah, kendalikan dirimu," kata dokter Firman yang melihat ke arahku.
"Apaan sih dokter ini!" Gerutuku.
"Duduk Debby." Seru dokter Firman.
Debby pun mengikutinya dan duduk tepat di depanku.
"Mari kita makan, ini masakan dokter Teddy sendiri loh, kamu harus mencobanya."
Kami makan bersama dengan diselingi perbincangan antara aku dengan dokter Firman yang membahas tentang pameran. Sedangkan Debby terlihat fokus menghabiskan makanannya.
"Debby kamu kurang tidur? Saya perhatikan kamu kok pucat." Tanya Dokter Firman tiba- tiba.
"Uhuk..." Aku tersedak mendengar kata- kata dokter Firman yang berhasil membuatku merasa tersindir.
"Kanapa Teddy?"
__ADS_1
"Nggak, nggak papa kok dok" Ku ambil air di meja lalu meminumnya.
"Debby, kalau kamu masih sakit lebih baik kamu istirahat saja, Saya ke pamerannya sama Dokter Teddy saja." Terang dokter Firman.
"Saya sehat kok dok, masak iya pucet?" Tanya Debby yang memegangi wajahnya.
"Iya Deb, kamu kayak sudah seperti digigit dracula, kayak kehabisan darah gitu." jelas dokter Firman yang semakin membuatku salah tingkah.
"Dokter bisa saja. Saya sehat kok dok, saya cuci piringnya dulu di dapur." Pamit Debby terburu-buru, seraya membawa semua piring kotor ke dapur.
"Kenapa Teddy? Kamu kok terlihat tegang sekali?" Tanya dokter Firman setelah Debby sudah tidak lagi terlihat.
"Kenapa?" Jawabku berkelit
" Udah nggak usah ditutup-tutupi lagi. Saya sudah tau semuanya tentang hubungan kalian. Kakekmu yang sudah memberi tahu." Bisiknya padaku.
"Hah"
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..