Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Merasa bahagia


__ADS_3

Ku hubungi Dokter Firman, ku katakan bahwa aku sudah sampai di rumah sakit, dia mengajakku untuk makan siang terlebih dahulu di kantin Rumah sakit, tak sengaja ku lihat Debby yang sangat tergesah-gesah, gadis yang menjemputku tapi gagal tadi berjalan melewati kantin, dia sudah mengenakan seragam perawat dan terlihat lebih rapi, Ia mengelus perutnya, sepertinya dia lapar, ku amati setiap langkahnya, benar saja dia masuk ke kantin membeli sebuah roti dan minuman lalu pergi lagi dengan buru-buru.


"Tedi, kamu kenapa bengong?" tegur Dokter Firman sambil menepuk pundak ku.


"Itu Debby yang dokter suruh jemput saya kan?" Tanyaku melihat ke arah Debby pergi.


"Kamu sudah kenal ya ? Bukannya tadi Debby nggak ketemu sama kamu?"


"Tadi ketemu dok, cuma dia nggak tau aja kalau dia satu taksi sama dokter saya. baginya dokter Tedi itu, tua, botak, kayak ilmuan-ilmuan terkenal." Kataku tertawa, mengingat kata- kata itu.


"Tedi, Debby itu sudah mempunyai suami!" Katanya menatapku curiga,


"Oh ya? Masih muda udah punya suami? Hebat juga, eh tapi apa hubungannya sama saya?"


"Ya be gitu lah pokoknya, lebih baik aku beri tahukan, ya dari pada kamu keburu jatuh cinta padanya, dilihat dari mana pun Debby kan memang menarik dan juga cantik."


"Hahaha, Dokter salah paham, tapi.... bukannya istri orang lebih menantang y?" Candaku.

__ADS_1


"Tedi!" Bentak Dokter Firman menatapku dengan sangat tajam, kami memang beda umur cukup jauh, aku 28 tahun, sedangkan Dokter Firman 40 tahun, namun kami tetap bisa berkelakuan layaknya seumuran, entah aku yang dewasa sebelum waktunya, atau dokter Firman yang tampak kekanak-kanakan.


"aku hanya bergurau saja Dokter! Saya lebih suka dengan cara kerjanya saat melakukan tindakan di luar rumah sakit, saat darurat otaknya lumayan berjalan dengan cepat!" Kataku menjelaskan, aku cukup salut dengan tindakannya di bandara tadi, ku amati setiap detail pekerjaannya, sangat cukup rapi, dan teliti Sampai-sampai dia tak menyadari aku sedang mengamatinya dari awal hingga akhir.


"Dia memang anak yang pintar, dan lulusan terbaik di kampus." sambung Dokter Firman.


"Oh ya?"


Aku memutuskan untuk membelikan Debby makan siang, bagaimanapun juga dia kelaparan karena menjemputku, saat ku berikan makanan pada Debby, nampaknya ia sangat kesal mungkin baginya aku seperti membohonginya, sebetulnya aku tidak membohongi, nama ku memang Tedi Aska Adijaya. Hanya saja nama keluarga besar Adijaya sudah ku hapus dari nama belakangku.


Ku temui kakek ku setelah memberikan makan siang untuk Debby, ku ketuk pintu yang bertuliskan ruang Direktur itu.


"Bocah tengil nakal!" Katanya lalu berdiri dan memelukku.


"Kakek Sehat?" Tanyaku.


"Aku akan lebih sehat kalau kamu mau pulang ke indonesia untuk menggantikan kakekmu ini yang sudah senja!" Jawabnya.

__ADS_1


"Jangan mulai lagi kek, aku ini bukan bagian dari keluarga besar Adijaya lagi kek." Jelasku.


"Dasar anak bod*oh, siapa yang bilang seperti itu?"


"Sudah lah, sekarang kita bahas masalah nya saja, Tedi hanya bisa tinggal beberapa Minggu saja disini kek." Jawabku mengalihkan pembicaraan tentang keluarga Adijaya yang benar- benar tak ingin aku bahas lagi saat ini ataupun nanti.


"hmmm...Tetap tidak berubah kamu! Ya sudah lah" kata kakek, ku pasang telingaku baik- baik sebelum kakekku menjelaskan sembari beliau duduk, karena aku tak mau melewatkan informasi sekecil apapun.


"Jadi, pasien itu sekarang masih dalam keadaan koma, keluarganya menuduh rumah sakit melakukan kesalahan, semua usaha sudah dilakukan namun tak juga mendapatkan hasil yang memuaskan, mereka mau pasien sadar secepatnya, baru mereka mau mencabut tuntutannya." Jelas Kakek, ku anggukkan kepalaku pelan tanda sudah paham.


"Oke kalau begitu, aku akan segera lihat keadaan pasiennya sekarang." Jawabku beranjak dari tempat dudukku.


"Kamu mau langsung kerja? Nggak mau istirahat dulu? apa Nggak capek baru sampai?" kata kakekku.


"Lebih cepat lebih baik kek, lagi pula USA nggak ada mengenal istirahat sebelum masalah selesai." Jawabku lalu meninggalkan kakekku.


Ku ambil seragam kebesaran ku, yang sedari tadi kuletakan diats kursi lalu ku susuri koridor rumah sakit, mereka yang berada di sana menatapku, baik pengunjung maupun pekerja, mungkin mereka baru melihatku, aku hanya mennyapanya sembari tersenyum. Beberapa perawat pun sudah di siapkan untuk membantuku dan mengikuti langkahku menuju ruang ICU, tempat dimana pasien yang kakek ceritakan dirawat.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2