
🥀🥀🥀
tanpa berkata aku melewati koridor-koridor rumah sakit Segera aku menuju ruang ICU, Ku lakukan serangkaian pemeriksaan terhadap pasien yang dimaksud kakekku, yang didampingi oleh Dokter Firman.
"Siapa yang sebelumnya menangani pasien tersebut?" Tanyaku sembari melakukan pemerikasaan.
"Dokter Heri, dia adalah dokter umum, masih baru, sepertinya dia kena mental, dan jatuh sakit" Jawab dokter Firman, aku pun tersenyum mendengarkan ucapan dokter Firman.
"MRI, Pemeriksaan darah, Elektroensefolografi EEG, CT scan dan lainnya?" Tanya ku tanpa jeda.
"Sudah dilakukan semua Dok" jawab salah satu perawat pria yang mendampingiku.
"mana Laporannya?" Pintaku pada mereka.
"I...ini Dok!" Seorang perawat wanita menyodorkan laporanya padaku.
"Kenapa kamu senyum- senyum?" Tanyaku sambil mengambil laporan dari tangannya dan tak sengaja melihat dia tersenyum padahal tak ada hal yang lucu.
"Dokter ganteng sih, oh ya udah punya pacar belum?" tanyanya, Ku helakan nafas panjang ku, dan kembali memeriksa laporan itu.
"Suster devi!" Sentak Dokter Firman memelototi salah seorang perawat yang terlihat masih muda dan lajang.
"Maaf Dok, takutnya kalah start!" Jawabnya menggelitik.
"Ini Kenapa selang makanan dan obat nggak dipasang?" Tanyaku lagi.
"Awalnya dipasang tapi beberapa hari ini setelah tidak ada perubahan, Keluarga tidak mengijinkan untuk memasang selang-selang tersebut." Jawab Dokter Firman.
"Kalau mereka nggak mau pasang kenapa dirawat? Hanya dengan infus tanpa memberikan makan dan obat memangnya bisa sembuh?" Tanyaku.
"Ya mau gimana lagi dok."
__ADS_1
Setelah ku lihat ada sedikit kejanggalan, aku pun memutuskan untuk menemui langsung keluarga pasien.
"24 jam berikutnya lakukan ulang rangkaian CT Scan,MRi, EEG dan lain sebagainya, setelah itu berika laporan nya ke saya. Dan besok saya ingin bertemu sama keluarga pasien."
"Keluarga pasien sedikit susah di dekati" jawab dokter Firman.
"Lakukan saja apa yang saya perintahkan, percaya semua ini pada saya!" Jelasku yang tak mau dibantah lagi.
"Dan untuk kalian yang disini, jaga dan pantau terus keadaan pasien, jangan sampai gegabah, jaga dengan cara bergantian!" Perintahku pada perawat-perawat yang membantuku.
🥀🥀🥀
Waktu sudah menunjuk pukul 12 malam, aku dan dokter Firman memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menunggu perkembangan besok.
"Ted, pulang kemana?" Tanya Dokter Firman.
"Saya sudah menyewa apartemen didekat sini Dok." Jawabku membawa koperku yang tadinya ku titipkan di kantin rumah sakit.
"Nggak usah repot-repot dokter, saya sudah memesan taxsi, lagipula anak dan istri dokter pasti sudah menunggu dokter di rumah. Nggak biasanya kan lembur sampai selarut ini?" Tolakku halus.
"Beneran ni?" Tanyanya memperjelas, ku anggukkan kepalaku. Kami pun berpisah di parkiran rumah sakit.
Ku lepas kacamataku, sembari menunggu taxsi yang sudah ku pesan tadi , ku pijat-pijat tengkuk ku yang sudah mulai lelah. Sayup- sayup ku dengar ada yang sedang berdebat di balik mobil yang ada di depanku, menyebut namaku.
"Mbak bilangnya, dokter Tedi pakai kacamata, nyatanya dia di bandara nggak pake tadi!" Katanya, dari suaranya dan bahasannya sepertinya dia adalah Debby.
"Ya Maaf Deb, mana mbak tau kalau dokter Tedi pake kacamatanya kalau lagi kerja doang!"
"Untung aja mbak, tadi aku nggak jadi dipecat."
"Lagian kamu, setiap mau di jelasin selalu dipotong- potong terus!"
__ADS_1
Ku sunggingkan senyumku, melihat perdebatan yang cukup menghiburku. Dari sana aku pun tersadar, ternyata aku terlalu kesepian selama ini, terlalu mengesampingkan orang- orang di sekitarku yang mungkin mampu menghadirkan tawa dan canda, aku hanya selalu sibuk dengan pekerjaan dan pencapaian- pencapaianku.
Debby mengakhiri shift malamnya pagi ini, ya, karena teman yang tukar shift dengan Debby mengalami kecelakaan, akhirnya Debby juga lah yang harus menggantikannya shift malam, alhasil Debby harus dobel shift, shift sore dan shift malam sekaligus dilaksanakanya, Debby tak mempermasalahkan hal itu karena bagaimanapun juga dia lah yang menginginkan pertukaran shift. Dobel shift memang membuat Debby juga dobel lelahnya sehingga berakhirnya shift itu membuat Debby bagaikan meletakkan beban berat di pundaknya. Ia menghirup udara segar di depan pintu UGD yang masih terlihat lengang, mengangkat tangannya ke atas dan meregangkan otot- ototnya seraya menguap.
"Biasakan ditutup sama tangan kalau nguap, setan bisa masuk nanti!" celetuk Tedi yang sudah berdiri bersandar di tiang pilar rumah sakit. Sontak membuat Debby terkejut dan terbelalak menoleh ke asal suara dan menutup mulutnya yang menguap dengan tangan secepatnya.
"D...okter?" Sapa Debby terbata-bata. Ia tak menyangka bahwa Tedi sudah berada di sana sepagi itu, bahkan sebelum loket rumah sakit dibuka "Apa Rumah Sakit di USA biasa buka sepagi ini?" Batin Debby bertanya.
"Nggak mau minta maaf padaku? atau bilang makasih sama saya?" Tanya Tsei membungkuk, menyamakan tubuhnya dengan Debby yang tingginya hanya sebatas dada Tedi. Dia terus mendekati wajah Debby yang semakin didekati semakin menunduk kepalanya.
"T..erimakasih Dok, karena sudah membantu saya nggak jadi dipecat tadi." Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Debby mendongak menatap Tedi, mereka pun saling beradu pandang, Debby melihat wajah itu lagi, kali ini dengan kacamata, kacamata yang mungkin saat orang lain memakainya kelihatan tua dan kuper, namun saat Tedi yang memakainya, bagi Debby yang terlihat hanya sosok orang yang berpendidikan dan berwibawa dengan wajah memesona.
Debby segera menyadarkan dirinya dengan kembali menundukkan kepalanya, dan mengingat wajah Doni suaminya "Sadar Deb, sadar!" Gumamnya.
"Sudah? hanya segitu aja?" Tanya Tedi lagi. Belum sempat Debby menjawabnya, Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi tiba- tiba datang dan berhenti tepat di depan UGD. Debby dan Tdei pun segera bersamaan menoleh ke arah mobil yang baru saja tiba itu, terlihat seorang pria panik dan orang lainnya terbaring di bangku bagian belakang.
"Tolong sus, Ibu saya mengalami sesak napas!" Kata laki- laki yang baru keluar dari dalam mobil dan hendak memapah ibunya.
"Deb! Kenapa bengong panggil teman kalian suruh bawa brankar dorong nya!" Seru Tedi seraya menghampiri pasien.
"Tapi dok, cuma ada 1 orang, desi dan yang lain udah pada pulang dan yang akan menggantikan shift pagi belum pada datang!"
"Astaga! kenapa harus pulang kalau belum ada yang mengantikan? ayo kamu segera Panggil Desi! lalu bawa brankar dorong ke sini, dan segera siapkan oksigen Deb!" Perintah Tedi tegas tapi bagi Debby itu perintah yang penuh emosi dan amarah.
I..ya Dok!" Jawab Debby lalu berlari, Akhirnya Tedi pun harus ikut turun tangan menangani pasien yang bisa dibilang lumayan gawat keadaannya karena Dokter UGD kebetulan juga masih memenuhi panggilan alam di belakang.
Debby bergegas pulang setelah pasien sudah dimasukkan ke ruang ICU, ia segera memesan taxsi sebelum Tedi kembali menuntutnya.
🥀🥀🥀
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kata🙏🏻😊
__ADS_1