
Aku Bukan Rahim Cadangan
PART 88
Seorang pengunjung datang menuju tempat duduk di sebelahku yang masih kosong dan tinggal satu. Keadaan gelap membuatku tidak bisa melihat wajahnya. Yang pasti dia sempat menyenggol kakiku.
"Mbak, kenapa nggak Alex aja sih yang di pinggir sini?" Tanyaku.
"Kenapa? Takut? Kita nggak lagi nonton film horor loh Deb!" Jawab Mbak Lidia.
"Ya sudah lah." Kembali ku nikmati popcorn yang sempat tak tersentuh saat aku mengobrol dengan mbak Lidia.
"Minum Vitamin apa? Selera makan kamu bagus banget, nggak berubah." Celetuk seseorang di sampingku yang baru saja datang itu. Aku menoleh, ku hela napas panjang saat ku amati ternyata wajah dokter Teddy tersorot layar bioskop, kini duduk di sampingku.
"Bener- bener jelangkung!"
"Jelangkung kalau seperti saya pasti maunya dihantui terus Deb." Jawabnya Dengan percaya diri.
"Bisa nggak, lebih sopan kalau ngomong?" Ketusku, dia tak menjawab, namun sepertinya dia sedang menertawakanku.
"Alex..." Teriakku tanpa sadar.
__ADS_1
"Mbak... Jangan berisik!" Bentak pengunjung yang merupakan laki- laki bertubuh kekar bersama perempuan. menoleh dan menatapku dengan tajam.
"Ih Debby, malu- maluin aja." Gerutu mbak Lidia, sedangkan yang lain menutup wajahnya dengan jaket mereka masing- masing. Dan Alex, berlagak tidak mengenalku. Sungguh mereka membuatku naik darah malam ini.
"M_maaf." Kataku pada pengunjung. Lalu ku sandarkan tubuhku kembali di kursi tinggi itu.
POV Teddy
Ku ikuti kemana taksi mereka pergi setelah ku tinggalkan dokter Firman. Hingga sampailah aku pada parkiran sebuah bioskop. Aku turun dan masuk ke dalam. Pucuk di cinta ulam pun tiba, Aku melihat Alex yang sedang berdiri di antrian untuk pemesanan tiket. Ku hampiri dia yang terlihat sedang sendirian.
"Alex..." Sapaku. Dia menoleh kearahku.
"Pesen tiket buat saya sekalian ya. Saya mau nonton juga. Pake uang saya saja, saya teraktir kalian semua malam ini." Kataku yang memberikan beberapa lembar uang untuk Alex.
"Dokter mau nonton?" Gumamnya.
"Kenapa? Nggak boleh?" Tanyaku yang tak sengaja mendengar gumaman Alex.
"Oh, boleh dok boleh kok" katanya yang segera mengambil uang di tanganku dengan sigap.
Setalah Alex mendapatkan Tiket.
__ADS_1
"Mana, saya lihat tiketnya." Kataku
"Ini dok." Alex langsung menyerahkan semua tiketnya padaku.
"Kamu kesini sama siapa aja?"
"Saya, Sinta, mbak Lidia, mbak Desi, Febby, Elis, Dan Debby. Iya 7 orang." Jawabnya sambil menghitung jari dan menyebutkan nama- nama temannya.
"Hebat juga kamu, jalan sama 6 wanita sekaligus." Sindirku, ia menggaruk tengkuknya yang mungkin tidak gatal.
"Karena saya yang udah traktir kalian, saya juga yang bagi tempat duduk sesuai nomor Urut dan dengar ya Alex jangan sampai salah!" Perintahku dengan penuh penekanan.
"I_ya dok"
"Jadi, kamu dan saya nggak boleh ada di tengah karena kita laki- laki dan cuma berdua. Urutannya kamu perhatikan baik- baki. Kamu, lalu Sinta, Febby, Elis, suster Desi, suster Lidia dan Debby. Dan yang ini baru saya." Kataku menunjukkan tiket satu per satu. Sesuai nomor. Alex terlihat sangat begitu serius mendengarkan kata-kataku, ku harap dia tidak akan salah.
"Di tulis di belakang gimana dok? Takutnya saya lupa." Tawarnya.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1