
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 92
"Terserah." Jawabku. Dokter Teddy terlihat menyalakan motor dan benar- benar seperti akan melajukan motorku.
"Ayo naik." Serunya. Aku tak menoleh.
Dan dia benar- benar melajukan motorku. Aku bergeming, berpikir bagaimana besok aku ke rumah sakit, sedangkan aku masuk shift pagi? kalau motor dibawa dokter Teddy, besok aku harus bertemu dan berhubungan lagi dengannya? Malas sekali. Aku pun berlari dan mengejarnya " Dokter tunggu...!"
Dokter Teddy memperlambat laju motorku dan aku segera naik di jok belakang.
"Jangan kesempatan dalam kesempitan ya, awas kalau main rem!" Kataku memperingatkan.
"Iya... Nggak pegangan?" Tanyanya yang membuatku bergidik ngeri.
__ADS_1
"Ogah!"
POV Teddy
Malam semakin larut, aku dan Debby membelah jalanan ibu kota yang terlihat sudah lengang itu. Debby duduk di jok belakang. Kali ini kami lebih terlihat seperti pasangan kekasih yang sesungguhnya karena kali ini aku yang menyetir. Kami hanya bisa diam di sepanjang perjalanan. Rasa canggung mendominasi kebersamaan kami malam ini. Aku tak mau merusak momen indah ini dengan obrolan yang pasti akan berujung pada Perdebatan dan akan mengganggu kebersamaan ku dengan Debby, kebersamaan yang sudah lama aku nanti- nantikan.
"Dokter, sepertinya setelah ini sudah nggak ada hotel lagi." Kata Debby yang aku yakin dia sudah hafal betul jalanan di sekitar sini. Dan memang hotel yang aku tempati bukan lah di daerah ini, aku hanya membohongi Debby. Terrlihat dari kaca spion sesekali Debby menahan kantuknya dengan menutup mulutnya saat ia menguap.
"Ada... Kamu diem aja." Jawabku.
"Hemmm."
Tujuanku bukan lah hotel, tujuanku yang utama adalah memastikan Debby sampai di panti dengan selamat karena hari sudah sangat larut malam ditambah jalan yang Debby akan lewati lebih sepi di banding jalan yang di lewati teman- temannya, teman- teman Debby rumahnya terletak tak begitu jauh dari Rumah Sakit yang ada di tengah kota.
Ku tarik dan ku pegang tangan Debby saat aku sadar Debby benar- benar lelah dan sudah tertidur di belakangku. Bersandar di punggungku.
__ADS_1
Hampir pukul 12 malam aku sampai di panti, ku parkir motor Debby, dan terlihat Bunda sudah membuka pintu. Aku yakin Bunda tidak tidur karena menunggu Debby pulang.
"Deb, bangun Deb udah sampe!" Kataku menggerakkan punggungku pelan untuk membangunkan Debby.
"Nak Teddy? Belum pulang? Dari pagi?" Tanya Bunda menghampiriku, Bunda terlihat memperhatikan penampilanku yang masih sama saat aku kesini sore tadi, saat aku baru pulang dari acara seminar.
"Belum Bun."
"Kenapa bisa sama Debby?" Aku bingung harus menjawab apa. Aku harap Bunda tidak salah paham padaku.
"Tadi, Bunda cerita jika Debby akan pergi nonton, setelah shift sore selesai, saya tau shift sore itu selesai pukul 8, kalau harus nonton mau pulang jam berapa? Jalanan ke arah panti lumayan sepi kan Bunda. Jadi saya pikir..." Penjelasan ku terhenti, terlalu berlebihan jika harus membahas tentang hati dengan bunda Mira.
"Pasti karena khawatir sama Debby? Maaf Nak, Bunda mengijinkan karena Bunda perhatikan Debby sering murung akhir- akhir ini setelah bertemu dengan Nak Teddy. Bunda pikir biar Debby bisa terhibur. Tapi Bunda Ndak nyangka akan sampe semalam ini. Bunda jadi Ndak enak sama Nak Teddi". Jelasnya dengan wajah penuh penyesalan.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π