
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 45
Berbeda dengan Doni yang tampak semakin tidak menyukai Teddy.
"Jadi ini dokter Teddy? Kenapa Debby dekat dengannya? Harusnya Debby menjauhi orang yang sudah memperlakukan Debby kurang baik di tempat kerjanya." Batin Doni.
Melihat Teddy berdiri di panggung, Doni teringat akan Debby. Saat ini Debby pasti sedang sendiri. Matanya mulai mencari-cari sosok Debby ke setiap sudut ruangan. Benar saja, Doni melihat Debby berdiri di tempat yang terlihat sepi.
"Linda, aku ke toilet dulu ya." Pamit Doni pada Linda.
"Kamu yakin mau ke toilet?" Tanya Linda sedikit curiga.
"Iya."
"Ya udah cepetan ya, jangan lama- lama."
Doni pun bergegas menuju ke tempat Debby berada, sambil sesekali menengok ke belakang memastikan Linda tidak melihatnya. Semakin dekat, Debby sadar Doni sedang menuju ke tempatnya. Ia mencoba menghindar dengan berusaha pergi dari tempat itu namun Doni mencekal tangan Debby, hingga Debby tidak bisa lari darinya.
"Mas, ngapain kamu? Kamu jangan menggangguku, kita sudah mantan!" Kata Debby yang mencoba melepas tangannya dari Doni.
"Ada yang mau aku bicarakan padamu Debby!" Jawab Doni.
"Bicara apa lagi mas? Sudah nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Semua sudah berakhir. Jangan menambah masalah baru." Jawab Debby. Kali ini Debby tidak bisa mengancam Doni dengan berteriak agar melepaskan tangannya, karena itu sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri dan pasti akan menimbulkan kegaduhan jika sampai Linda melihatnya.
"Debby, siapa laki- laki itu? Kenapa kamu begitu dekat dengannya? Pulanglah Debby, Mama dan Papa menunggumu dirumah!" Kata Mas doni tanpa rasa malu.
"Apa katamu? Pulang? Nggak salah kamu Mas? Kamu mau aku bersandiwara di depan orang tuamu kalau kita masih suami istri? Itu maksudmu?" Tanya Debby dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
"Bukan bersandiwara, aku ingin rujuk, aku tak peduli dengan Linda. Berpisah denganmu membuatku semakin g*la." Kata mas Doni santai.
"Mimpi kamu! Dasar kamu g*la mas!"
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku memang g*la karena berpisah denganmu?"
"O ya? Sekarang coba kamu bilang itu di depan mbak Linda! Apa kamu berani? Bukankah hidupmu tergantung dengan aturannya?" Tantang Debby.
"Kamu menemuiku saja masih mengendap- endap seperti kucing yang mau mencuri ikan!" Jawaban yang begitu menohok dilontarkan Debby.
", Papa punya jantung, setidaknya berikan rasa iba mu pada papaku. Dia begitu berharap bertemu denganmu."
__ADS_1
"Iba? Lalu dimana rasa iba mu saat kamu begitu ringan mengucapkan kata talak padaku? Dan kenapa tidak memikirkan penyakit jantungnya sebelum talak kamu jatuhkan padaku?. Lupakan semuanya. Anggap kita tidak pernah ada hubungan." Kata Debby lalu pergi.
"Debby! Denger saya dulu." Doni mengejar Debby yang berlari meninggalkannya.
Brukkk..."Aw... " Debby terjatuh, sontak memecah konsentrasi Teddy yang masih tegak berdiri memberi sambutan. Teddy sebenarnya sudah melihat Doni yang menghampiri Debby dan memantaunya dari atas, namun tak mungkin meninggalkan podium saat sambutan baru ia mulai. Hak tinggi membuat Debby yang tidak biasa memakainya mengalami kesulitan untuk berlari.
"Ya ampun Debby!" Gumam Teddy.
"Saya rasa cukup sekian dari saya, wassalamu'alaikum" tutup Teddy lalu meninggalkan podium dan bergegas menemui Debby yang masih duduk dilantai memegangi kakinya.
Begitu juga Doni, ia segera menghampiri Debby dan ingin membantu Debby.
"Debby, kamu nggak papa?" Kata Doni mengulurkan tangannya, Namun Debby menepisnya dan memilih berdiri sendiri tapi gagal, ia kembali terjatuh.
"Debby, kamu kenapa? Kenapa bisa jatuh?" Tanya Teddy yang datang tergesa-gesa Ia segera berjongkok sambil memeriksa kaki Debby. Kepanikan Teddy yang turun tiba- tiba dan berlari kecil meninggalkan podium, membuat semua mata tertuju kemana arah Teddy pergi, dan beberapa orang mengikuti Teddy termasuk suster Lidia dan teman- teman Debby.
"Patah sepatunya... Sayang banget, mahal" Keluh Debby sambil memperlihatkan sepatu haknya yang patah.
"Kenapa malah mikirin sepatu Deb? Kaki kamu lebih penting."
"Sakit dokter..." Keluhnya lagi, melihat Debby yang lebih memilih membagi rasa sakitnya dengan Teddy, membuat kemarahan Doni semakin memuncak.
"Ini kayaknya kaki kamu yang kemarin Deb. Udah nggak usah melas gitu, nanti kita obatin sampai di apartemen."
"Mas, ngapain kamu disini? Ini yang kamu bilang ke toilet?" Tanya Linda yang tiba-tiba menghampiri mereka yang menyadari bahwa ada suaminya juga ditempat itu.
"Linda, aku masih ada urusan dengan Debby, kamu tau Papa dan Mama kan?" Bujuk Doni.
"Bohong kamu Mas!" Jawab Linda yang terlihat matanya berkaca- kaca.
"Lebih baik Urus istri anda, dan Debby biar saya yang urus." Jawab Teddy seraya membantu Debby untuk berdiri.
"Debby, aku akan bilang ke Bunda atas kelakuan kamu ini kalau kamu nggak mau pulang ke rumah."Ancam Doni.
"Tak perlu repot- repot memberi tahu Bunda, Debby sendiri yang akan memberitahu Bundanya. Iya kan Deb?" Jawab Teddy, melirik pada Debby yang masih meringis kesakitan sambil memegangi tangan Debby untuk menjaga keseimbangan tubuh Debby.
"Iya ..." Jawab Debby, walau sebenarnya Debby tidak tau apa maksud Teddy, Debby hanya tidak menginginkan pertengkaran.
"Deb, mbak kan udah bilang jangan kemana- mana, ngeyel sih." Omel Lidia.
"Ayo, mbak anter kamu pulang. Kita obatin kaki kamu. Mas bantuin!" Kata Lidia mengajak Radit untuk memapah Debby.
__ADS_1
"Nggak usah, biar Debby pulangnya sama saya." Kata Teddy, membuka blazzer dan melilitkannya di pinggang Debby, "Pake, auratnya biar nggak kelihatan kalau saya gendong" kata Teddy Lalu berjongkok memunggungi Debby "Naik" perintah Teddy pada Debby, membuat semua mata yang melihatnya membelalak tentunya.
"Hah? Saya sama mbak Lidia dok" tolak Debby.
"Debby!" Sentak Teddy.
"I_ya, iya..." Saat suara Teddy mulai terdengar lebih tegas, hanya bayangan pemecatan yang berseliweran di benak Debby.
Akhirnya, Debby menuruti Teddy dan naik ke punggungnya. Semua mata tertuju pada mereka. Tak terkecuali profesor Adijaya.
"Pergi dulu ya Mbak..." Pamit Debby pada Lidia dan teman- temannya dengan wajah memelas dan menahan malu. Lidia dan yang lainnya tak menjawab, mereka masih tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Teddy membawa Debby pergi, membelah kerumunan dengan wajah percaya diri. Doni yang malang hanya bisa bergeming di samping Linda.
"Teddy!" Kata Profesor Adijaya saat Teddy melewatinya.
"Saya akan hubungi profesor nanti, kami mohon undur diri." Pamit Teddy membungkukkan badannya sebagai tanda hormatnya pada profesor yang sekaligus kakeknya itu.
Setelah sampai luar gedung, Teddy membawa Debby menuju parkiran dengan Debby yang masih bergelayut dipunggung Teddy.
"Dokter, kita ke tempat sewa baju dulu" Bisik Debby yang membuat Teddy tak habis fikir.
"Udah besok kan bisa."
"Besok, saya akan anter dokter ke bandara."
"O ya? Kamu mau nganter saya?"
"Hemm"
"Kaki pincang mau ke bandara?"
"Dokter kan hebat, masak ngobatin kaki gini aja nggak bisa sembuh dalam semalam?"
"Hahaha, kamu mengakui kalau saya hebat?"
"Hemmm, tadi dokter keren, saya lihat semua terpana dan kagum pada dokter."
"O ya? Berarti kamu juga terpana dong sama saya?"
"Bukan, kalau saya kan sudah biasa lihat dokter!" Kata Debby beralasan.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π