Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Anak pak Atmajaya


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 200


Aku terperangah mendengar penuturan darinya, aku tak pernah menyangka bahwa aku sudah meminum ramuan yang membuatku kehilangan harga diri ku di depan suamiku.


"Aku haus, kamu tidak menyediakan minuman di mobil kamu. Lagi pula Mama sudah membuatnya susah payah, kenapa di buang?" Protesku mengambil kembali botol minuman itu karena ku lihat tempat sampah yang baru aku beli kemarin itu masih kosong dan bersih.


"Apa? Coba katakan sekali lagi sayang?" Tanyanya dengan tatapan nakal, yang mendekatiku, kedua tangannya bertumpu pada wastafel yang ada di belakangku, mengunci tubuhku. "Apa kamu mau saya meminumnya Debby?" Bisiknya.


Ku bungkukkan badanku lalu menyusup keluar. "Setidaknya jangan membuangnya, simpan saja di kulkas, minum kalau dibutuhkan." Kataku meninggalkannya.


Aku masuk ke dalam kamar, ku tutup pintu kasar. "Ya Ampun Debby, bisa- bisanya ngomong kayak gitu. Debby memalukan sekali." Gumamku merutuki perbuatanku.


Cekrek... Pintu dibuka, ku tepis pikiranku dan segera mengambil tas.


"Mau kemana?"


"Kerja lah."


"Kamu bukannya shift malam? Itu, kenapa.masih pake piyama kalau mau ke Rumah sakit?" Lagi- lagi aku mempermalukan diri dengan tingkahku.


"Aku akan menggantinya di kamar sebelah. Aku mau ketemu..."

__ADS_1


"Doni? Kan saya bilang siang? Apa kamu sudah begitu rindu sama mantan kamu itu? " Sindirnya.


Sudah jatuh tertimpa tangga pula, sungguh sial hari ini, maunya mencari alasan tapi prasangka buruk yang ku dapatkan.


"Mas, jangan gitu. Motorku di bengkel, aku nebeng, suster Defi menyuruhku datang pagi ini?"


"Suster Defi? Ngapain?"


"Nggak tau."


"Ya sudah lah, sarapan dulu, setelah itu kita berangkat." Ucapnya seraya mengambil jas dan memakai sepatunya.


***


"Debby" Teriak seseorang saat aku berada di depan Loby, ku lihat Mbak Lidia dan Sinta yang sepertinya baru pulang shift malam tergopoh menghampiriku.


"Kenapa lari- lari?"


"Ada kabar buruk," Kata Mbak Lidia.


"kabar buruk apa?" Tanyaku mulai panik


"Kamu yang tabah."

__ADS_1


Pikiranku mulai tak tenang, yang ada di otakku saat ini adalah Panti dan Bunda.


"Kenapa mbak, Sin? kabar apa? Apa terjadi sesuatu di panti atau Bunda yang aku nggak tau mbak?"


"Debby, Anak Pak Atma yang berarti tak lain dan tak bukan adalah Dokter Teddy, akan segera menikah, acara resepsinya Minggu depan."


Deg...


Siapa yang memberi tahu mereka masalah ini? Bukankah kami sudah sepakat untuk tidak membeberkan sebelum resepsi terjadi agar tidak menimbulkan banyak gosip dan spekulasi.


"Siapa? Siapa mempelai wanitanya?" Tanyaku.


"Nggak tau Debby, orang undangannya secara langsung divisi masing- masing yang mengumumkan, nggak ada kertas atau apa, yang pasti kita semua di undang." Jelas Sinta.


"O" akhirnya aku bisa bernafas lega.


"O, kamu nggak sedih Deb?"


"Nggak, biasa aja. Lagian kenapa sih kalian terus saja menghubungkan aku dengan dokter Teddy? Memangnya kita begitu serasi?" Tanyaku menyelidik.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2