Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Cafe


__ADS_3

Aku bukan Rahim Cadangan


Part 170


Ku raih tangannya dan ku kecup punggung tangannya.


"Sembrono, untung sekarang saya suami kamu, coba kalau dokter tamu, pasti kamu udah..."


"Nggak mungkin dipecat, buktinya dokter tamu itu sekarang jadi suamiku."Selaku memotong pembicaraannya.


Dia tampak tersenyum.


"Suami. Lalu Mana? Mana pelukan untuk suamimu?" Katanya membentangkan tangannya.


"Apa kamu sangat merindukan istrimu?"


"Menurutmu?"


Aku tersenyum lalu menghambur ke pelukannya, memeluknya dengan erat "Saya sangat merindukan kamu Debby, sangat..." Bisiknya.


"Aku juga merindukanmu..."


"Ya sudah, kita pulang ya." Katanya melepaskan pelukannya dan bersiap membawa koper- koper besar miliknya.


Ingatanku pun tertuju pada kata pulang, aku bahkan tidak memikirkan itu sama sekali.


"Hei..." Lirihku menarik lembut ujung sweaternya saat dia hendak melangkahkan kaki menuju taksi online yang sepertinya sudah dipesan sendiri olehnya sebelum aku datang.

__ADS_1


"Kenapa?" Dia menoleh.


"Aku bahkan belum menyewanya?"


"Menyewa apa? Kenapa pikiranmu senakal itu Debby? Kamu mau langsung bulan madu lagi dan langsung..."


Ku hela nafas panjang mendengar penuturannya yang semakin ngelantur dan salah paham, "Mau pulang kemana? Apa kita punya rumah? Kita ke panti aja dulu ya?" Tanyaku to the poin, aku melupakan tentang tempat tinggal kami, dan belum mempersiapkan nya sama sekali.


"Rumah?" Dia tampak berpikir. "Ikutlah denganku, aku sudah menyewanya untuk sementara. Ayo masuk, saya sudah lapar." Tuturnya lalu membawa koper besar itu ke taksi.


"Secepat itu?" Gumamku, ku bantu suamiku memasukkan semua barangnya ke bagasi mobil. Lalu kami masuk ke dalam taksi setelah memastikan semua barang aman dan tidak ada yang tertinggal.


Kami duduk bersisian, kebahagiaan yang kini ku rasakan tak bisa aku menggambarkannya.


"Kenapa senyum-senyum gitu?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.


Cup, kecupan singkat mendarat di pipiku. "Hei... Apa yang kamu lakukan, jangan bikin malu. Ada pak sopir yang melihatmu."


"Kamu tanya apa ini nyata atau mimpi? Saya mencium kamu itu untuk menjawab pertanyaan kamu, kalau ciuman saya terasa berarti nyata kalau nggak berarti mimpi? Tadi kerasa nggak?"


"Iya... Iya, jangan membahas itu, malu tau."


"Debby, hari ini kamu shift apa?"


"Malam."


"Berarti bisa mampir sebentar untuk makan? Kamu kan..."

__ADS_1


"Iya aku belum mempersiapkan itu untukmu, karena masakanku tidak bagus untuk perutmu." Selaku sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.


Dia terkekeh


"Jangan tersinggung, Saya nggak bahas masakan, jangan di perpanjang. Mencuci piring juga sangat penting." Rayunya meraih tanganku dan membawanya ke pengakuannya.


"Ya, mau makan apa?" Tanyaku


"Sepotong sandwich cukup."


"Tidak bisakah makan nasi?"


"Nanti kalau perut saya buncit, kamu akan cari yang lain" Sindirnya.


"Apa aku seperti itu?"


Dia tersenyum,


"Ya sudah lah, lain kali ajari aku membuat sandwich Favoritmu. Agar aku bisa membuat sarapan nikmat untuk suamiku tercinta." Pintaku.


Lagi- lagi dia hanya tersenyum, senyum lembut yang terus ia berikan pada ku membuat hatiku semakin tak karuan dibuatnya.


"Baiklah, Pak minggir di cafe depan ya" katanya pada sopir taksi.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2