
Aku bukan Rahim Cadangan
Part 103
"Maaf Deb, maaf karena mbak menuduh kamu waktu itu. Maka dari itu mbak kesini ingin menebus Kesalahan mbak dengan menerimamu kembali, kembalilah pada mas Doni." Deg... jawaban yang benar- benar membuatku ingin mengangkat tanganku dan menampar wajah cantik yang kini berubah pucat dan tidak tau malu itu. Aku tersenyum kecut mendengar kalimat mbak Linda yang membuatku semakin membencinya.
"Mbak... Mbak... Dengar baik- baik! ini untuk yang pertama sekaligus yang terakhir! Aku bukanlah rahim Cadangan, yang jika mbak hamil, mbak membuang ku dan saat mbak kehilangan anak mbak, mbak memungutnya kembali. Jangan mentang- mentang kalian orang kaya, bisa memperlakukan orang miskin semau mbak! Harga diri ku lebih tinggi jika dibandingkan dengan mbak yang tidak tau malu!"
"Debby, mas Doni mencintaimu Deb, bahkan cintanya padamu lebih besar dari cintanya padaku. Kamu juga mencintainya kan? jadi apa salahnya untuk mencoba lagi." Katanya dengan mata berkaca- kaca.
"Tapi aku tidak mencintainya Mbak. Cintaku sudah terkubur bersama rasa sakit ku. Saat permainan kalian berakhir, cintaku pun berakhir." Tegasku.
"Tapi Deb... Mbak..."
"Cukup mbak, aku mau istirahat. Lebih baik mbak keluar sebelum aku memanggil security karena mbak sudah mengganggu ketenangan pasien lain." Ancamku.
__ADS_1
POV Teddy.
Aku pergi setelah Debby mengusirku dan memilih untuk menerima mantan suaminya yang datang bersama istrinya menemuinya.
Ku tutup pintu kasar lalu pergi ke rooftop rumah sakit. Ku tenangkan diriku disana. Angin yang berhembus begitu kencang dan cahaya yang semakin meredup oleh datang nya petang, membuatku semakin ingin merutuki diriku sendiri. Diriku yang tak mempunyai keberanian untuk berkata tentang status pertunangan ku dengan Debby. Meratapi ketidak berdayaanku saat aku tidak bisa berbuat apa- apa sebagai tunangan Debby. Ingin sekali aku mengungkapkan yang sebenarnya, namun aku tak bisa gegabah, bibir ku rasanya kelu setiap aku mengingat penilaian Debby tentang orang kaya. Mengungkap kan itu sekarang sama saja menambah masalah baru. Karena aku yakin Debby justru akan berbalik melempar seribu pertanyaan padaku termasuk masalah kedua orang tuaku.
Entah apa yang mereka bicarakan saat ini, bayang- bayang mereka akan mengambil Debby dariku adalah yang saat ini menguasai pikiranku.
Ku bentangkan tanganku dan ku pejamkan mataku menghadap langit. Pikiranku berkelana, memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.
Aku bergegas ke Mushola Rumah Sakit lalu kembali ke kamar Debby. Ku harap mantan suami Debby dan istrinya sudah tidak ada di sana.
Ku lihat seorang perawat membawa jatah makan malam menuju kamar Debby.
"Mau ke mana sus?" Tanyaku mencegahnya.
__ADS_1
"Ke kamar mbak Debby dok."
"Biar saya sendiri yang bawa."
"Dokter yakin?" Tanyanya melipat dahinya.
"Iya, kebetulan saya akan melihat keadaanya." Jawabku agar tidak menimbulkan curiga.
"Oh, silahkan dok!" Kata perawat itu memberikan nampan makan malam Debby kepadaku.
Kubawa dan ku buka pintu perlahan, setidaknya dengan membawa nampan ini, aku tidak akan malu jika mereka masih ada disana.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1