
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 85
"Oh... Iya Bun, Om Tante, Debby masuk dulu." Pamit Debby, Bu Widia dan Pak Atmajaya membalasnya dengan senyuman dan Debby segera masuk meninggalkan kami.
"Debby lebih dewasa dan bertambah cantik ternyata." Kata Bu Widia setelah bertemu dengan Debby.
"Bertambah? Apa Bu Widia sudah pernah bertemu dengan Debby sebelumnya?"
"Pernah, waktu Debby tinggal di apartemen Teddy. Tapi dia tidak tau siapa saya." Jawab Bu Widia.
Setelah aku pastikan Debby masuk dan memastikan dia telah tidur lelap setelah begadang semalaman, Barulah kami kembali ke topik pembicaraan.
"Jadi, saya teruskan apa yang dikatakan oleh istri saya tadi. Kami kesini untuk melamar Debby, untuk anak kami Teddy Jika Bunda Mira berkenan." Kali ini giliran Pak Atmajaya yang bersuara untuk memperjelas lamarannya.
"Apa Bapak dan Ibu sudah tau? terutama mengenai status Debby saat ini? Dan kami bukan orang berada, Apa Bapak dan Ibu tidak akan terganggu dengan semua hal itu?" Tanyaku, aku harus memastikan semuanya, memastikan bahwa Debby tidak akan ada dalam masalah lagi setelah ini.
"Kami sudah mengetahui tentang Debby, setiap orang berhak mempunyai masa lalu. Kami menerimanya selama Anak kami Teddy bahagia bersamanya." Jawab Bu Widia.
__ADS_1
"Teddy tidak pernah hidup dan bergantung pada kami, saya pun yakin bahwa tanpa kami Teddy akan mampu membahagiakan Debby. Kami hanya butuh menantu, kami tidak membutuhkan harta atau pun tahta. Karena Alhamdulillah kalau itu kami sudah mempunyai nya." Sambung Pak Atmajaya. Tidak disangka, Pak Atmajaya yang terkenal sangat dingin terhadap orang-orang itu,bisa berkata sebijak itu.
Hening
Lama aku berpikir, dan mempertimbangkan segala sesuatunya hingga aku sampai pada keputusanku yang sudah ku pastikan matang.
"Baiklah Pak, Bu. Dengan Bismillah... Saya menerima lamaran Bapak dan Ibu." Tak ada alasan ku untuk menolak lamaran dari mereka, apalagi saat aku teringat betapa Debby setia menunggu dokter Teddy, bahkan tak jarang aku melihatnya menangis diam- diam sambil melihat tumpukan P*mbalut pemberian dokter Teddy yang sengaja dia simpan dan tidak ia gunakan selama ini.
"Alhamdulillah..." Jawab Pak Atmajaya dan Bu Widia bersamaan.
πΈπΈπΈ
Hatiku berbunga-bunga saat membuka pesan dari Mama bahwa Bunda Mira sudah menerima lamaran ku di tengah acara seminar. Aku tak sabar ingin segera menemui Bunda Mira dan mengucapakan terimakasih ku padanya.
Begitu acara seminar sudah selesai hari ini, aku bergegas menemui sopir yang mengantar jemput ku ke hotel.
"Dokter..." Teriak seseorang padaku saat aku berjalan menuju parkiran. Ku hentikan langkahku karena sepertinya yang memanggilku adalah peserta seminar.
"Iya, kenapa?"
__ADS_1
"Dokter, boleh foto-foto bersama? Kami ingin buat sebagai kenang- kenangan." Kata seorang pemudi bersama beberapa temanya, sepertinya mereka adalah Dokter-dokter Muda.
"Oh... Silahkan." Ijinku, mereka pun mengambil beberapa gambar dan berterimakasih padaku.
"Kalau gitu saya permisi."
"Sampai jumpa hari Senin dokter, selamat malam Minggu." Teriak salah satu dari mereka kepadaku yang sudah berjalan meninggalkan mereka. Begitu banyak materi yang harus ku sampaikan hingga mereka harus menyelenggarakan acara seminar beberapa hari.
"Pak, bapak pulang aja, saya masih ada urusan." Perintahku pada sopirku.
"Oh gitu ya Pak? Apa mau diantar sekalian?" Tawarnya.
"Nggak usah, Bapak istirahat aja."
"Baik Pak."
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1