
Part 67
"Gimana sih dok bawa anak orang nggak hati- hati." Omelku.
"Ya maaf, Ted, dia yang suka ngilang- ngilang. Coba kamu telepon gih!" Perintah dokter Firman.
Aku segera menghubunginya. Bagaikan disambar petir saat aku dengar suara laki- laki yang sudah bisa ku pastikan bahwa dia adalah mantan suami Debby mengangkat teleponku. Dia menutup teleponnya secara sepihak dan berkata jangan mengganggu mereka. Ku coba menghubungi ulang namun hanya dijawab oleh operator. Pertanda Debby sedang bersama suaminya dan tak mau diganggu. Seketika tubuhku lunglai seperti kehabisan darah. Hatiku pun luluh tak berdaya.
"Kenapa Ted, kamu sakit?" Tanya dokter Firman yang melihatku termangu menggenggam erat ponselku. Aku pun tersadar.
"Nggak dok, Debby sudah pulang. Kita ke bandara sekarang."Kataku pada dokter Firman. Menunggu Debby sama saja mengharapkan sesuatu yang mustahil, Debby hanya akan menjadi sebuah angan yang begitu sulit untuk ku gapai. Rasa cinta pada mantan suaminya yang begitu besar adalah Boomerang bagi usahaku untuk mendapatkan Debby. Ku putuskan untuk secepatnya pulang ke USA, tak ada alasan lagi untuk menunggu hari esok.
"Loh, bukannya sudah telat?" Tanya dokter Firman yang sudah tau jadwal penerbanganku sebelumnya.
"Penerbangan berikutnya." Jawabku singkat lalu masuk ke mobil.
Di dalam mobil pun pikiran ku berkelana. Memikirkan apa yang sedang Debby lakukan saat ini dengan mantan suaminya itu membuatku semakin merana.
"Teddy..."
__ADS_1
"Teddy!" Sentak dokter Firman yang katanya sudah berkali- kali memanggilku.
"Astaghfirullah" ku usap wajahku Agar aku tersadar dari lamunanku terhadap wanita yang bukan milikku itu.
"Iya ada apa dok?"
"Kamu kenapa kok bengong aja? Mikirin apa?"
"Nggak"
"Kenapa nggak nunggu besok ke USAnya? Hari ini bukannya cukup melelahkan bagi kamu?" Tanya dokter Firman yang sedang memegang kemudi.
Ku hembuskan napas panjang. "Akan lebih melelahkan kalau harus berhadapan dengan orang yang kita harapkan tapi tak pernah mengharapkan kita." Jawabku.
"Hemmm" Jawabku, membicarakan tentang hal yang tidak diketahui oleh lawan bicara kita, sama saja membuang tenaga.
Aku turun dari mobil setelah sampai di bandara. Melihat bandara aku teringat sesuatu yang belum sempat aku sampaikan pada dokter Firman.
"Kamu yakin akan dapat tiket?" Tanyanya masih di depan kemudi.
__ADS_1
"Yakin. Kebetulan kemarin lihat jadwal penerbangan berikutnya."
"Dokter nggak usah turun, balik aja. Tapi ada yang perlu saya sampaikan." Sambungku saat melihat dokter Firman hendak membuka pintu mobilnya.
"Apa?"
"Saat kejadian tadi, ada yang mengambil gambar. Saya nggak mau pak atmajaya Sampai tau. Bisa habis saya." Kataku pada dokter Firman, terlepas dari siapa yang melaporkan aku. Aku tetap harus berjaga- jaga karena belum tentu juga kalau papa yang melaporkannya.
"Pak Atmajaya, Pak Atmajaya. Justru kalau masalah yang kayak gitu Cuma Papamu yang Bisa bantu, Kalau saya cuma taunya masalah rumah sakit bukan gosip." Jelas dokter Firman padaku.
"Ya terserah gimana usaha dokter, pokoknya saya nggak mau tau. Dokter yang minta saya kesini, dokter juga yang harus tanggung jawab." Putusku
"Ya... Ya" jawabnya malas.
"Sudah saya masuk dulu. Kalau sampai saya sampai USA ada berita tentang Saya, saya nggak mau pulang lagi." Ancam ku lalu berjalan ke arah gedung bandara.
"Eh kamu nggak mau nunggu sambil makan dulu? pasti lama tiketnya, bisa sampai ber jam- jam nunggunya." Teriak dokter Firman padaku yang sudah hampir masuk ke loby bandara.
"Nggak usah, saya nunggu disini aja." Jawabku setengah berteriak seraya ku lambaikan tangan tanda perpisahan.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π