
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 63
"Debby?" Kata Mbak Desi membuka pintu.
"Mbak, dokter Firman mana?" Tanyaku.
"Ada di dalam. Kamu kenapa? Kok Panik gitu? Ngos- ngosan gitu pula?" Tanya mbak Desi padaku.
"Aku mau ketemu dokter Firman mbak."
"Masih ada banyak pasien Deb." aku tak menghiraukannya lagi. Aku segera masuk dan menemui dokter Firman yang terlihat sedang menuliskan resep.
"Debby kamu apa- apaan?" Mbak Desi terus mencegahku, sepertinya dia sedikit marah padaku, tapi aku tak peduli.
"Dokter..." Kataku menghampiri mejanya. Namun dokter Firman terlihat masih fokus dengan pasien dan tak menoleh ke arahku.
"Ini resepnya, kontrol satu bulan lagi." Kata dokter Firman pada pasien sebelum pasien itu meninggalkan ruangan.
"Debby kamu ngapain? Kamu nggak tau saya lagi kerja?" Sentaknya padaku, sepertinya kali ini dokter Firman juga marah denganku karena ketidak sopananku.
"Tolong dokter Teddy Dok." Selaku yang tak mau membuang waktu dengan berdebat.
__ADS_1
"Teddy? Kenapa Teddy? Bukannya dia sudah ke USA?"
"Dokter Teddy dibawa polisi saat di bandara karena melakukan tindakan di rumah sakit kita tanpa SIP." Jelasku. Mbak Desi pun ikut terkejut mendengar apa yang ku sampaikan sampai dia harus menutup mulutnya dengan tangan.
"Apa? Beraninya mereka main- main dengan keluarga Adijaya." Gumam dokter Firman yang terlihat begitu marah.
"Maksudnya?"
"bukan apa- apa Debby."
"Terus kenapa masih bengong dok? Ayo dok tunggu apa lagi, kita harus ke kantor polisi sekarang. Jangan buang waktu." Seru ku.
"Desi, kamu urus dulu semuanya seperti biasa. Reschadule jadwal pasien yang butuh penanganan serius. Bilang saya ada urusan darurat."
Kami pun meninggalkan ruangan, banyak pasien yang melihat kepergian kami, tapi aku yakin mbak Desi bisa menanganinya.
"Mbak Debby, kopernya!" Kata security saat aku hendak keluar loby.
"Oh iya pak Makasih!" Kataku mengambil kembali koper dokter Teddy yang kutitipkan pada securiti tadi.
"Koper siapa Deb?"
"Dokter Teddy dok."
__ADS_1
"Ya udah masukin mobil."
Aku dan dokter Firman ke kantor polisi menggunakan mobil dokter Firman. Di dalam mobil terlihat dokter Firman begitu sibuk menghubungi beberapa orang dan sepertinya salah satu yang dihubunginya adalah Profesor Adijaya.
"Gimana kamu bisa tau Deb kalau dokter Teddy dibawa polisi? Dan ngapain juga kamu pagi - pagi ke bandara?" Tanya dokter Firman yang tak pernah ku pikirkan harus menjawab apa sebelumnya. Ku putar otakku mencari jawaban yang tepat dan tak menimbulkan kecurigaan.
"Kebetulan tadi saya sedang nganter temen saya ke bandara juga, iya.. gitu dok." Bujukku, untung saja otakku cepat berpikir.
"O gitu. Waktu di pesta kemarin, sepertinya kamu dan dokter Teddy sangat akrab Deb? Maaf... Apa suami kamu nggak marah?" Tanya dokter Firman yang seolah sedang menuduhku berselingkuh.
"Sebenarnya saya sudah..."
"Sudah? Sudah apa? Kenapa nggak diterusin Deb?"
"Saya sudah pamit sama suami saya, iya sudah pamit kalau pergi sama dokter Teddy." Jawabku beralasan lagi. Aku ingin sekali jujur, tapi tidak sekarang.
"Oh... Bagus lah kalau gitu, saya cuma nggak mau kalau sampai ada salah paham yang berujung pertikaian." Jelasnya, aku tersenyum samar.
Setelah sampai di kantor polisi, kami segera turun dan aku mengekori dokter Firman yang berjalan menuju ke ruang penyidik.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1