Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Makan Malam


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 163


"Dikiranya Debby mau?"


"Udah kamu siap- siapa aja,Saya kan atasannya, Kalau sama atasan pasti mau."


"Sombong!"


POV Debby


Aku memilih untuk menenangkan diri di kamar, aku masih sangat kesal saat mengingat peluk dan cium wanita itu pada laki- laki yang bergelar suami itu.


Ya, daripada keributan akan semakin besar dan terdengar oleh dokter Firman, lebih baik mencari ketenangan agar pikiran lebih bisa menerima kenyataan bahwa pernah ada orang lain juga di hati suamiku yang terlihat manis tapi kaku itu. Tak boleh egois juga, aku sadar setiap orang memiliki masalalu, begitu juga aku, jika Mas Aska bisa dengan begitu sabar menungguku saat jelas- jelas aku masih mencintai Mas Doni waktu itu, Kenapa aku harus marah saat ada wanita lain dari masalalunya.


Aku sempat merasa iba saat ku lihat wanita itu menangis karen ulah suamiku, namun segera ku sadarkan diriku bahwa menjaga keutuhan rumah tanggaku jauh lebih utama. Aku tak mau gagal untuk yang kedua kalinya. Seperti kata pepatah, lebih baik mencegah dari pada mengobati. Lebih baik membasmi benih- benih parasit sebelum mereka masuk lebih dalam dan memporak porandakan rumah tanggaku.

__ADS_1


Pintu di ketuk saat pikiranku berkelana mencari ketenangan jiwa.


"Debby, ini saya dokter Firman" Terdengar suara dari balik pintu.


Segera ku buka pintu, karena dokter Firman tak akan mencariku jika tidak ada suatu hal yang penting.


"Iya dok, ada perlu apa ya?" Tanyaku begitu pintu terbuka.


"Gini Deb, tadi profesor menghubungi saya."


"Iya, lalu?"


"Beliau minta kita carikan buah tangan dari sini, sekalian makan malam."


"Kenapa nggak sama dokter Teddy aja dok?"


Debby, yang karyawan Atmajaya hospital siapa? Kita apa dokter Teddy? Nggak enak kalau minta tolong sepenuhnya sama dokter Teddy Deb." Terangnya, aku berpikir, bahwa apa yang dikatakan dokter Firman ada benarnya, terlepas dari dia suamiku, tapi dia sudah memberi tempat untuk karyawan Atmajaya Hospital.

__ADS_1


"Ya sudah, saya siap- siap dulu ya dok."


Akhirnya aku mengikuti dokter Firman, pergi mencari buah tangan untuk profesor, tentu saja masih dengan di supiri oleh tuan rumah kami.


Aku duduk di bangku belakang, malam ini salju terlihat sudah reda, sehingga kami tidak begitu tersiksa saat berada di luar rumah. Walau demikian kami tetap memakai mantel yang sangat tebal, mantel coklat susu pemberian mas Aska yang ku pakai untuk melindungi tubuhku dari dinginnya kota London malam ini. Dan yang membuatku tak habis fikir, Mas Aska pun memakai mantel yang senada denganku. Bagaimana bisa? Di depan dokter Firman memakai mantel yang serupa?


"Mau makan apa Debby?" Tanya Mas Aska seraya melirikku dari kaca spion.


"Ya terserah, lagian mana saya tau makanan apa yang ada disini? Kalo saya mau makan ketoprak juga, nggak ada kan?" Ketusku.


Dokter Firman terlihat menahan tawanya, sedangkan suamiku menghela nafasnya lalu tersenyum, senyum yang seakan dipaksakan terlihat begitu jelas diwajahnya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2