
AkuBukan Rahim Cadangan
Part 128
Melihat Debby yang berdiri di pelaminan, terbesit sebuah angan akan konsep apa yang akan aku buat saat resepsi pernikahan ku dengannya nanti, saat dimana semua akan tau bahwa Debby pricilia adalah milik Teddy.
"Teddy, kasus penusukan itu sudah ada sedikit titik terang." Kata- kata dokter Firman menyadarkan ku dari lamunanku.
"Jadi, sudah tau siapa yang melakukan?" Tanyaku dengan antusias.
"Polisi masih mencari orang yang mengunjungi pasien itu. Sepertinya dugaan kita benar. Ada yang menghasut orang itu dan membuat depresinya muncul lagi." Jelas dokter Firman, aku semakin bertanya, kenapa harus Debby?
"Saya harap sih, kasusnya cepat selesai dan ketahuan siapa yang mencelakakan Debby." Pungkasku.
"Tenang saja, Papa kamu juga ikut membantu kok." Jawab dokter Firman yang membuatku semakin tercengang. Apa itu artinya papa benar- benar menganggap Debby sebagai menantunya.
POV Debby
Aku berdiri berdampingan dengan pasangan yang aku tidak tau namanya itu, sedangkan suamiku masih saja melihatku dengan tatapan tajam bak sebuah pedang yang siap kapan saja menusukku dan menghabisiku.
"Eh Deb, itu bukannya dokter Teddy? Dia beneran datang?" Ucap Mbak Lidia setengah berbisik, jarak kami memang paling dekat, sehingga kami bisa dengan leluasa berbincang.
__ADS_1
"Iya, kenapa? bangga?" Tanyaku kesal, setiap aku melihat mbak Lidia, hanya ada bayang- bayang pesan mesra dari suamiku padanya yang membuatku semakin malas pada mbak Lidia. Mungkin ini salah, karena dari yang ku baca justru suamiku lah yang berulah pada Mbak Lidia.
"Bukan bangga Deb, kalau dia datang, berarti aku harus siap- siap kondangan gede dong Deb kalau dia nikah nanti? Masak kondangan sama orang USA recehan? Belum lagi tiket pesawatnya." Ucap Mbak Lidia yang semakin ngelantur.
"Nggak usah dibalikin, pura- pura nggak tu aja kalau dia nikah nanti." Jawabku dengan santai.
"Ngutang dong Deb?"
"Udah jangan dipikir, kalau hari ini mikir hutang, bisa bubar acaranya. Nikmatin aja, masalah nanti, pikirkan setelah acara mbak selesai" putusku.
"Kapan selesainya mbak ini?"
"Nanti deb, sabar!"
Mbak Lidia menyenggol ku dan memberi kode padaku untuk menanggapi laki- laki itu. "Apa sih mbak!" Gerutuku.
"Oh, nama saya Debby, Mas." Jawabku tersenyum samar.
"Saya Farid. Boleh minta nomor hp nya?"
"Kalau boleh tau buat apa ya?"
__ADS_1
"Saya mau tanya masalah kesehatan, kamu perawat juga kan? Kebetulan saya sering ke Atmajaya hospital." Jawabnya.
"Oh, nama saya Debby, Mas." Jawabku sambil tersenyum samar.
"Saya Farid. Boleh minta nomor hp nya?"
"Kalau boleh tau buat apa ya?"
"Saya mau tanya masalah kesehatan, kamu perawat juga kan? Kebetulan saya sering ke Atmajaya hospital." Jawabnya.
"O ya? Siapa yang sakit?" Tanyaku basa- basi.
"Mama kebetulan jantungnya bermasalah."
"Kasihan sekali."
"Jadi, gimana? Boleh nggak?"
"Tanya mbak Lidia aja kalau masalah kesehatan, mbak Lidia lebih berpengalaman dibandikan aku." Tolakku, ku palingkan wajahku dari Mas Farid secepatnya karena aku sadar dokter Teddy lagi- lagi memberikan kode bahwa dia mengawasi ku dengan jarinya itu.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..