
Aku bukan rahim cadangan
Part 246
Dengan cepat ku ambil surat kabar itu, lalu ku buka dan ku baca, aku terperanga saat melihat halaman depan dan disitu sangat jelas terpampang beberapa foto ku dan foto Debby yang sedang bergelayut manja di lengan ku dan wajahnya tidak terlalu jelas karena di ambil dari arah belakang.
Namun yang semakin membuat ku sangat marah adalah judul dari berita itu, mereka memberikan judul kedekatan putra seorang konglomerat Atmajaya dengan seorang wanita biasa yang tersorot kamera.
Di dalamnya pun menyimpulkan bahwa seolah Debby adalah wanita murahan yang datang ke hotel bersama ku untuk bersenang-senang dan mendapatkan uang.
"Apa-apaan ini? Bisa-bisanya mereka mengambil gambar kami tanpa izin." gumam ku saat aku merasa bahwa surat kabar ini menyudutkan Debby. Ku remas surat kabar itu dan segera ku buang ke tempat sampah.
"Debby...jangan-jangan dia."ingatanku kembali pada sikap Debby yang sangat tak biasa bagi ku, aku sangat yakin jika dia sudah membaca surat kabar itu pada saat aku masih di dalam kamar mandi tadi.
Segera aku berjalan menuju kamar mandi yang masih terdengar jelas desiran air dari keran yang masih menyala. Ku rasa Debby saat ini masi mandi dan tak seharusnya aku mengganggunya.
Aku pun kembali ke sofa tamu, lalu ku hubungi pihak hotel dan restoran. Untuk menanyakan prihal berita yang beredaran saat ini.
"Selamat pagi! Ada yang bisa kami bantu?"
"Pagi, apa ini pihak valeri hotel dan resto?" tanyaku
"Iya pak, benar sekali, apa ada yang bisa kami bantu?"
"Iya mbak, jadi gini saya tamu yang berada di kamar no 232. Saya ingin menanyakan mengenai adanya pengambilan foto pada saat saya di resto tanpa sepengetahuan saya, dan saat ini foto itu masuk di surat kabar. Apa mbak bisa menjelaskan?"
"Maaf pak, kalau dari pihak hotel dan resto sendiri tidak mungkin melakukanya, itu sudah menjadi peraturan perusahaan. Mungkin itu dari pihak tamu yang lain pak. Jelasnya panjang lebar.
"Oh...jadi gitu ya mbak, oh ya kalau saya mau lihat CCTVnya boleh nggak ya mbak?"
__ADS_1
"Kalau itu diperlukan untuk keperluan mendesak dan sangat-sangat penting mungkin boleh pak, namun jika itu tidak penting maka tidak diperkenankan." ucapnya
"Oh ya udah mbak, terima kasih atas informasinya." tutup ku
"Iya sama-sama pak."
"Siapa yang ingin bermain-main dengan ku." gerutuku
"Terdengar suara desiran air dari keran menyala dan Debby pun tak kunjung keluar dari kamar mandi. Perasaan ku mulai cemas, segera aku dekati dan ku ketuk pintunya tok...tok...tok... "Sayang kamu nggak papa?" tanyaku sembari mendekatkan telingaku pada daun pintu, berusaha mencari tau apa yang terjadi di dalam sana.
"Sayang." ualng ku, namun tak ada juga jawaban darinya.
Ku gedor keras pintu, rasa cemas ku pun semakin menguasai ku. ku putuskan untuk mendobrak pintu.
Cekrekk... Pintu tiba-tiba di buka saat aku hendak bersiap mendobraknya. Debby keluar dan terlihat sudah mengganti pakaianya dengan pakaian yang dikenakanya semalam. Pandangan ku mulai beralih ke manik matanya yang terlihat berbeda. Merah dan sayu itulah yangbku lihat saat ini.
Ia pun berpaling dengan cepat, lalu menuju ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Ku dekati dan ku bantu dia untuk mengeringkan rambutnya, "Nggak usah aku bisa sendiri kok." bahkan kebiasaan yang sering aku lakukan untuknya pun ia menolaknya.
Aku pun tak memaksanya, mungkin saat ini dia sedang tak enak hati karena berita itu.
"Kamu mau bersepeda lagi?" tanyaku
"Bukanya kita sudah sepakat untuk mengantar dan menjemput mu sekarang?" sambung ku.
"Kamu tau sendiri kan terkadang shift ku mendapat sore, nggak selalu pagi atau pun malam." jawabnya
"Kan berangkatnya bisa naik Taxi, pada saat mendapatkan shift sore, Debby." kataku memberikan jalan keluar
__ADS_1
"Kan lebih efektif dan lebih hemat tenaga kalau bisa mandiri." mandiri? Jawaban yang sedikit membuatku menjadi tersinggung. Namun tetap ku coba untuk menahan egoku untuk tidak marah.
Saat ini aku berdiri di belakangnya, ku lihat dari pantulan kaca tepat pada matanya. Itu sudah bisa dipastikan, benar Debby telah menangis pada saat di dalam kamar tadi. Tapi kenapa? Kenapa dia tak mau berbagi dengan ku? Apa dia akan membaginya dengan Bunda?
Ku ambil nafas dalam, lalu ku buang dengan perlahan "Ya sudah, sarapan dulu tapi ya."
Dia mengangguk pelan.
Kami pun duduk di sofa, sembari menikmati menu sarapan, Roti coklat beserta susu hangat itu yang mereka antar pagi ini. Aku lupa tidak meminta menu sarapan lain yang berbahan nasi.
Tak ada banyak suara, hanya ada bunyi sendok yang terdengar samar "Kamu mau nasi?" tanya ku, dia menggeleng. Jika biasanya dia akan protes dengan menu roti berbeda dengan hari ini yang lebih memilih untuk memakan dan menikmatinya.
"Kamu akan bertemu bunda? Tanya ku di sela-sela sarapan kami
"Tentu saja tidak, bukan kah kamu tadi bilang jika bunda akan ada di rumah sakit." jawabnya sambil menikmati Roti yang masih ada di tanganya.
Entah apa yang sedang ia fikirkan dan ia pendam. Marah atau sangat begitu terluka. Yang pasti apa yang di lakukanya pagi ini membut ku benar-benar menjadi tak nyaman. Lalu sampai kapan dia akan bungkam seperti ini dan menyimpan rasa sakitnya sendiri. Sebagai seorang suami aku sangat tidak berguna saat ini.
"Ayo kita pergi." katanya setelah meminum susu dan menghabiskan sarapanya. Ia segera beranjak dan memakai sepatunya lalu mengambil tas yang diletaknya di atas meja nakas semalam.
Ku hampiri dan ku peluk dia dari belakang saat dia sedang sibuk mengecek isi tasnya, "Apa kamu sedang marah sayang?" tanya ku
"Marah?" tentu saja tidak." lagi-lagi dia memilih untuk diam dan tidak mmengatakan masalahnya dengan ku. Jika biasanya dia manja dan selalu mengeluh pada ku namun sifatnya saat ini sangat bertolak belakang sangat sulit aku mengartikanya.
"Mas ayo, nanti kamu telat lagi kerumah sakitnya." Debby melepas pelukan ku lalu berjalan menuju pintu. Aku hanya bisa mengikutinya saja, ku ambil kunci mobil lalu ku ikut keluar bersama Debby.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..