
aku bukan rahim cadangan
Setelah Debby pergi bekerja, aku menahan Mas Doni untuk tinggal sebentar.
"Mas, Aku mau ngomong sebentar, boleh?" Tanya ku tanpa berani menatap mata mas Doni.
"Kenapa harus minta ijin? Tentu saja boleh." Jawabnya lembut, Mas Doni memang tak pernah bersikap kasar padaku, hanya sekali selama pernikahan ku ia membentak ku, yaitu saat Debby datang pertama kali kesini.
"Mas, sepertinya keputusan ku menikahkan mu dengan Debby adalah kesalahan!" Kataku ragu-ragu.
"Apa? Apa maksud kamu Linda?" Tanya Mas Doni tak percaya.
"Aku mau kamu menceraikan Debby!"
"Linda!" Bentak Mas Doni, lagi- lagi dia membentak ku karena Debby.
"Apakah kamu sadar apa yang barusan kamu katakan, kamu sendiri yang memaksaku dan Debby untuk menikah, dan sekarang? Kamu mau aku membuat Debby menjadi janda di usiannya yang masih belia belum genap 24 tahun? Seharusnya waktu itu kamu berpikir panjang dulu sebelum memaksa kami untuk menikah?" Jelasnya dengan penuh amarah.
"Awalnya aku Kira akan baik- baik saja Mas, tapi melihatmu bersama Debby membuat hatiku terluka dan sakit, aku bisa mati karena sakit hati bukan karena penyakitku Mas!" Teriakku menatap lekat wajah suamiku.
"Linda, sadarkah kamu? Aku selalu mementingkan kamu dibandingkan Debby, apa Debby pernah marah padamu? Bahkan Aku juga tidak pernah berbuat adil padanya, Bahkan, bulan madu yang seharusnya ku berikan untuknya, aku pun mengesampingkan itu, ku berikan semuanya untukmu bahkan saat kamu tidak memintanya Linda!" Kata Mas Doni penuh penegasan.
__ADS_1
"Tapi, aku nggak bisa berbagi suami mas, aku nggak bisa melihat kamu membagi cintamu pada Debby, aku terluka Mas, melihatmu memeluk Debby saja membuatku terluka Mas." Jelasku, air mata ku pun mulai tumpah membasahi pipiku. Lalu Mas Doni tersenyum kecut mendengar penjelasan ku.
"Aku pikir selama ini Debby lah yang ke kanak- Kanakan, tapi ternyata justru kamu lah Linda yang tampak kekanak - Kanakan. Aku kecewa padamu, wanita yang selama ini aku bangga- banggakan, aku puja-puja, aku agung- agungkan, ternyata sifat dan perilakunya tak lebih dewasa dari wanita yang usianya belum genap 24 tahun!" Kata Mas Doni mengambil tas kerjanya dan meninggalkan ku dengan berlinang air mataku. Jika sebelumnya ia selalu menghapus air mataku, namun hari ini dia meninggalkanku tanpa menoleh atau melihat wajahku yang begitu menyiratkan sebuah luka.
🥀🥀🥀
Seperti permintaanya dokter tedi kemarin, Dokter Firman akhirnya mempertemukan dokter Tedi dengan keluarga pasien yang sedang koma tersebut.
Seorang laki- laki berperawakan putih, tinggi, besar masuk ke ruangan Tedi
"Silahkan duduk!" Dokter Tedi mempersilakan, laki- laki itu pun segera duduk dengan wajah yang tak bersahabat tentunya,
"Apa yang mau anda bicarakan?" Tanyanya dengan ketus.
Braakkk.... "Anda jangan kurang ajar ya, Lagi pula siapa anda?" Kata laki- laki itu memukul keras meja Tedi hingga menimbulkan goncangan yang menimbulkan jatuhnya beberapa barang milik Tedi yang tadinya berada diatas meja.
"Jangan kurang ajar pak!" Kata Dokter Firman dengan nada tingginya, Dokter Firman ingin menghampirinya namun Tedi memegang dan melarangnya dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Saya belum selesai bicara, duduklah!" Perintah Tedi pada laki- laki itu, lalu ia pun kembali duduk.
Perdebatan mereka berlangsung cukup lama, dengan sangat gigih Tedi berusaha agar laki- laki itu mau memasang alat bantu untuk ayahnya dan mempercayakan kesembuhan pasien pada dokter. Namun laki- laki itu tetap kekeh akan keputusanya, kalau dibilang konyol bagi Tedi mungkin konyol, dia menginginkan kesembuhan ayahnyanya namun tidak memperbolekan dokter untuk melakukan tindakan. Tedi terus melakukan pendekatan, walaupun laki- laki itu tidak meng iyakan namun dengan penyampaian dokter Tedi yang cukup meyakinkan membuatnya sedikit melembutkan diri dengan berpikir ulang akan keputusanya.
__ADS_1
Cekrek... "Dokter, pasien menggerakkan mulutnya." Kata perawat yang tiba- tiba membuka pintu, semua pun tampak terkejut mendengar penuturan perawat, Tedi dan dokter Fiman segera pergi meninggalkan ruangan untuk melihat kondisi pasien, tak terkecuali anak dari pasien itu, ia juga mengikuti langkah Tdei dan Dokter Firman menuju ruang ICU.
🥀🥀🥀
Debby meminta ijin sebentar pada kepala ruang UGD untuk menemui dokter Yudi, karena ia harus segera mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan pada Linda.
Tok tok tok, Debby mengetuk pintu ruangan Dokter Yudi, namun hanya ada suster Leni asistennya diruang itu.
"Dokter Yudinya ada mbak?" Tanya Debby.
"Dokter Yudi sedang ada urusan di dubai, emang ada perlu apa ya?" Tanya suster Leni.
"Mau konsultasi mbak, kalau boleh tau kembalinya kapan ya?"
"Masih beberapa Minggu lagi Deb."
"hmmm. cukup lama juga ya mbak."
"Iya, atau kalau kamu buru- buru, kamu ke dokter Tedi saja, dia kan juga dokter spesialis kanker. Walaupun dia lebih muda dari dokter Yudi, tapi pengalamannya nggak kalah sama dokter Yudi, ditambah ganteng dan lulusan USA!" Kata Leni saran kepada ku.
"Hah? I...ya mbak makasih atas saranya, kalau gitu saya permisi dulu y," Saran suster Leni bagi Debby sangatlah sulit. Debby pun segera pergi kembali ke ruang UGD dengan perasaan kecewa karena tak mungkin baginya menemui dokter Tedi.
__ADS_1
🥀🥀🥀
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kata🙏🏻😊