Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Pulang Kehotel


__ADS_3

Aku bukan Rahim Cadangan


Part 129


Resepsi pernikahan itu akhirnya selesai, aku segera berpamitan pada mbak Lidia, karena sudah begitu banyak pesan yang masuk dari suamiku yang isinya sama yaitu kata PULANG!. Mbak Lidia tadinya sempat menyuruhku untuk tinggal, tapi aku menolaknya, karena tidak mungkin aku mengabaikan suamiku yang sudah jauh- jauh datang kemari dan baru bisa bertemu setelah sekian lama.


Aku bergegas ke depan pintu gedung, tepatnya di depan loby, kucari sosok tampan pemilik hatiku yang menyuruhku segera keluar tadi. Hingga seseorang dengan motor besar warna merahnya berhenti tepat di depanku. Aku mundur beberapa langkah, karena ku rasa dia sedang menjemput seseorang.


"Naik!" Perintahnya dengan suara yang sudah tak asing lagi.


"Dokter?" Ucapku terkejut saat kaca helm sedikit dibuka dan ternyata sosok itu adalah sosok yang kucari.


"Dokter, dokter. Udh naik, nih pake!" Ucapnya seraya mengulurkan jasnya dan helm padaku. Aku terima dan ku pakai.


"Besok- besok saya ajari pake baju yang baik dan benar." Sindirnya saat aku memakai jas, aku tau maksudnya, mungkin dia keberatan dengan penampilanku saat ini yang sedikit mempertontonkan kulitku.


"Naiknya gimana? Tinggi sekali motornya? Lagian kenapa musti pake motor sih? Ribet banget!" Ocehku, seraya menjinjingkan dress panjangku dan mencari panjatan.


"Ya nanti kalau saya pake mobil yang ada mereka tau muka saya. Katanya nggak mau ada yang tau." Jawabnya, sampai akhirnya aku berhasil naik di jok belakang. Memang ada benarnya juga, karena beberapa temanku masih ada di dalam dan mereka bisa saja melihat.

__ADS_1


"Ya udah, jalan. Buruan!"


"Pegangan!"


"Hemm..."


Kami pun melaju dengan kecepatan sedang.


"Kita ke hotel malam ini, nggak usah pulang ke panti." Serunya dari depan kemudi.


Deg... Aku terkejut, pikiranku mulai berkelana. Apa mungkin dokter Teddy akan meminta haknya pada ku malam ini?


"Nggak enak sama Bunda, besok kalau saya balik, saya antar ke Panti. Kamu libur kan?" Lagi- lagi dia tau kapan jadwal aku libur.


Aku bergeming


"Kenapa Deb? Kamu nggak mau? Bukannya kamu juga ingin sekali ketemu sama saya?" Godanya lagi.


"idih...GR"

__ADS_1


Hari sudah semakin petang, dokter Teddy melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Saat ini kami membelah jalanan Ibu kota, bak pasangan muda yang sedang menghabiskan waktu malam minggunya menggunakan sepeda motor besar, sepeda motor yang entah darimana lagi suamiku menyewanya.


Tibalah kami di parkiran hotel, ku rasa ini adalah hotel dimana dia menginap.


Kami segera turun, aku termangu saat memikirkan apa yang akan terjadi di dalam nanti.


"Kenapa berhenti? Ayo buruan, masuk!" Serunya menggandeng tanganku untuk masuk ke hotel.


Tombol lift di tekan menuju lantai paling atas. Aku semakin bingung dan cemas.


"Kenapa? Kamu takut?"


"Takut? Tentu saja tidak." Jawabku menutupi, padahal jika dia tau apa yang ku rasakan sekarang ini hanyalah rasa jantung yang berdegup sangat kencang tanpa adanya jeda.


"Ini tangan kamu dingin banget loh Deb?" Tanyanya yang membuatku tersadar bahwa tanganku masih ada dalam genggamannya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2