
Part 38
"Hemmm. Saya mau beli roti dan beberapa keperluan di bawah, kamu bikin susu dulu aja kalau Laper!"Katanya.
"Hemmm"
"Terus, Ngapain masih disini? Saya mau ganti baju, kamu mau lihat?" Katanya yang sudah siap mengangkat baju Kokonya keatas
"Dokter, apa- apaan sih!" akupun segera membalikkan badanku dan menutup mataku.
"Tahan ya Debby, jangan ngintip-ngintip bahaya!" Katanya mengingatkan, aku tak berkutik dan hanya bisa menutup mataku rapat- rapat dengan kedua tanganku.
"Udah, buka mata kamu!" Katanya. Aku pun berbalik dan membuka sebelah mataku, setelah ku pastikan ia tak mengerjai ku dan memakai lengkap bajunya, barulah ku buka mataku sempurna. Ku lihat ia sudah mengenakan kaos kerah warna putih dan celana jeans ternama. Ia terlihat memakai sepatu dan hendak membuka pintu.
"Dokter..." Teriakku.
"Apa lagi Debby?" Tanyanya yang sudah memperlihatkan wajah masamnya.
"Mau ikut... Mau lihat udara luar!" Kataku sambil memelas.
"Udah mandi belom...?"
"Ya udah lah, nggak lihat udah cantik kayak gadis Korea gini?"
"Korea? Gumiho?" Ejeknya lagi.
"Ih... Dokter! Gumiho terus, nonton yang lain dong biar update!"
"Ya dah lah buruan!" Putusnya.
Aku begitu antusias saat mendengar jawaban iya dari dokter Teddy. hidup penuh masalah dan tinggal di apartemen membuatku sangat jenuh, aku segera memakai sepatuku dan mengekori dokter Tedi.
"Deb, jalannya yang cepet, nanti kita telat ke rumah sakitnya!" Perintah dokter Teddy, aku pun berlari kecil menyamai langkah panjang dokter Teddy.
Tiba di supermarket kami pun berpisah, dokter Teddy bagiku kurang menikmati hidup, belanja pun begitu serius dan hanya menuju pada apa yang ia tuju, tanpa ingin melihat- lihat yang lain.
"Ya ampun Debby, kamu ngapain? Ayo balik." Ia menarik tanganku yang masih sibuk memilih ice cream menuju meja kasir.
__ADS_1
"Pacarnya ya Mas?" Tanya kasir yang kebetulan laki- laki, aku tak menanggapi.
"Adek saya!" Jawabnya singkat.
"Sini Ice creamnya bayar dulu!" Kata dokter Teddy mengambil ice Cream dari tanganku dan memberikannya pada kasir yang ku lihat dari tadi curi pandang padaku. Tadinya aku mau membayarnya sendiri. Tapi, berhubung dokter Teddy menjadikan satu dengan belanjaannya ya apa boleh buat, makan lah aku ice cream gratisan lagi.
"Adeknya cantik Mas, boleh dihalalin nggak mas?" Tanyanya yang sembari cengengesan, dalam hatiku ingin menamparnya, tapi berhubung dokter Teddy di depanku aku mengurungkan niatku.
"Mas, tangan saya ini biasa jahit manusia, dan sudah hampir satu Minggu saya nggak melakukannya, kenapa tiba- tiba tangan saya gatel pengen jahit mulut orang ya! Mas tau nggak kenapa kira- kira?" Jawaban dokter Teddy begitu berkelas dan membuat perutku sakit menahan tawa.
"I_ni mas belanjannya udah siap, ini kembaliannya." Kata kasir laki- laki itu yang sambil terbata, ia terlihat begitu ketakutan, sepertinya ia paham apa maksud dokter Teddy.
Aku dan dokter Teddy pun segera keluar dari supermarket itu, sampai di luar kami saling menatap hingga akhirnya tawa kami pecah bersamaan.
"Dokter keren..." Kataku, tak lupa ku acungkan dua jempol padanya. Dan akhirnya, kami berjalan bersisian menuju apartemen.
"Besok kalau saya sudah balik ke USA, kamu harus lebih hati- hati Deb menghadapi orang seperti tadi itu harus pintar." Katanya di sela perjalanan kami menuju lantai 8.
"Dokter jadi balik besok?"
"Ya, saya sudah pesen tiket pesawat, penerbangannya jam 9 pagi." Jawabnya, langkahku pun terhenti, ada rasa yang hilang saat mendengarnya akan pergi, bersamanya walau baru beberapa hari, membuatku merasakan dilindungi, dan seperti mempunyai seorang kakak yang sesungguhnya, kakak yang selalu ada, sekalipun dia sering melontarkan kata- kata pedas padaku, namun perbuatannya lebih menonjolkan pada perhatian dan ketulusan, itulah kenyataannya aku juga tak mau munafik dengan mengelak semua itu.
"Eh iya dok," Aku berlari menyamai langkah dokter Teddy.
Aku duduk di mini bar yang ada di dapur mini dokter Teddy sambil menikmati ice cream coklatku, sembari menemani dokter Teddy membuat sarapan.
"Debby, masak nasi tu, saya nggak sarapan nasi. Kamu masak aja sendiri, satu setengah cup beras 3 garis kebih air." Terangnya.
"Iya, kalau masak nasi aja sih saya bisa dok!" Jawabku, segera ku habiskan ice cream ku dan melaksanakan perintah dokter Teddy aku memang tak seperti dia yang biasa sarapan hanya dengan sandwich, bisa kelaparan kalau aku nggak makan nasi.
"Tunggu, umur berapa kamu makan belepotan!" Katanya mendekatiku, kalau biasanya di sinetron langsung ngelapin mulut si cewek, beda sama dokter Teddy, dia kasih aku satu pack tissu sambil mengeluarkan ponselnya dan mengarahkannya padaku untuk berkaca dan agar aku bisa membersihkan mulutku dengan tepat. Setelahnya dia melanjutkan membuat sandwich.
Hari ini ternyata dia membuatkan aku omelete sayur. Kami duduk di tempat biasa kami makan, di mini bar dapur, dokter Teddy terlihat lahap dengan sandwich buatannya, aku hanya bisa menatap piringku, melihat omelete sayur itu mengingatkan ku pada Mas Doni. Ya telur omelete adalah menu kesukaannya.
"Kenapa kamu bengong? Ayo dimakan Makan!" Kata dokter Teddy yang duduk di depanku. Aku bergeming.
"Makan, makan aja, nggak usah bayangin yang nggak- nggak gitu. Jangan merusak masa depan kamu dengan mengingat atau mengahdirkan masa lalu, Karena sesungguhnya tidak ada mantan yang terindah, karena yang terindah tidak akan menjadi mantan! Inget itu, move on!" Ocehnya sambil mengambilkan nasi dan omelette di piringku.
__ADS_1
"Ih... Dokter, baru dua hari gimana bisa move on?" Tanyaku, aku heran kenapa dokter Teddy selalu saja bisa membaca pikiranku.
"Ya gimana mau move on kalau apa- apa dihubungkan sama mantan? Udah makan!" Perintahnya lagi.
Di sela makan ku, aku baru ingat tentang pesta senin lusa.
"Eh dokter, boleh tanya?"
"Hemmm"
"Dokter kan pasti sering ke pesta para dokter- dokter gitu?"
"Ya, kenapa memangnya?" Katanya lalu meminum susu.
"Biasanya pakai nya kostum yang gimana?"
"Kostum? Kamu mau ke ulang tahun kakek? Maksud saya profesor Antonius adijaya!"
"Iya, saya kan baru terjun di bidang kesehatan yang sesungguhnya tu, baru banget malah, jadi saya nggak mau salah kostum atau diketawain banyak orang nantinya."
"Semua tergantung tema, lagi pula mana sama USA sama Indonesia Debb?"
"Oh iya lupa dok!"
"Pake aja yang sopan, toh profesor nggak mungkin bikin tema yang aneh- aneh, cukup baju pesta yang sopan."
"Kamu, shift pagi kan? mau berangkat bareng nggak?" Tanyanya.
"Nggak dokter duluan aja!" Jawabku cepat, aku tak mengerti kenapa dia begitu santainya dalam menciptakan rumor?
"Kalau gitu saya berangkat duluan. Kamu jangan lupa kunci pintu kalau akan perg nanti!"
"Assalamualaikum, jangan lupa habiskan makananmu!"
"Waalaikumsalam dokter".
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π