Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Kencan Buta Pertama


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 130


"Apaan sih!" sentakku, Segera ku tarik dan ku lepaskan tanganku darinya. Rasanya sangat malu saat dia tau tanganku mencerminkan perasaanku.


Lift dibuka, dia membawaku ke rooftop hotel. Aku terperangah saat melihat sebuah meja yang sudah tertata dengan rapi dan hiasan bunga- bunga di sepanjang jalan kami menuju ke meja tersebut.


"Apa ini?" Tanyaku, ku hentikan langkahku sejenak.


"Udah, ikut aja." Jawabnya meraih pundakku dan mengajakku berjalan dalam dekapannya menuju meja bundar yang sudah tersusun makanan dan minuman di atasnya.


"Duduk." Jawabnya seraya menarik kursi untukku, aku duduk dan dia pun duduk di kursi yang ada di depanku.


Kami bergeming untuk beberapa saat. Rasanya seperti melakukan kencan buta untuk pertama kalinya.


"Kenapa pulang nggak bilang?". Tanyaku mencairkan suasana

__ADS_1


"Bukannya kamu sedang marah pada saya? Dan tidak mau menjawab saya?" Jawabnya tersenyum, senyum yang sudah lama sekali aku rindukan itu akhirnya aku bisa melihatnya kembali.


"Apa sekarang masih marah?" Sambungya seraya memegang tanganku yang saat ini berada di atas meja. Ku gelengkan kepalaku samar, jika dibilang marah, tentu aku masih marah dan kecewa. Tapi ya sudah, toh mbak Lidia sekarang sudah menikah.


Lagi- lagi dia tersenyum manis padaku, semakin membuatku tak mampu menatapnya.


"Mau sampe kapan gengsi? Dan bersikap seolah saya hanya dokter kamu?" Celetuknya yang beranjak dari tempat duduknya.


"M_makksudnya?" Tanyaku terbata.


"Kamu tau sendiri jawabannya, saya suami dan kamu istri. Kenapa harus memakai nama orang lain jika hanya untuk menginginkan kepulangan suamimu?"


Aku beranjak dari tempat dudukku, melihat ke arah dia yang saat ini memunggungiku.


"Sejak kapan dokter tau kalau Lidia..."


"Kalau Lidia itu kamu Debby? Lidia adalah istriku?" Selanya berbalik dan kembali berjalan ke arahku.

__ADS_1


"Sejak beberapa jam setelah kamu sah menjadi istriku." Jawabnya yang membuatku semakin menundukan kepalaku dan tak bisa sama sekali menatapnya.


"Maaf... Jadi yang dokter pikirkan itu..."


"Kamu... Kamu yang selalu ada di pikiran saya." Jawabnya seraya membentangkan tangannya.


Aku mendongak, Ku hampiri dan ku peluk erat suamiku, rasanya aku sudah tidak perlu lagi pura- para tidak merindukannya sekarang.


"Kenapa satu bulan terasa lama sekali?" Keluhku dalam dekapannya, menahan tangis, tangis kebahagiaan karena yang ku tunggu-tunggu akhirnya datang. Ku luapkan semua emosi ku dalam dekapan tangan yang kokoh itu.


"Udah, nggak usah nangis lagi. Kenapa nangis? Saya juga sangat... Merindukan kamu Debby, sangat." Jawabnya mengusap punggungku lembut, membuatku semakin tersedu.


Makan malam romantis kami akhirnya berakhir dengan dia menyematkan sebuah cincin di jari manisku cincin yang bertuliskan D&T. Seperti Rancana kami, hari ini aku akan menginap di hotel. Aku tak mau menyia- nyiakan waktu yang hanya sedikit, karena suamiku bilang akan kembali hari Senin dini hari, setidaknya aku masih punya waktu seharian bersamanya itu sudah lebih dari cukup.


Dia memberikan kemeja panjang warna putihnya padaku karena aku tidak membawa baju ganti, hari ini sangat mendadak dan berjalan begitu cepat sehingga aku tidak sempat menyiapkan semuanya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2