
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 109
"Jangan membantah Teddy! Kalau kamu tidak ingin kehilangan Debby untuk selamanya!" Sambung Papa dengan nada tingginya.
POV Debby
Sudah hampir satu jam Bunda dan dokter Teddy meninggalkanku bersama Teman-temanku. Alex dan Sinta lebih memilih untuk duduk di sofa bermain gawainya, sepertinya mereka sama bosannya sepertiku.
"Debby, kamu mau makan apa? Mbak ambilin!" Tawar Mbak Lidia yang sedang duduk di kursi dekat ranjang ku.
"Nggak mbak, aku masih kenyang mbak. Bunda kemana ya mbak? Kok lama banget?" Tanyaku pada Mbak Lidia.
"Mungkin lagi nanya soal keadaan kamu Deb sama dokter Teddy, kalau ngantuk tidur aja Deb. Mbak jagain kamu sampe Bunda datang." Jawab mbak Lidia. Aku bergeming.
"Kamu nanyain Bunda apa dokter Teddy sih?" Sambung mbak Lidia yang mulai mencoba untuk menggodaku.
"Mbak, jangan bahas itu, malu nanti kalau orangnya denger." Jawabku.
"Bukannya dulu kamu sendiri yang nungguin Deb? Kenapa giliran kamu ditungguin olehnya malah sok jual mahal gitu?" Ceplos mbak Lidia.
__ADS_1
"Itu kan dulu, sekarang jangan suka berharap lagilah."
"Mbak, kemarin mbak Linda dan mas Doni datang kesini. Memintaku dan membujukku untuk kembali pada Mas Doni." Sambungku.
"Apa?" Teriak Mbak Lidia, Sinta dan Alex sontak terkejut, tampak menoleh ke arah kami.
"Jangan keras- keras dong mbak." Bisikku.
"Sorry lex, udah lanjutin aja lagi mainnya!" Kata Mbak Lidia pada Alex, Alex pun kembali fokus dengan gawainya.
"Terus kamu jawab apa Deb? Jangan sampe kamu buat kecewa mbak ya Deb!"
"Nggak, aku nggak mau kok mbak, Kayak aku nggak laku aja."
"Becanda Deb."
Tak berselang lama pintu dibuka, Bunda datang dari balik pintu.
"Maaf ya anak- anak, Bunda lama. jadi merepotkan kalian." Kata Bunda setelah masuk ke dalam ruangan ku.
"Nggak Papa kok Bun, kami seneng kok bisa jagain Debby." Jawab Sinta.
__ADS_1
"Debby tidur dulu ya sayang." Kata Bunda, aku mengerutkan dahi ku, sepertinya Bunda sedang mengusir teman- temanku secara halus.
"Ya udah Deb, kamu istirahat dulu. Kita mau pulang dulu ya. Bunda kami pamit. Assalamualaikum." Kata Mbak Lidia lalu pergi dan diikuti oleh Alex dan Sinta dibelakangnya.
"Waalaikumsalam" jawab Bunda
"Da...Deb, semoga cepet sembuh ya, besok aku dan yang lain kesini lagi." Pamit Sinta yang melambaikan tangannya kearahku.
"Da..." Balasku seraya melambaikan tanganku juga.
"Debby, ada yang ingin Bunda mau sampaikan." Kata Bunda dengan wajah serius, aku semakin was- was saat menatap wajah serius Bunda. Terlebih saat aku tidak melihat dokter Teddy bersama bunda. Apa kira- kira yang Bunda akan sampaikan padaku?
"Ada apa Bunda? Mana dokter Teddy?" Tanyaku. Bunda segera duduk di kursi sebelahku.
"Dokter Teddy sedang ada urusan, hari ini Bunda yang akan menemanimu." Jawab Bunda.
"Debby, kamu pernah berkata pada Bunda kan, kalau kamu menyerahkan masalah pendamping hidupmu pada Bunda?" Deg perasaanku mulai tak enak.
"Maksud Bunda?"
"Debby, sebelumnya Bunda minta maaf... Sekali sama kamu ndok." Kata- kata Bunda semakin membuatku semakin tak tenang.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π