Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
pelakor


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 123


"nunggu perkembangan pasien sayang... Sabar ya, begitu ada waktu pasti pulang." Jawabnya dengan lembut.


"Bukankah kita butuh bulan madu?" Sambungnya yang berbisik padaku.


"Dasar piktor!"


"Bukan piktor, tapi itu normal Debby."


Obrolan kami pun berakhir saat Bunda membuka pintu.


"Debby, ada yang kirim bunga,"


"Siapa Bun?"


"Nggak ada namanya Deb. Cuma ada tulisan 'maaf, semoga lekas pulih ya Debby.' gitu" Jawab Bunda, aku tersenyum, aku yakin itu adalah kejutan dari suamiku karena hari ini aku sudah pulang. Ku ambil dan ku siapkan vas untuk menatanya dan menaruhnya di dalam kamarku.

__ADS_1


POV Teddy


Tiga Minggu berlalu, rasa rindu ku pada Debby semakin menggebu. Beberapa hari setelah kembali dari Jakarta, aku sudah mengajukan surat pengunduran diri, namun tak segampang itu, aku harus menunggu sampai pihak rumah sakit mendapatkan pengganti ku karena pasienku masih banyak yang membutuhkan penanganan dariku.


Sudah satu Minggu Debby bekerja,


Ku buka gawaiku, hari ini yang ku tau Debby dapat shift malam jadi di jam segini pasti masih terjaga. Belum juga sempat membuka pesan, pesan diri Lidia sudah masuk di ponselku. Beberapa hari yang lalu, Debby menggunakan nama suster Lidia melalui instagram meminta nomor ponselku, ku berikan dan sekarang dia mengirimiku sebuah pesan dengan nomor baru yang sudah dia kirim sebelumnya dengan nama Lidia. Benar- benar totalitas istriku, gengsinya lebih tinggi dari yang ku kira.


Lidia [Selamat sore dokter.]


Teddy [sore suster]


"Sudah rindu berat rupanya kamu Deb pada suamimu ini?" kataku di sela tawaku.


Teddy [Aduh suster, gimana mungkin melihat suster di pelaminan, bisa sakit hati dong saya.] Goadaku pada Debby.


Lidia [Apa? Apa maksudnya dokter?]


Teddy [hemmm, masak nggak tau maksudnya?]

__ADS_1


Lidia [Katakan apa maksudnya?] Jawabnya yang sudah mulai tersulut emosi.


Tedsy [lupakan suster, suster lagi ngapain bukannya Jakarta sudah tengah malam ini?]


Lidia [nggak bisa tidur dokter, dokter juga jam segini ngapain main ponsel]


Teddy [Memikirkanmu, suster lupa kalau di USA ini masih sore?]


Lidia [apa? Jangan kurang ajar dokter, apa dokter lupa kalau calon suami saya adalah perwira. Mau ditembak mati dokter?] "Hahaha... " Aku semakin terkekeh membaca balasan dari Debby yang menurutku sekarang dia sedang marah besar. Ku tutup obrolan pesanku dengan suster Lidia gadungan itu, dan menghubungi Debby, istriku yang aku tau dia pasti sedang merajuk karena ulahku.


POV Debby


Ku isi waktu luang di tengah malam ku untuk menghubungi dokter cintaku, eh maksudnya suamiku namun dengan nomor yang baru ku beli beberapa hari yang lalu. Dia selalu melarangku menggunakan waktu luang tengah malam ku untuk bermain ponsel, lebih baik menggunakan waktu untuk tidur sejenak katanya. Jadi, aku memilih untuk memakai nomor baru dengan nama mbak Lidia lagi. Siapa tau dengan ini akhir bulan ia bisa menyempatkan diri untuk pulang dan datang di pernikahan mbak Lidia.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2