
Aku bukan Rahim Cadangan
Part 146
Kata- kata yang tak jauh beda dari yang ku dengar di sinetron- sinetron. Arisan, dan rekan bisnis. Kaum sosialita akhirnya bertemu di Panti ini, membuatku semakin ingin beranjak dari tempatku. Aku merasa tak ada kecocokan dengan kaum- kamu seperti mereka. Beruntung sekali aku menikah dengan dokter biasa kali ini, tak perlu harus banyak gaya, cukup bekerja dan menemaninya diwaktu senggang, tak perlu repot- repot mengikuti tren atau perkumpulan hanya demi popularitas.
"Kalau gitu Debby mau permisi dulu, mau berangkat kerja" Kataku yang beranjak dari dudukku.
"Tunggu Deb, selain ada perlu dengan bunda Mira, kami ada perlu dengan Kamu juga Deb" Kata Papa mas Doni, menahan kepergianku.
Deg...
Apa lagi yang mau mereka lakukan padaku. Seolah tak ada bosan- bosannya mengganggu hidupku.
"Duduklah Deb!" Pinta Mama mas Doni, ku lirik Bunda, dia mengangguk, tandanya aku harus mengikuti permintaan tamu yang tak diundang ini.
"Debby, kamu berhijab sekarang nak, kamu terlihat cantik sekali." Puji Mama Mas Doni setelah aku duduk kembali.
"Terimakasih Tante, langsung saja ke pokok pembicaraan tante, saya tidak mempunyai banyak waktu. Tante tau kan saya hanya karyawan biasa yang harus kerja tepat waktu." Sindirku.
__ADS_1
"Apa saya perlu pergi dari sini?" Tanya Tante Widia, mungkin saat ini dia melihat aura kemarahanku sehingga merasa tidak nyaman berada di tengah kami.
"Nggak usah Tante, Tante donatur kami, Tante lebih berhak berada di sini." Jawabku masih dengan sindiranku.
"Baiklah Debby, langsung saja,maksud kedatangan Om dan Tante kesini ingin meminta maaf sama kamu dan bunda Mira atas tindakan Linda yang menghentikan donasi kami, tanpa sepengetahuan kami dan Doni. Kami benar- benar baru mengetahuinya." Jelasnya.
"Satu tahun? Dan kalian baru mengetahuinya? Benar- benar lihai menantu kesayangan anda itu mempermainkan orang lain. Dan ternyata bukan hanya saya saja yang dia permainkan." Sindirku.
"Debby! Yang sopan, Jangan gitu." Sentak Bunda
"Biarin aja Bun, biar nggak seenaknya mempermainkan orang miskin."
"Sayang?" Tanyaku mengiringkan senyumku.
Papa mas Doni menghela napas panjangnya " Maaf Debby, kami benar- benar malu, tapi ada hal yang lebih penting lagi yang harus kami sampaikan padamu."
"Silahkan."
"Rujuklah dengan Doni, jadi lah menantu kami lagi. Biarkan kami menebus semua kesalahan kami pada mu."
__ADS_1
"Apa?" Kali ini Tante Widia yang terlihat begitu terkejut, sedangkan aku? Aku sudah terbiasa mendengar itu dari mas Doni dan Mbak Linda, jadi aku lebih kebal.
"Iya Jeng, Nak Debby ini adalah menantu kami, dan kami ingin membawanya kembali kerumah." Kata mama mas Doni dengan penuh percaya diri.
"MANTAN Tante!" Tegasku mengingatkan mereka.
"Tapi, Saya sudah melamar Debby untuk Anak bungsu saya, i_ya kan bunda Mira?" sela Tante Widia yang membuatku lebih terkejut lagi.
"Bunda? Bunda apa- apaan?" Bisikku.
"Sudah, sudah ,sudah... Apa- apaan ini, saya bisa pusing." Keluh bunda yang memegangi kepalanya.
"Tapi bunda, kami benar- benar ingin Debby menjadi menantu kami lagi." Terang papa mas Doni.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1