Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Prov Tedi


__ADS_3

Aku dan dokter Firman masih melakukan pemeriksaan rutin pada pasien yang bermasalah itu, syukurlah, tuntutan yang mereka buat sudah mereka cabut dan keadaan pasien pun sudah mulai berangsur-angsur membaik.


"Tedi, pasien sudah semakin membaik, tinggal menunggu masa pemulihan, apakah kamu benar- benar akan kembali ke USA secepatnya?" Tanya dokter Firman, saat ini kami berjalan menuju ke ruangan ku.


"Ya... begitulah." Jawabku.


"Kapan?"


"Mungkin hari Minggu." Jawabku mantap.


"Tunggu lah sampai saat ulang tahun Direktur digelar dalam beberapa hari lagi." Ujar dokter Firman


"Kakek, ulang tahun? Kenapa saya lupa. Tapi, nggak lah dok, menghadiri ulang tahun kakek, berarti sama saja harus bertemu keluarga besar Adijaya." Jelasku.


"Sebenarnya kamu takut bertemu keluarga besar Adijaya apa takut bertemu sama nona Vannia?" Tanya dokter Firman.


"Stop jangan menghubung- hubungkan saya dengan Vannia, demi Allah sejak memutuskan hubungan denganya, saya sama sekali nggak ada sedikitpun rasa ke Vannia." Jelasku


"Meski akan bertemu setelah sekian lama tidak bertemu? Kamu yakin rasa itu tidak akan muncul kembali?"tanyanya menyelidik.


"Tentu saja."


"Apa nggak sebaiknya latihan dulu?" Tanya dokter Firman yang ku rasa sangat konyol.


"Yang benar saja, saya cuma nggak mau suaminya salah paham padaku."


"Sebutan suami untuk kakakmu terlalu berlebihan Ted!"


"Lalu, saya harus panggil dia apa? Mas Kevin? Itu dulu!" Jawabku.


"Hemmm, terserah kamu ajalah."


Kami menutup perbincangan dan melanjutkan langkah kaki kami menuju ke ruangan masing-masing.


"Maaf dokter, Direktur meminta dokter Tedi dan dokter Firman untuk ke ruangannya." Kata seorang perawat yang tiba- tiba menghampiriku dan dokter Firman.

__ADS_1


"O... Iya terimakasih." Jawabku


"Kira- kira ada apa ya dok?" Tanya ku pada dokter Firman.


"Udah, mending kita langsung kesana aja." Kata dokter Firman padaku, kami pun segera ke ruangan Direktur.


"Masuk" Kata kakek setelah pintu ku ketuk. Kami pun segera masuk.


"Siang Pak Direktur" Sapaku seraya tersenyum padanya.


"Direktur, Direktur, aku kakekmu kalau tidak ada orang Tedi!" Jelas Kakek dengan suaranya yang agak sedikit serak.


"Duduklah kalian." Perintahnya, kami pun segera duduk di kursi yang ada di depan meja kakek.


"Bagaimana perkembangan pasien koma itu, apa sudah ada kemajuan atau sudah membaik?" Tanya kakek


"Sudah pak, tinggal menunggu pemulihan saja, dan tuntutan yang diajukan juga sudah dicabut. Saya akui, cucu bapak memang sangat luar biasa dalam menangani semuanya." Jawab Dokter Firman memujiku sambil melirikku, aku pun tersenyum.


"Luar biasa, cari pasangan aja sampaikan saat ini nggak bisa, sampe-sampe istri orang pun di ajak kencan." Celetuk Kakek, seketika senyumku memudar berubah jadi masam, dan dokter Firman saat ini terlihat menahan tawanya. Aku tau dia sedang menertawai ku saat ini.


"Maksud kakek apa? Istri orang yang mana?" Tanyaku tak terima dengan tuduhan kakek.


"Aku nggak peduli sama omongan mereka, Karena semua itu hanyalah kesalah pahaman, aku cuma makan sate itu saja tidak lebih, aku ajak dia karena hanya Debbylah yang ku kenal disini." Jelasku.


"Kan ada dokter Firman." Selah kakek.


"Dokter Firman saat itu udah pulang!" Jawabku malas.


"Terserah kamu lah, yang pasti, kakek nggak mau kalau kamu sampai jadi perusak rumah tangga orang."


"Astaga kakek, sebentar lagi juga aku akan pulang ke USA, kakek nggak usah khawatir tentang persoalan itu, Lagi pula itu hanyalah salah paham."


"Ke USA setelah acara ulang tahun kakek selesai." Perintahnya kemudian.


"Tedi Nggak janji." Jawabku

__ADS_1


"Dasar anak tak tau diri." Kata kakek yang mulai emosi.


"Ah, udahlah kek, aku mau kembali kerja dulu." Jawabku seraya beranjak, lalu pergi meninggalkan mereka di ruangan itu.


Aku kembali ke ruangan ku, ku pesan tiket ke USA secepatnya, aku tak ingin terus berada di Indonesia, terlalu banyak masalah yang harus ku hadapi. Lalu aku teringat janjiku pada Debby yang akan menemaninya mencari tempat kos-kosan, aku pun segera bergegas ke UGD untuk mencarinya.


"Maaf, Apa Debby udah masuk?" Tanya ku pada salah satu perawat yang bertugas, kalau aku tidak salah dia adalan sinta salah satu teman dekat Debby yang juga bertugas di UGD, ia tak menjawab, hanya menatapku dengan penuh curiga, aku tau apa maksud dari tatapannya itu, pasti mereka mengira aku dan Debby ada hubungan sepesial seperti kabar burung yang sudah beredar.


"Halo mbak, kenapa mikirnya berat gitu? Saya cuma tanya apakah Debby ada atau tidak?" Tanya ku lagi.


"K_keluar dok!" Jawabnya terbata.


"Tinggal jawab gitu aja lama banget sih, kalau kamu terbiasa mikirnya lama kayak gini, jika ada pasien darurat bisa mati karena terlambat mendapatkan pertolongan, bukan karena terlambat di bawa ke rumah sakit, kamu tau kenapa? Karena yang ngasih pertolongan kebanyakan mikir. Paham?" Kataku pada Hanin lalu aku kembali ke ruangan ku meninggalkannya yang masih mematung.


Prov Debby


Akhirnya aku putuskan untuk menemui Mas Doni, saat ku buka dompetku untuk membayar makan siang di kantin tadi tak sengaja aku melihat kartu kredit pemberian Mas Doni masih tersimpan rapi di sana, lalu aku berniat untuk mengembalikannya. Aku datang ke tempat yang sudah Mas Doni beritahukan. Ku lihat dia masih menunggu ku dan aku segera menghampirinya.


"Selamat siang, tuan Doni." Sapaku


"Debby, akhirnya kamu datang, duduklah." Katanya seraya tersenyum padaku, senyum yang biasanya terlihat manis dimataku sekarang justru terlihat sangat menyebalkan dan memuakkan.


"Aku kesini, bukan untuk memenuhi permintaanmu, aku hanya ingin mengembalikan kartu kredit yang pernah kamu berikan kepadaku, isinya masih utuh, tak berkurang sepeserpun" Kataku seraya menaruh karti kredit black card di atas meja.


"Apa yang sudah aku berikan, tak akan aku ambil lagi Debby." Jawabnya.


"Aku hubungi Bunda tadi pagi, dia bilang kamu nggak ada di panti, Kemana saja kamu semalam? Kamu nggak pulang ke panti kan? lalu kamu Kemana Deb?" Tanyanya penuh intimidasi.


"Apa urusannya denganmu? Jangan pernah mengusik Bunda, Jangan pernah menemui Bunda, atau menghubungi bunda lagi, aku tidak mau bunda tau tentang hubungan kita dari mulut kamu mas!" Jawabku.


"Debby, aku sungguh- sungguh minta maaf, maafkan aku. Sesungguhnya aku tak ingin melepaskan dirimu Debby, semalam aku terpaksa melakukanya Deb."


"Terpaksa katamu?"


"Den, ambil kartu kredit ini, dan tetaplah bersamaku."Kata mas Doni dengan tanpa rasa malu.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2