
Aku bukan rahim cadangan
Part 179
Akhirnya aku punsampai di Rumah sakit, Aku berlari menuju UGD setelah mengganti bajuku dengan baju dinas ku. Teman satu shift ku sudah lengkap dan terlihat sangat sibuk, sepertinya baru saja ada kecelakaan mini bus. Begitu banyak pasien dari luka ringan hingga berat, teriakan dan tangisan dari keluarga pasien pun memenuhi ruangan ini. Benar- benar merasa tidak enak, saat kondisi seperti ini aku malah datang terlambat.
"Kenapa baru datang?" Tanya Sinta yang terlihat sangat begitu sibuk.
"Maaf " kataku pada teman- temanku, segera ku bantu mereka. Sepertinya kami harus bekerja keras malam ini.
Kesibukan kami baru mereda saat adzan subuh berkumandang.
"Akhirnya..." Kata Sintq menghempaskan tubuhnya di kursi sofa tempat dimana kami biasa melepas penat setelah aktifitas.
"Tidurlah dulu Sin nanti kita gantian." Kataku yang ikut duduk di sofa sebelah Sinta.
"Kamu yakin? kamu tadi juga kerja keras banget lo Deb, mumpung kosong pasien kita tidur sama- sama aja Deb, toh nanti mereka akan bangunin kalau ada pasien datang." Usul Sinta. Aku bergeming.
__ADS_1
"Lihat tu Alex, sepertinya baterainya masih sangat full." Ku lihat Alex yang masih sibuk dengan beberapa kertas yang ada di atas meja.
"Ya... Ya udah, tidur..." Kataku.
"Selamat malam Debby."Kata Sinta yang meletakkan kepalanya diatas meja lalu memejamkan mata, tak berselang lama dengkuran halus pun terdengar, sepertinya Sinta benar- benar lelah. "sin... sin... Kasihan sekali kamu." Gumamku.
Ku ikuti kata Sinta, karena aku juga sudah merasa lelah, punggungku rasanya sangat kaku, ku regangkan otot-ototku lalu ku letakkan kepalaku di atas meja mengikuti Sinta.
Mata belum terpejam pasien kembali datang dan Alex melambaikan tangannya padaku.
"Ya..." Kataku bangun dan mendekati Alex.
"Deb, sini!" Seru Alex.
"Ya... Ya" seruan Alex membuyarkan pikiranku, ku Hela nafas panjang dan segera berlari menghampirinya. Aku harus lebih profesional dalam hal pekerjaan
Ku lihat dan ku periksa keadaannya "Debby." Lirih Mas Doni sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Jangan banyak bicara dulu." Perintahku.
"Kenapa Mas Doni?" Tanyaku pada Mbak Linda, pertanyaan yang biasa di lakukan oleh para perawat saat pasien masuk pertama kali, yaitu menanyakan keluhan atau gejala yang dirasakan pasien.
"Muntah-muntah Deb, dia juga mengeluh sakit di perutnya." Terang mbak Linda.
"Apa makannya tidak teratur?" Tanyaku di sela pemeriksaan.
"Dia jarang makan sejak kepergianmu." Jelas mbak Linda, jawaban yang mbak Linda berikan, sempat membuat tanganku terhenti sejenak.
Segera ku sadarkan diriku, karena saat ini tak seharusnya membahas hal pribadi apalagi perasaan.
"Cukup jawab teratur atau tidak saja, saya tidak menanyakan penyebabnya." Terangku, mbak Linda dan kedua orang tua Mas Doni terlihat saling menatap.
"Sakit Mas?" Tanyaku menekan beberapa titik di perutnya, dia pun terlihat meringis. Ku lakukan semua sesuai prosedur dan anjuran dokter UGD.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..