Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Mantan


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 166


"Benar, kamu pernah mencintainya dulu? Dan sekarang?"


"Cinta? Saya nggak tau cinta itu seperti apa Debby, yang saya tau, apa yang saya rasakan pada mereka itu berbeda dengan apa yang saya rasakan sama kamu."


"Mereka? Apa maksudnya mereka? Apa ada orang lain selain Laura?" Tanyaku menyelidik.


Hening,


"Vannia, Vannia adalah mantan kekasih saya Debby saat saya masih menetap di Jakarta."


Deg


Ucapnya sukses membuat mata dan mulutku terbuka dengan lebar- lebar.


"Jangan kaget gitu, udah waktunya kamu tau daripada ntar ngambek lagi." Jelasnya.


"Vannia." Gumamku, "Apa waktu di pesta itu yang ingin kamu campakkan adalah Vannia?"


"Bukan, bukan mencampakkan, tapi memberi pengertian kalau saya sudah mencintai orang lain, dan orang lain itu adalah kamu." Jawabnya mencubit lembut hidung mancung ku.

__ADS_1


"Pengertian? Apa itu berarti dia masih... Bukannya dia sudah menikah." Sejujurnya aku masih bingung dengan jalan cerita Vannia dan dirinya.


"Bukannya kamu bilang kalau cinta tak mengenal logika sayang..."


"Apa itu maksudnya saat ini sainganku Vannia? Idolaku sendiri? Menyedihkan..." Ucapku memelas.


"Kenapa harus bersaing kalau kamu adalah satu- satunya? Tanyanya sontak membuat pipiku merah merona.


"Jangan lupa, dia sudah bersuami, suaminya adalah cucu dari bosku, dan Anak dari donatur panti ku." Ucapku mengingatkannya.


"Iya... Saya tau." Jawabnya tersenyum, senyum yang tak bisa ku artikan lagi.


"Dan sebentar lagi aku bakalan dipecat kalau Profesor dan Pak Atmajaya tau kamu dan Vannia..."


"Sssttt... Saya dan Vannia hanya mantan, sama seperti kamu dan Doni. Jadi lupakan mantan pikirkan masa depan." Katanya merapikan rambut ku yang sedikit mengganggu, menatapku tajam dan mendekatiku. "Mau apa?" Tanyaku menjauhkan wajahku darinya.


"Dokter Firman?"


"Sudah aman."


"Obat tidur lagi?"


"Anggap saja seperti itu."

__ADS_1


🌸🌸🌸


empat hari terasa begitu sangat cepat, tak terasa aku dan dokter Firman sudah ada di Bandara dan harus segera melakukan penerbangan.


"Saya ke toilet dulu," Pamit dokter Firman padaku dan Mas Aska yang saat ini duduk di sebelahku, dia dengan setia menunggu kami sampai pesawat kami berangkat walaupun sudah begitu malam.


"Apartemen akan terasa sepi tanpamu Debby"


"Jangan seperti itu, aku jadi merasa tak tega meninggalkanmu." Jawabku membelai wajahnya. Seharusnya aku tak meninggalkan suamiku, tempatku adalah bersamanya. Tapi aku justru membiarkannya hidup sendiri, membayangkan betapa sulit dan repotnya dia saat harus melakukan semuanya sendiri adalah yang paling mendominasi hatiku saat ini.


"Do'akan saja ya sayang, dokter penggantiku akan segera di temukan, agar kita bisa segera bersama- sama kembali untuk selamanya"


"Aamiin" Jawabku.


"Apa kamu sangat takut?"


"Ya, saya takut jika saya tidak bisa kembali lagi." Ucapnya penuh beban, suamiku yang begitu kuat saat ini sudah rapuh, rapuh karena ku. Ku rengkuh tubuh kokoh itu dan memeluknya dengan begitu erat.


"Kalau kamu tak bisa kembali, aku yang akan menyusulmu kesini dan tinggal bersamamu." Bisikku. Lalu ku lepas pelukannya perlahan, akan tidak bagus jika dokter firman melihatnya.


Dia tersenyum namun kegamangan masih terlihat jelas di wajahnya. "Begitukah?" Tanyanya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2