
Aku bukan Rahim Cadangan
Part 164
"Teddy, Debby bener, mana Debby tau, Debby baru sekali kesini." Kata dokter Firman membelaku ia tak menjawab namun raut wajahnya menunjukkan kekesalan.
"Ya sudah, biar saya sendiri yang tentukan" Putus Mas Aska.
Akhirnya, pilihan jatuh pada restoran yang menyediakan menu makanan seafood.
Mas Aska segera memarkir mobilnya dan membawa kami masuk kedalam restoran yang cukup besar itu.
Kami duduk di meja bundar sehingga mau menjauhi Mas Aska pun tidak bisa, aku tetap berada di antara dua dokter itu.
Buku menu diberikan dan aku mulai memilih makanan, kedua laki- laki itu begitu cepat menentukan pilihan, sedangkan aku? jujur dari nama- nama makanan yang disediakan aku sama sekali tidak paham makanan apa dan terbuat dari apa. Tapi aku tak mau terlihat memalukan dihadapan suamiku itu. Ku pilih satu menu dan ku tunjukkan pada pelayan "This one!" (Yang ini) kataku sambil ku tunjuk gambar makanan yang kelihatannya menggoda selera ku. Hanya itu yang bisa ku katakan, bahasa Inggris dengan kosa kata minimalis. Ku harap mereka mengerti.
__ADS_1
"Jangan, jangan yang itu, itu ada udangnya. Kamu alergi udang kan. Makan salmon aja ya." Kata Mas Aska mencegahku. Benar- benar memalukan, alih- alih ingin mencegah malu malah mempermalukan diri sendiri dengan memilih menu yang jelas- jelas seharusnya ku hindari. Sempurna, dengan seperti ini mereka jadi tau kalau aku tidak mengerti dengan makanan- makanan itu.
"Saya emang lagi pengen makan udang kok dok." Jawabku dengan percaya diri menutupi rasa maluku.
"Apa? Jangan keras kepala. Kalau kamu sakit saya juga yang bingung nanti." Nadanya yang mulai meninggi menunjukkan bahwa dia mulai tersulut emosi dengan tingkahku.
"Dokter Teddy benar Debby, kalau kamu alergi udang mending jangan makan udang. Yang bawa kamu kesini kan saya. Nanti kalau kamu sakit saya juga yang disalahkan." Jelas dokter Firman, dokter Firman memang selalu lebih bijaksana dalam menyampaikan sesuatu, itulah sebabnya beliau menjadi orang kepercayaan profesor Atmajaya, berbeda dengan suamiku yang selalu tegas dan tidak bisa dibantah.
"Baiklah kalau dokter melarang." Jawabku.
Tak berselang lama makanan yang kmi pesan pun datang, hidangan yang cukup menggoda diletakkan di depanku. Kami pun menikmati makan malam kami bersama.
"Apa kamu suka Debby?" Tanya Mas Aska di sela makan malam kami.
"Hemmm," jawabku malas.
__ADS_1
"Apa kamu mau nambah Deb?" Pertanyaan yang memalukan, aku tau selera makan ku banyak tapi tak perlu menegaskan itu di depan dokter Firman.
"Saya memang belum pernah makan salmon karena mahal untuk ukuran anak panti, tapi saya nggak ingin membuat malu diri sendiri."
"Uhuk...uhuk" Jawabanku membuat Mas Aska lagi- lagi harus mengambil air karena tersedak.
"Pelan- pelan Ted," Kata dokter Firman menahan tawa.
"Debby, bukannya kamu saya sudah transfer uang bulanan? Kenapa masih bicara seolah- olah serba kekurangan gitu" Bisiknya padaku.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1