Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Ijab Kabul


__ADS_3

Aku bukan Rahim Cadangan


Part 116


Aku tau benar apa maksud Debby, waktu dia menunjukan fotoku bersama wanita- wanita itu di bioskop pada saat kami nonton bareng, ia tampak begitu marah tapi tidak mau dibilang cemburu.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Pagi pun tiba, setelah perbincangan ku dengan Mama yang membahas pernikahan ku. Akhirnya Mama dan aku memutuskan untuk melaksanakan ijab kabul di hotel tempat ku menginap.


Pagi- pagi sekali Mama sudah sampai di hotel dengan membawa perlengkapan yang akan ku kenakan.


Tepat pukul 09. 00 pagi, waktu dimana aku harus mengucap ijab kabul itu akhirnya tiba. Ada sedikit rasa deg degan sempat aku rasakan. Mungkin rasa itu akan semakin besar jika Debby berada disini. Tapi Debby lebih memilih untuk dilakukan ijab kabul tanpa dirinya. Dan yang bisa ku lakukan hanyalah menuruti semua keinginan Debby.


"Ayo Ted" seru Mama. Ku ambil peci dan ku pakai jas yang sudah Mama siapkan. Di sofa sudah ada Papa, kakek, Bunda Mira dan juga pak penghulu.

__ADS_1


Mama membawaku ke tengah- tengah mereka. Pernikahan ku dilakukan secara tertutup dan hanya di hadiri oleh beberapa orang saksi. Debby masih mau merahasiakan pernikahan kami. Aku pun tak mempermasalahkannya. Mungkin Debby masih belum sepenuhnya yakin dan percaya padaku sehingga dia enggan mempublikasikannya. Aku tak mau banyak bertanya pada Debby, biarlah ijab kabul ini terjadi terlebih dulu, dan setelahnya baru aku membahas ini dengan Debby.


Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit ijab kabul itu terlaksana dan berjalan dengan lancar. Hatiku menghangat dan begitu lega saat penghulu dan semua yang hadir mengucapkan kata SAH.


Ku buka jas dan peci setelah penghulu pamit dari hotel.


"Loh loh kamu ngapain Ted?" Tanya Mama saat aku sudah siap memakai sepatuku.


"Ke tempat Debby lah Ma, Mama keterlaluan. Mama tau kan pesawat Teddy tinggal beberapa jam lagi? Dan Mama malah menahan ku untuk bertemu Debby sejak tadi malam!" Kataku dengan kesalnya, Aku memang sudah menahan kekesalan ku pada Mama sejak tadi malam. Mendengar jawabanku semua justru terkekeh, entah apa yang mereka pikirkan.


Aku pergi ke Rumah sakit bersama sopir Mama, aku belum sempat memesan taksi.


"Dokter..." Sapa perawat dan karyawan yang berpapasan denganku saat aku menuju ke ruangan Debby. Aku hanya membalasnya dengan senyum sekilas.


Saat aku sampai di depan ruangan Debby, kedua laki- laki suruhan Mama masih ada di sana.

__ADS_1


"Kalian... Minggir!"


"Silahkan masuk dokter, kan sudah Sah." Katanya dengan senyum menggodaku, aku menghela napas kasar.


"Bismillah..." Ku pegang handle pintu lalu membukanya perlahan dan aku masuk. Ku lihat Debby yang sedang duduk termangu menatap jendela yang ada di sampingnya.


"Debby..." Panggilku, ia menoleh. Ku langkahkan kaki ku untuk mendekati Debby.


"Dokter? Sudahโ€ฆ? Kenapa wajah dokter seperti itu? Apa terjadi sesuatu? Semua berjalan dengan lancar kan?" sederet pertanya Debby lontarkan padaku seraya menatapku. Aku tak menjawab, ku bungkuk kan sedikit badanku, mensejajarkan dengan Debby dan ku bawa Debby kedalam pelukanku.


"Terimakasih Debby, sudah bersedia menjadi istri saya" Bisikku tepat di telinganya.


๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kata๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2