Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Memilih Kata


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 238


Ku putuskan untuk segera menyantam makanan padang dengan lauk yang lumayan lengkap itu dari pada aku harus melayani perdebatan yang tak akan pernah menemui titik terang sebelum kami sampai di rumah sakit, seperti rumah tangga pada umumnya masalah kami juga akan cepat selesai jika sudah menemui ranjang.


"Lapar Deb? Enak?" tanyanya


Aku mengangguk lalu menelan makanan yang masih tersisah di dalam mulut. "Sini, cobain deh, aaak.." seru ku seraya menyuapinya, namun dia menolak.


"Udah buat kamu aja"


"Tadi bilangnya nggak mau makan, sekarang sangat lahap, apa segitu pengenya kamu ingin ketemu sama Doni, sampe-sampe harus menahan lapar? Bukanya kalau sama saya kamu selalu mengutamakan makan." sindirnya lagi. Begitula kalau dia sedang marah pada ku, aku hafal betul dengan sifatnya yang selalu menghujaniku dengan sindiran-sindiranya yang sangat tajam bahkan tak jarang telinga ku sampai merasa panas mendengarnya. Namun aku tak mempermasalahkan itu, bukanya lebih baik menyindir dari pada harus ringan tangan dan akan menimbulkan luka fisik sekaligus mental saat marah.


"Aldo mas, bukan Doni, udah dong jangan marah-marah gitu turus." lembut ku


Mencoba untuk sabar dan selalu lembut menghadapi kemarahan. Itulah yang saat ini aku lakukan, pelajaran yang juga ku peroleh darinya saat menghadapi kemarahan ku.


Ia tak menjawabnya.


Setelah beberapa saat sampailah kami di depan lobby rumah sakit. Ia turun mendahuluiku yang masih sibuk dengan sampah kotak makan. Lalu ia memberikan konci mobil kepada security untuk diparkir. Dan Security juga lah yang membukakan pintu untuk ku.


"Selamat siang bu." sapa security itu.


"Panggil mbak Debby seperti biasa saja nggak usa panggil-panggil bu gitu." perintah ku


"Mana berani."

__ADS_1


"saya juga pegawai kan disini." kataku meninggalkanya.


Ku ikuti langkah panjang suami ku setelah ku buang bekas kotak makan pada tempatnya. Ku ikuti dengan sedikit berlari kecil untuk menyamai langkahnya.


Ku raih tanganya berniat menggandengnya dan berjalan bersisihan. "Nggak usah pegang-pegang ini rumah sakit, masih ingat kata-kata saya kan."


Ku lepas tangan ku dari tanganya. "Iya, iya di rumah sakit kamu atasan dan aku karyawan!" jawabku kemudian


"Bagus" katanya terus meninggalkan ku.


"Teddy..." teriak dokter Firman dari belakang kami, kami menoleh lalu menghentikan langkah untuk sejenak.


Dokter Firman menghampiri kami, aku memilih untuk maju beberapa langkah dan berdiri di belakang mas Aska.


"Kenapa lari-lari?"


"Saya nggak memecatnya tapi dia yang mengundurkan diri." jawab mas Aska


"Kenapa nggak mencegah suster Indah itu sudah lama sekali bekerja disini dan kerjanya juga bagus kok."


"Yah, kalau dia maunya gitu kenapa saya harus cegah dia? Toh kan masih banyak juga yang mau bekerja disini."


Tiba-tiba handpone ku berbunyi, dan berhasil menyelah pembicaraan mereka. Panggilan masuk dari bunda, ku tatap wajah mas Aska yang juga menatap wajahku seraya melirik ponsel yang ada di tangan ku.


"Masuk dulu aja, nanti saya menyusul." serunya.


"Apa nggak papa?" tanya ku memastikan dan mencari aman saja.

__ADS_1


"Ya" jawabnya singkat


Aku pun meninggalkan mereka yang masih berdebat masalah pemecatan suster Indah.


Mengubah keputsan mas Aska memanglah bukan perkara mudah, sudah berkali-kali aku membujuknya pun tak ia hiraukan, aku harap dokter Firman bisa mengubah keputusanya untuk melepaskan suster Indah. Bagaimana pun juga suster Indah melakukanya itu karena ketidak tahuanya.


Tibalah aku didepan ruang rawat Aldo, ruang. Yang mas Aska sendiri juga lah yang mengurusnya kemarin. Ku buka pintu yang tak tertutup sempurna, ku lihat mas Doni sedang menemani Aldo tanpa mbak Linda dan Bunda, sepertinya Aldo juga sudah terlihat lebih tenang dibandingkan dengan apa yang mereka kabarkan dalam pesan tadi. "Assalamualaikum" sapaku.


"Walaikumsalam" jawab mas Doni, ku palingkan pandangan ku dari laki-laki yang bukan lagi mahrom ku itu ke arah Aldo.


"Mbak Debby." teriak Aldo dengan wajah sumbringnya.


Ku hampiri lalu ku peluk adik kesayangan ku itu. "Mbak Debby pergi lagi?" tanyanya dalam dekapan ku.


"Nggak sayang, mbak Debby tadi masih ada urusan." Jawabku


"Sama-sama om dokter lag?"


Aku mengangguk, "Oh..." oh itulah jawaban yang diberikan oleh Aldo, jauh berbeda dari apa yang dilakukanya pada mas Aska kemarin.


"Mana om dokter? Katanya harus sama-sama terus biar nggak masuk neraka." ucapnya


Sudah ku duga mas Aska lah yang melakukan hal ini, dia memang selalu lebih pintar dalam memilih kata dan menjelaskan sesuatu pada anak kecil sekali pun dia bukanlah dokter anak-anak.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2