Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Berdiskusi


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 108


"Waalaikumsalam" jawab beberapa orang, aku mendongak setelah ku sadari yang menjawab salam bukan hanya kakek. Dan benar, kakek, Papa, dan Mama sudah duduk di sofa tamu yang ada di ruangan kakek. Pertanyaan yang tak bisa ku temukan jawabannya seolah memenuhi otakku. Ada apa dan kenapa? Sampai kakek dan Papa yang tak pernah akur duduk bersama di tempat ini? Itu pertanyaan yang paling mendominasi saat ini.


"Silahkan duduk Bunda." Seru Mama, Bunda segera mengikutinya.


"Duduk Ted." Sekarang giliran kakek yang menyuruhku duduk bersama mereka. Aku pun dengan langkah ragu menuju ke sofa dan duduk di samping kakekku. Saat ini kami duduk berlima dengan posisi Papa, Mama dan Bunda bersisian di seberang ku sedangkan aku duduk di sebelah kakek. Ada perasaan canggung saat aku dan Papa dihadapkan dalam satu tempat dan begitu dekat. Saat ini kami hanya bisa diam, sesekali ku lihat Mama dan Bunda saling melirik. Ada apa ini sebenarnya? Pertanyaan itu semakin kuat.


"Teddy, Kamu tau kenapa kami memanggilmu?" Tanya kakek memecah keheningan.


"Tidak kek, ada apa sebenarnya?" Tanyaku, Aku tak bisa banyak bicara jika Papa ada disini, karena itu bisa memicu keributan.

__ADS_1


"Ini mengenai, kamu dan juga Debby." Jawab kakek sontak membuatku terkejut dan semakin tak mengerti.


"Aku? Debby? Kenapa dengan aku dan Debby?" Ku tautkan kedua alisku, aku masih belum mengerti dengan perkataan kakekku.


"Nak Teddy, setelah kami berdiskusi, kami ingin, pernikahan Nak Teddy dan Debby segera dilaksanakan." Deg Jawaban Bunda membuatku semakin terkejut.


"Iya Ted, Mama ingin, sebelum kamu kembali ke USA, kamu menikah dulu dengan Debby." Sambung Mama. Mereka benar- benar membuatku semakin bingung. Menikah dalam waktu dua hari dan tanpa adanya persiapan, bagaimana itu bisa terjadi? Apa lagi Debby masih dalam kondisi sakit.


"Jadi, itu alasan kenapa Debby tidak boleh tau tentang semua ini?" Ku anggukkan kepalaku pelan.


"Nak Teddy, biarlah itu menjadi urusan Bunda. Setelah Bunda tau bahwa Nak Doni nekat menemui Debby lagi, Bunda jadi semakin yakin harus mempercepat pernikahan ini." Kata Bunda meyakinkanku.


"Urusan Bunda? Bagaimana caranya menikah tanpa Debby tau siapa Orang tuaku? D3bby tidak sebodoh itu?"

__ADS_1


"Mempelai wanita tidak harus hadir dalam ijab kabul bukan?" celetuk kakekku.


"Maksud kakek? Tdebby tidak akan tau kalau Teddy sudah menikahinya?" Tanyaku tak percaya.


"Itu satu- satunya jalan. Kakek sudah menentukan, hari Kamis kalian akan melakukan ijab kabul secara tertutup." Tegas kakeku.


"Tapi, Apa ini tidak sama saja dengan menjebak Debby? apa Debby akan ridho?" Tanyaku lagi.


"Insaallah jika Bunda Ridho Debby juga akan Ridho, ini hanya masalah waktu. Dan selanjutnya biar itu menjadi tanggung jawab Bunda." Jawab Bunda, kabar ini memang membahagiakan untukku, apa lagi setelah Doni menemui Debby kemarin, tapi aku juga harus memikirkan Debby. Bagaimana dengan Debby? Apa ini tidak merugikannya. Aku bergeming untuk beberapa waktu.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2