
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 111
Aku hanya bisa berusaha untuk menyembunyikan siapa orang tuaku saja, setidaknya aku tidak membutuhkan wali saat aku menikah. Jadi, menyembunyikan itu sampai Debby sah menjadi istriku tidak ada salahnya. Toh aku akan tetap berusaha membahagiakan Debby, tanpa bayang- bayang kedua orang tuaku. Keputusan yang begitu sulit dan sempat membuat Papa dan kakekku geram, akhirnya disetujui oleh mereka.
Bunda kembali ke kamar Debby, ia menerima keputusanku dan akan pelan- pelan menyampaikan semua ini pada Debby. Sedangkan Aku? Aku akan kembali ke hotel selama menunggu jawaban dari Debby.
Waktu demi waktu ku lalui dengan kegundahan dan kecemasan. Setiap aku mencoba memejamkan mata, bayang- bayang akan penolakan itu selalu datang. Sudah hampir semalaman aku terjaga, namun kabar dari Bunda atau Debby pun belum juga aku dapatkan.
Ku bentangkan sajadah di sepertiga malam ku, menghilangkan kegundahan dalam hatiku. Setelahnya, ku ambil gawaiku, ku kirim pesan untuk Debby, meminta maaf akan jauh lebih membuat ku tenang. Aku merasa lebih siap setelah ku pasrahkan semua pada yang membolak- balikkan hati manusia.
__ADS_1
Teddy: [Debby, Apa yang disampaikan Bunda, Saya minta maaf atas tindakan saya di belakang kamu.] Tak ada balasan walau pesan sudah di baca oleh Debby, ku letakkan ponselku kembali, ku rasa Debby sedang marah padaku.
Ku rebahkan tubuhku di ranjang, menatap langit- langit kamar hotel, menyiapkan hatiku untuk mendengar jawaban terburuk dari Debby.
Drrrt... Ponselku bergetar, notifikasi pesan masuk, nama Debby tertera disana. Segera ku buka dan ku baca.
Debby [Apa alasan dokter melakukan itu?]
Aku terperanjat membaca balasan pesan dari Debby, aku tersenyum karena Debby masih mau membalas pesanku.
Debby [Kalau benar seperti itu, kenapa menghilang? Kenapa memperlakukan saya seperti orang lain waktu itu?]
__ADS_1
Teddy [Kamu tidak datang waktu itu, kamu menemui Doni dan tidak mau diganggu. Saya masih terbawa emosi kala mengingat waktu itu Deb, hati saya sakit.]
Debby [Lantas kenapa sekarang kembali?]
Teddy [Karena saya sulit untuk mengubur rasa itu, dan akhir- akhir ini saya tau kalau saya sudah salah paham terhadap kamu Deb. Maaf]
Lama ku tunggu, tak ada balasan. Ia hanya membaca pesan terakhirku. Ku coba menghubunginya pun tidak diangkat olehnya. Ku hela napas panjang, rasanya tidak sabar menunggu hari esok tiba. Sekalipun aku sudah pasrah, namun tak bisa dipungkiri, harapan ku untuk diterima oleh Debby sangat lah besar.
Teddy [Selamat malam, selamat beristirahat Debby. Maaf, Apapun jawaban kamu lakukan menurut hati nurani kamu, saya tidak mau ada unsur paksaan. Have a nice dream Sayang] Ku akhiri perbincangan lewat pesan, ku rasa Debby masih butuh istirahat.
Ku pejamkan mata, ku coba mengistirahatkan otakku sejenak namun tetap tidak bisa. Ku buka gawai ku, ku buka IG dan ku tuangkan isi hatiku lewat sebuah instastory. Terdengar melankolis mungkin, namun itulah yang terjadi saat dihadapkan pada yang dinamakan cinta.
__ADS_1
Aku pernah menggenggam seseorang untuk tidak pergi, aku pernah merendahkan diriku sendiri agar tidak kehilangannya. Aku juga pernah menyebutnya dalam doaku dengan begitu tulus. Ya, Aku mencintai seseorang dengan begitu dalam hingga pada akhirnya aku tersadar, sekuat apapun aku menggenggamnya, yang lepas akan tetap lepas dan yang pergi akan tetap pergi.
@Teddyatmaja