
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 82
"Mama, mau bicara."
"Duduk dong Ma!" Seru Papa seraya meletakkan file yang berada di tangannya ke atas meja.
"Mama mau bicara apa? Kelihatannya serius sekali." Tanya Papa.
"Ini soal Teddy pa,"
"Anak kurang aja itu lagi? Kenapa? Mau pamer sekarang sudah jadi orang penting?" Sela Papa, Papa masih suka naik darah kalau mendengar nama anak kesayangannya sekaligus anak yang dibencinya itu.
"Bukan Pa... Kalau itu nggak usah ditanya lagi. Ini masalah pribadi."
"Pribadi apa?"
__ADS_1
"Teddy mau kita melamarkan seseorang untuknya." Jelasku dengan hati- hati.
"Heh... Butuh juga dia sama MAMA papanya. Gadis mana yang mau sama anak itu?" Kata Papa tersenyum sinis.
"Pa, biar gimanpun juga kan Teddy anak kita. Gadis itu gadis Panti asuhan tempat Mama menyumbang. Dia adalah gadis yang di pesta bersama Teddy waktu itu." Jelasku, Papa tak menjawab, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa diam pa? Apa Papa nggak suka hanya karena dia adalah anak yatim piatu?"
"Bukan begitu Ma, sejak kapan mama bisa berpikir kalau papa seperti itu? Papa ini tidak butuh menantu yang kaya. Papa sudah banyak uang untuk apa mencari menantu kaya, kalau ujung- ujungnya seperti Vannia yang nggak ngerti sama orang tua." Jelas Papa, aku lega mendengar penjelasanya.
"Tapi, dia janda Pa." Sambungku. Mau tak mau harus aku sampaikan status Debby pada papa, aku tak mau menyembunyikannya. Daripada akhirnya akan menjadi masalah.
"Belum punya anak." Jawabku, papa justru terlihat kecewa dengan jawabanku. Aku heran dengan kedua lelaki ku Teddy dan juga Papa, sifat mereka sama- sama sulit untuk ditebak.
"Teddy juga bilang, Debby jangan sampai tau kalau Teddy anak kita, nanti saja kalau sudah Sah baru dikasih tau."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ya mana mama tau, Teddy yang minta."
"Diterima juga belum tentu, kenapa percaya diri sekali kalau bakalan Sah?"
"Ya semoga diterima dong Pa."
"Bilang sama Anak Mama, kalau mau papa melamar Debby, suruh dia pulang ke Jakarta. Bantu bisnis Papa, kalau nggak mau jangan harap papa mau kesana."
"Papa kenapa jadi kesempatan dalam kesempitan gitu sih pa?"
POV Teddy
Pagi- pagi sekali Mama menghubungiku dan mengatakan bahwa, hari ini mama akan datang ke panti dan menemui Bunda Mira bersama Papa. Namun dengan satu syarat, syarat yang bagiku sangat berat. Papa tetaplah papa, masih saja memaksaku masuk ke perusahaanya, walau sudah seribu kali aku menolak dan jelas- jelas sudah tidak tertarik dengan dunia nya itu. Lama aku dan mama bernegosiasi tanpa Papa. Debby dan pekerjaanku sama- sama pentingnya. Jadi, aku harus benar- benar berhati- hati dalam mengambil keputusan ini.
Namun, bagaimana aku bisa memutuskan, kalau setelah ini mau tinggal di mana saja aku masih dalam kebingungan? Menetap di USA dan membawa Debby ikut serta bersamaku atau pindah ke Indonesia kalau lamaranku diterima oleh Bunda. Itu yang bisa aku katakan pada Mama. Papa mungkin sedang memanfaatkan keadaan tapi Papa lupa bahwa aku adalah Anaknya, yang bisa saja lebih cerdik daripada Papa.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π