
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 124
Tapi, nyatanya salah, aku terperanjat saat dia membalas pesanku dan berkata tidak akan datang karena tidak mau melihat mbak Lidia di pelaminan bersama orang lain. Jantungku rasanya ingin keluar dari tempatnya. Apa ini maksudnya dia ada hati juga dengan mbak Lidia? Dan yang lebih parahnya, dia bilang sedang memikirkan mbak Lidia, apa maksudnya? Jawaban itu benar- benar sukses membuatku marah.
"Kurang ajar!" Sentakku.
"Siapa yang kurang ajar Deb?" Tanya Sinta yang mendengar perkataan ku.
"Nggak Sin, aku keluar dulu ya." Pamitku kepada sinta.
Aku beranjak dari dudukku dan keluar dari UGD. Aku harus segera keluar sebelum kekesalan ku terlihat oleh teman- temanku. Ku genggam erat ponsel yang ku bawa di tangan kananku "Apa- apaan ini? Apa dia sedang mencoba berselingkuh dariku? Dengan Mbak Lidia?" Gumamku di depan ruang UGD dengan penuh amarah, kaki ku tak bisa diam terus melangkah mondar- mandir kesana kemari mencoba menerka dan mencari jawaban.
Tak berselang lama, ponsel di tanganku bergetar, Nama dokter Teddy yang akhir- akhir ini ku ganti dengan nama Dokter Cintaku itu terlihat di layar gawaiku, masuk di SIM satu ku "Apa ini? Baru mesra- mesraan sama mbak Lidia, dan sekarang menghubungiku? Mau jadi penakluk wanita rupanya dia? Hah?" Tanyaku pada layar datar itu.
__ADS_1
Ponsel terus bergetar walau aku tak mengangkatnya, aku malas padanya, sepertinya aku sudah kehilangan mood ku. Selang beberapa menit Notifikasi pesan masuk, sebuah pemberitahuan bahwa dana masuk ke nomor rekeningku. Jumlahnya cukup besar dan jauh dibandingkan gajiku satu bulan sebagai perawat. "Siapa? Yang transfer sebesar ini kepadaku?" Batinku sambil membaca pesan dari Bank itu.
Pesan kembali masuk, segera ku buka dan ku baca.
Dokter Cintaku [Gunakan untuk kebutuhanmu dan sebaik- baiknya, semoga cukup untuk satu bulan]
"Dia... rupanya sekarang mau merayuku dengan uang?" Gumamku, aku tak meladeninya. Lebih baik diam, kita lihat apa yang akan dilakukannya, apa dia akan merasa bersalah atau tidak tau akan kesalahannya.
Drrrrt... Pesan masuk kembali.
πΈπΈπΈ
Shift malam berakhir, tiba waktunya untuk pulang, aku bergegas menuju parkiran, Rasa kantukku sudah tidak bisa ku tahan lagi. Gara- gara semalam memikirkan pengkhianatan suami dan sahabatku. Membuatku begitu susah memejamkan mata, walau Sinta sudah menyuruhku istirahat sejenak, bergantian.
"Debby..." Teriak mbak Lidia saat aku sudah berada di sebelah sepeda motorku. Aku heran dengannya, waktu pernikahan tinggal beberapa hari lagi tapi tingkahnya masih saja seperti anak kecil yang suka teriak- teriak nggak jelas. Aku tak meladeninya aku tetap fokus dengan sepeda motor dan memakai helm.
__ADS_1
"Eh Deb, kok nggak sopan banget dipanggil nggak nyaut " katanya saat sudah berada di dekatku.
"Ada apa?" Jawabku malas.
"Eh Debby, kamu besok jadi Bridesmaid ya sama Sinta, Desi dan Febby."
"Udah nikah, udah janda, cari yang lain aja." Tolakku
"Nggak papa yang penting kan masih perawan, masih cantik." Jawabnya.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
VOh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1