Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Wanita Murahan


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 242


"Apa kamu sekarang sedang menggali informasi dari saya? Lebih baik kamu keluar, kmu nggak akan pernah mendapatkan apa-apa dari saya." usirku kemudian


Mengatakan apa rencana ku sama saja aku menggali lubang untuk menggagalkan semuanya.


"Teddy" Bentaknya


Aku berjalan menuju meja kerja ku untuk menghubungi bagian security.


"Pak, segera datang keruangan saya." seru ku


''keluar sekarang secara hormat, atau anda keluar bersama security dengan cara tidak terhormat?" kataku memberi pilihan pada Vannya


"Teddy, aku mohon pada mu Ted, dulu kita pernah saling mencintai, setidaknya jangan terlalu kejam lah sama aku Ted." Ucapnya seraya mendekati ku, lalu ku cekal tanganya yang mulai kurang sopan pada ku.


Pintu tiba-tiba dibuka, aku dan Vannya menoleh bersamaan, sudah ku pastikan bahwa itu adalah security.


"Mas tas ku..." aku terperanga saat ku lihat yang datang bukanlah securiti melainkan Debby lah yang masuk, "Kamu ngapain mas peluk-peluk ulat bulu itu?" Vannya bergerak lebih cepat dari yang aku kira, dengan sigap dia memeluk ku sebelum aku mendorongnya begitu terkejutnya aku sehingga aku tak sadar jika Vannya memanfaatkan moment ini, segera ku dorong tubuh Vannya agar menjauh dari ku.


"Sayang kamu jangan salah paham ya, saya bisa jelasin semuanya kok." kataku seraya menghampirinya


Dua security yang aku panggil akhirnya datang " kemana saja kalian? Kenapa baru datang sekarang?" sentak ku


"Maafkan kami pak."


"Ayo cepat bawa wanita itu keluar dari ruangan saya." perintahku


"Teddy, kamu jangan terlalu munafik, kamu menikmatinya tadi."


"Menikmati? Menikmati apa ya? Jangan mengada-ngada disiang hari kamu ya." kata ku menatap Debby yang masoh terdiam di depan ku.


"Pak bawa wanita ini pergi, kenapa kalian masih bengong gitu?"


"Iya pak."


"Tunggu pak" kata Debby tiba-tiba lalu berjalan mendekati Vannya.


Byurrr... Debby menyiram kan satu gelas air yang ada di atas meja kerja ku.


"Apa-apaan kamu!" bentak Vannya


"Vannya, ini pertama dan terakhir aku lihat kamu dekati suami ku ya, jangan coba-coba lagi kamu dekati suami ku. Sadar lah jika dia adalah adik ipar mu! dulu aku mengagumi mu karena cantik dan pintar tapi setelah melihat kelakuamu, yang begitu murahan membuat ku menjadi membenci mu."


"Kurang ajar!" sentak Vannya mengangkat tanganya hendak menampar Debby, dengan sigab ku cegah dan ku cekal tanganya tak akan ku biarkan tangan kotor itu menyentu Debby atau menyakiti Debby sedikit pun.


Prov Debby


Aku masuk ke dalam ruang ganti setelah mas Aska mengambil keputusan yang menurutku sangatlah berat tapi sebagai seorang istri aku harus menghargai keputusan suami ku dan tidak menjatuhkan martabatnya di depan orang lain dengan membantahnya.


Langkahku lalu terhenti saat melihat loker di depan ku, aku baru menyadari bahwa kunci loker itu ada di dalam tas dan tertinggal di dalam mobil. Ku hubungi mas Aska namun tak ada jawaban darinya. Mungkin dia sedang sibuk.


Ku putuskan untuk meminta kunci mobil dan mengambilnya sendiri namun saat ku sampai didepan pintu ruangan mas Aska dan membuka pintu, pemandangan yang di luar dugaan terpampang sangat nyata di hadapan ku. Bukan sibuk kerja dan tidak bisa mengangkat telepon ku malainkan sedang sibuk bersama Vannya, berpelukan dengan Vannya di ruang kerjanya itulah yang ku lihat saat ini.


Aku pun tak bisa berkata apa- apa, bibirku terasa kaku, dada ku sangat begitu sesak, namun aku harus tetap terlihat baik-baik saja, aku tak ingin harga diriku sebagai seorang istri jatuh di depan Vannya yang jelas-jelas akan bertepuk tangan jika itu sampai terjadi.


Ku ambil segelas air minum yang ada di atas meja kerja mas Aska, lalu menyiram ke wajah Vannya dan mengusirnya.


"Kamu nggak berfikir aneh-aneh kan?" tanya mas Aska seraya mendekati ku setelah security membawa Vannya pergi dari ruangan suami ku.


"Menurut mu apa yang kamu lakukan jika itu terjadi terhadap ku dan laki-laki lain?"

__ADS_1


Dia hanya menunduk, kali ini aku tak ingin ada perdebatan, rasanya aku sangatlah lelah. Harus tertawa atau menangis aku pun tak tau, yang jelas aku saat ini aku rasakan adalah dada yang semakin sesak dan akan meledak jika aku tak segera keluar dari tempat ini.


"Aku hanya membutuhkan konci mobil, untuk mengambil tas ku yang tertinggal di dalam mobilmu.". Tegasku.


"Debby, dengarkan dulu penjelasan saya, duduklah sebentar, aku akan mengambilkan tas itu jika kamu mau duduk sebentar."


"Dimana kunci itu?" tegas ku


Dia menghela nafas panjang " ada di security."


Aku segera beranjak "hmmm seharusnya aku tidak akan melihat hal yang menjijikan itu jika aku langsung kesana dan kamu mengangkat telepon ku." ucapku meninggalkanya


Aku segera pergi, menahan rasa sesak yang ada didada ku. Setelah kunci itu aku dapatkan segera ku buka dan ku cari tas yang ku letakan di bangku belakang.


Namun hati ku tak sekuat yang ku kira, ketegaran bukan lah milik Debby jika harus berhadapan dengan pelakor, mungkin diluar terlihat begitu kuat, tapi nyatanya hati ku sangatlah terlalu rapuh saat melihat lelaki yang aku cintai harus berdekatan dengan wanita lain.


Aku duduk di bangku belakang, ku tutupi wajahku dengan kedua tangan ku dan mengeluarkan air mataku yang sedari tadi sudah berdesakan ingin keluar dari tempatnya. Mungkin hanya ini yang dapat membuat ku lega, menangis sekuat tenaga, toh tak akan ada yang melihatnya.


Bukk.. Pintu mobil tiba-tiba dibuka dan ditutup dengan cepat, ku usap air mataku kasar lalu mendongak.


Ku lihat mas Aska sudah berada di depan kemudi dan menyalakan mesin mobilnya.


"Loh, mau kemana?" Tanyaku yang masih sesengukan.


"Jangan berusaha untuk tergar jika masih membutuhkan seseorang untuk mengurangi bebanmu."


"Aku harus kerja, hentikan mobilnya mas."


"Sedikit terlambat tidak apa-apa, bekerja dengan fikiran yang kusut justru akan membahayakan nyawa seseorang." sindirnya


Ingatan ku kembali tertuju pada saat aku melakukan kesalahan di ruang UGD dia hampir saja memecat ku, pada saat itu gara-garanya karena masalah diceraikan oleh mas Doni.


"Kamu menyindirku" lirih ku.


''Hal itu apa? Ayo turunlah." seruhnya yang sudah membukakan pintu untuk ku.


aku pun mengikutinya


Bukan sebuah kamar yang ia tuju, melainkan sebuah cafe, ternyata aku sudah salah paham padanya. "aku masih kenyang."


"Tapi saya belum makan sama sekali." jawabnya, kami berjalan bersisian dengan tanganya yang terus menggandeng tangan ku dengan begitu eratnya. Sepertinya dia fikir aku akan kabur dan lari dari masalah lagi.


Kami menuju sebuah meja yang disana sudah ada seorang disana, seorang laki-laki.


"Siang pak." sapa mas Aska dan mengulurkan tanganya.


"Siang pak." jawab lelaki yang kurasa berusia sekitar sepuluh tahun lebih tuah dari mas Aska itu.


"Perkenalkan ini istri saya." ku tangkupkan tanganku untuk menyambutnya


"Stiven"


"Debby"


"Ayo silahkan duduk." ucap mas Aska, kami pun duduk bertiga sekarang.


"Oh jadi ini istri bapak yang sering bapak ceritakan? Yang sempat tenggelam itu?"


Deg...


Aku terkejut mendengar perkataanya, siapa lelaki ini sehingga tahu kejadian itu?


"Tenggelam?" apa maksudnya mas?"tanya ku

__ADS_1


"Lebih baik pak Stiven ini yang menjelaskan semuanya, karena kamu akan lebih mempercayainya, silahkan pak Stiven!"


"Jadi begini bu, pak dokter berniat membawa kasus tenggelamnya ibu waktu itu ke jalur hukum beberapa hari yang lalu dengan tersangka Vannya Atmajaya."


Deg...


Pernyataan yang disampaikan itu membuat ku semakin tak karuan. Apa suami ku sedang melakukan perang antara saudara?


🌸🌸🌸


Setelah usai perbincangan kami, kami pun segera pulang ke rumah sakit.


"Duduklah didepan, saya bukan sopir." kata mas Aska saat aku membuka pintu bagian belakang.


"Aku cuma mau ambil tas aja." jawabku lalu membuka pintu bagian depan.


Didalam perjalan pulan kerumah sakit aku hanya bisa terdiam.


"Kalau benci kenapa memeluknya?" ku kumpulkan semua keberanian ku, pertanyaan itulah yang sedari tadi ingin ku katakan padanya.


"lebih tepatnya dia yang memeluk bukan saya, gerakanya sangat begitu cepat sehingga aku tak menyadarinya." jawabnya


"Tapi, kata tante marlina, kamu lebih memili Vannya dibandingkan anaknya.?"


Seketika dia menghentikan mobilnya lalu mendekati wajah ku dan mengunci bibir ku dengan bibirnya tanpa permisi, cukup lama dan aku pun membalasnya, memang kesibukan kami beberapa hari ini sehinga membuat kami melupakan melakukanya beberapa hari ini.


"Jangan banyak membahas tentang masa lalu, saya tidak suka." lirihnya


"Jangan melakukan hal yang seperti tadi juga


Ini tempat umum." kataku tersipu malu, ku palingkan wajahku dari wajah yang membuat jantung ku terus berdegum kencang tak beraturan saat aku menatapnya.


Kembali ia menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobil kembali ke rumah sakit.


🌸🌸🌸


Aku turun dan berlari saat mobil berhenti didepan loby, karena aku sudah sangat-sangat terlambat.


"Sore semuanya." sapaku sembari masuk ke dalam ruangan UGD.


"sore bu"


Hening, itu yang ku lihat saat aku pertama kali masuk. Bu? Aku terkekeh."


"Ada apa? Kenapa kalian semua diam? Tanyaku menyelidiki


Ku pandangi wajah mereka yang saat ini sedang berdiri teratur dan menundukan kepala mereka.


"Ya, sudahlah terserah kalian." putusku, ku ambil sebuah termu lalu menghampiri pasien yang baru saja masuk.


"Bu, biar saya saja!" cegah Sinta


"Bu? Apa-apaan sih kalian ini, berhenti bersikap canggung seperti itu! Aku ini Debby." tegas ku


"Tapi"


"Sudah, bersikaplah yang sewajarnya, aku nggak suka dibeda-bedakan, pak direktur pun tak membedakan aku dengan yang lain, kenapa kalian berlebihan seperti itu? Sudah, bekerjalah seperti biasa, diruangan ini aku sama seperti kalian, dan maaf karena suatu hal aku harus meninggalkan pekerjaanku kemarin dan hari ini, aku harus merawat Aldo, adik ku." jelas ku, ku harap mereka akan mengerti dengan keadaan ku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2