Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Memberitahu


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 174


"Nggak, Saya menyewakannya pada teman saya, lagi pula kita bisa pake kalau sewaktu- waktu kita liburan atau kamu mau bulan madu lagi." Jawabku asal, ya memang aku tidak menjual apartemenku, apartemen itu adalah hasil jerih payahku yang tak mungkin aku menjualnya.


Pekerjaan kami akhirnya selesai, hingga waktu menunjukkan pukul 4 sore. Debby sedang mandi sekarang, mungkin dia merasa gerah setelah aktifitas yang cukup menguras tenaga seharian ini


Mataku membulat sempurna saat melihatnya keluar hanya berbalut handuk, ku telan salivaku, sudah lama aku tak melihat tubuh indah itu.


"Tutuplah matamu Mas, aku hanya ingin mengambil sikat gigi." Katanya melewatiku.


"Kenapa kamu menggodaku di jam segini?" Tanyaku mencekal tangannya.


"Apa kalau aku menyuruhmu mengambilkannya untukku, kamu akan benar- benar hanya mengambilnya tanpa mengerjai ku?"


"Tentu saja tidak, tentu saja aku akan melakukan lebih dari itu, aku tidak hanya akan mengambilkan sikat gigimu, tapi dengan senang hati akan membantumu untuk..."


"Tidak perlu..." Ucapnya menarik tangannya dariku dan meninggalkanku masuk ke kamar mandi.


"Kenapa takut dengan suamimu sendiri Debby...?" Teriakku.


"Karena kamu itu Drakula Mas," Teriaknya dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Ya Allah Debby... Hahaha."


Usai membersihkan diri, kami pun mengistirahatkan tubuh kami sejenak, membaringkan tubuh kami di ranjang.


"Apa kamu senang, saya pulang?" Tanyaku pada Debby yang mulai memejamkan matanya.


"Ya, tentu saja aku senang mas, bukankah ini impian kita dari awal pernikahan?"


"Debby, ada yang harus saya sampaikan sama kamu, mendekatlah." Kataku, duduk bersandar di bahu ranjang.


"Ya, apa yang akan kamu sampaikan Mas." Tanyanya mengikutiku duduk di sisi sebelahku.


"bolehkah Saya memelukmu?"


"Hah?"


"Kenapa? Kenapa jadi manja gini Mas?"


Tanyanya membalas pelukanku.


"Saya sayang... Sekali Deb sama kamu, Sayang... Sekali. Apapun yang saya lakukan selama ini hanya karena saya tidak ingin kehilangan diri mu." Ucapku masih setia memeluk tubuh langsing dan kecil itu.


"Aku tau, kenapa jadi Melo gini sih Mas?"

__ADS_1


Hening


"Debby,"


"Ya..."


"Sebenarnya Saya adalah anak dari Atmajaya, cucu kandung Profesor Antonius Atmajaya." Lirihku. Kurasakan pelukan Debby mulai melemah.


Hening.


Tak ku dengar sepatah katapun yang keluar dari mulut Debby, yang ku rasakan hanyalah getaran dari tubuh Debby, getaran yang menandakan saat ini Debby sedang menahan airmatanya. Ku peluk erat tubuhnya berharap pelukanku bisa sedikit menentramkan hatinya yang tergoncang karena pengakuanku "Maaf" Lirihku, seketika tangisnya pun pecah, getaran itu pun semakin hebat. Hari ini aku menyakiti seseorang yang sangat aku cintai dengan sebuah kenyataan.


"Berapa lagi kebohongan yang sudah kamu ciptakan untukku?" Tanyanya di tengah isakannya.


"Kamu, kamu memandang semua orang kaya sama Debby, saya nggak Meu kehilangan kamu hanya karena hal yang salah." Jelasku lebih lembut lagi.


"Bisakah melepaskanku? Aku masih ada perlu di rumah Bunda."


"Tidak Debby, saya nggak akan melepas kamu." Tolakku masih memeluknya, karena aku tau itu hanya alasannya saja.


"Bagaimana jika aku yang melepasnya." Katanya mendorong keras tubuhku menjauh darinya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2