
Aku Bukan Rahim cadangan
Part 69
"Pulang?"
"Kamu kenapa pulang duluan? Kami cari- cari kamu, Kamu malah ngilang." Sambungnya.
"Dokter Teddy?"
"Dokter Teddy? sudah berangkat ke bandar 4 jam lalu, mungkin sekarang lagi nunggu penerbangan ke USA berikutnya. Bukannya tadi sudah menghubungimu?"
"USA? Sekarang?"
"Iya, setelah menelponmu dia minta antar ke bandara." Jelas dokter Firman. Apa yang ku takut kan terjadi juga, salah paham. Aku berlari meninggalkan dokter Firman dan langsung meluncur ke bandara menggunakan motorku yang tertinggal saat aku pergi ke pesta Direktur bersama mbak Lidia semalam.
Ku lajukan motor matic ku dengan kecepatan maksimal. Aku harap pesawat dokter Teddy belum berangkat.
Sampai di bandara aku segera masuk, tak lupa ku lepas helmku dulu agar kejadian di rumah sakit dengan ojek online tak terulang lagi.
Aku berlari sesekali langkahku terhenti karena harus mengambil napas.
__ADS_1
"Mau kemana mbak?" Tanya securuity yang melihatku begitu terburu- buru.
"Mau nemuin orang yang mau ke USA." Jawabku dengan napas tersengal- sengal.
"Pesawat tujuan USA udah berangkat. Baru aja lepas landas beberapa menit yang lalu, tu!" Jawabnya seraya menunjuk ke atas, ke arah sebuah pesawat yang tengah lepas landas, seketika tubuhku melemah, ku pandangi pesawat yang terbang rendah itu. Ada sesuatu yang hilang saat aku harus melihat pesawat itu semakin menjauh dan semakin menghilang dari pandanganku.
"Kenapa tidak menungguku..." Gumamku kecewa.
"Kenapa harus secepat ini? Apa tak bisa menunggu sampai besok?" Gerutuku.
Ku hela napas panjang. Dengan berat hati aku kembali tanpa dokter Teddy. Ku kendarai motorku dengan kecepatan rendah menuju apartemen, rasanya kekuatanku sudah habis. Setidaknya ada waktu sedikit untuku beristirahat sebelum kerja jam 8 malam nanti.
Dengan langkah terseok- Seok, aku menuju lantai 8. Langkah ku terhenti saat ku lihat bunda sudah berdiri di depan pintu Apartemen.
"Debby, ini bunda ndok..." Sambungnya.
"bunda?" Gumamku, aku masih bingung, bagaimana bisa bunda tau tempat ini. Aku bergegas menghampirinya dan memeluknya.
"bunda? Gimana bisa ada disini bun?"
"Apa Ndak mau mengajak bunda untuk masuk ke dalam?"
__ADS_1
"Oh, iya, masuk bun!" Ajakku, ku buka pintu dan mempersilahkan bunda untuk masuk dan duduk.
Kamipun duduk bersisian di sofa tamu Lama kami terdiam, hingga suara bunda terdengar.
"Kenapa harus menyembunyikan semuanya pada bunda mu sendiri deb?" Celetuknya. Aku mendongak menatap bunda.
"Kenapa menyembunyikan dan menanggung semuanya sendirian?" Sambungnya.
"Maksud bunda?"
"Tadi, pagi- pagi sekali ada laki- laki. Dokter muda, tampan, dan juga sopan datang ke panti menemui bunda." Tutur bunda sambil tersenyum. Berbeda dengan bunda yang terlihat bahagia, Aku justru mulai tegang. Sudah jelas yang dimaksud Umi adalah dokter Teddy. Muda, dokter, tampan dan masih ingat juga kalau dokter Teddy tadi pagi- pagi sekali sudah keluar.
"Apa yang di katakannya pada bubda?" Tanyaku ragu.
"Semua deb, semua yang menjadi bebanmu disampaikan pada bunda dengan begitu hati- hati. Dia juga menitipkanmu pada bunda sebelum dia pergi."
"Jadi, bunda sudah tau tentang Aku dan Mas doni?" Tanyaku, bunda mengangguk Pelan.
"Hiks... Hiks... Hiks... " Tangisku pun pecah mendengar semua penuturan bunda.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π