Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Terbongkar


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 134


Aku benar- benar bingung dengan orang yang ada di depanku ini, kapan dan darimana mendapatkan barang- barang lengkap seperti ini? Bahkan sepatu ku pun sudah tersedia dan ukuranya pun pas di kakiku.


POV Papa (Membongkar kebusukan vannia dan Kevin)


Kedatangan Vannia dan Kevin dari luar negeri, membuatku semakin murka terhadap mereka berdua. Bagaimana tidak. Setelah aku membantu dokter Firman mengungkap kasus penusukan Debby yang terjadi di rumah sakit Papa, aku mendapatkan banyak bukti yang mencengangkan sekaligus memalukan keluarga. Vannia, menantuku sendiri lah yang melakukan tindakan kriminal diluar batas itu.


"Vannia sama Kevin sudah pulang Ma?" Tanyaku pada istriku yang memberikan secangkir kopi padaku di ruang kerja.


"Sudah, lagi istirahat sepertinya Pa."


Aku berdecih, bisa- bisanya bersikap setenang itu, setelah apa yang dilakukannya pada Debby.


"Kenapa sih Pa?" Tanya istriku, aku memang tak pernah memberi tahu tentang kasus penusukan Debby padanya. Yang dia tau, semua itu hanya murni kecelakaan dan kelalaian pihak Rumah sakit jiwa.


"Mama nggak ke Panti? Nggak mau ketemu sama mantu mama?" Usirku dengan halus,

__ADS_1


"Debby sedang berkencan dengan suaminya. Kemarin mama di suruh nganter motornya yang sudah lama masuk musium itu. Untung masih normal walau jarang dipake. Dan subuh, mama disuruh anter baju-baju, sepatu untuknya dan Debby." Jelasnya sambil tersenyum manis, Mungkin karena kerinduan pada anak itu yang menjadikan Mama selalu sumringah saat membahas atau menceritakan masalah Teddy dan Debby. Aku bersyukur dengan hadirnya Debby di tengah kami, Teddy jadi kembali membutuhkan kami walau hanya masalah- masalah sepele.


"Teddy pulang?"


"iya Cuma dua hari doang Pa."


"Ma, Mama ke Panti, berikan uang ini ke Bunda nya Debby." Perintahku, ku berikan amplop coklat yang berisi uang untuknya agar Mama bisa keluar dari rumah. Mama termasuk orang yang suka terbawa perasaan, terlebih jika ada perselisihan di dalam keluarga ini. Dia selalu mengharapkan kedamaian dalam keluarga kami.


"Sekarang?"


"Iya, Ma."


"Ya sudah Mama, siap- siap dulu." Katanya dan Segera beranjak dari tempat duduk.


Setelah ku pastikan istriku telah pergi dengan supir, aku bergegas ke kamar Vannia. Kali ini amarahku sudah tidak bisa lagi ku bendung, jika selama ini aku bisa memaklumi sifatnya yang tidak bisa menghargai orang tua, tapi tidak untuk kali ini. Debby juga menantuku, jika aku membiarkan Vannia dengan kesalahannya bisa- bisa dia akan berbuat lebih nekat lagi terhadap Debby.


Brak...


Brak ...

__ADS_1


Brak...


Ku gedor pintu kamar Vannia dan Kevin. Aku tidak bisa lagi bersikap manis dan lembut ke pada anak itu.


Brak...


Brak...


"Vannia! Buka pintu!" Seruku dengan nada tinggi.


Terdengar pintu kamar dibuka. Bukannya Vannia tapi justru Kevinlah yang membuka pintu untuk ku, Kevin yang tak jauh berbeda dengan Vannia. Kevin yang selalu membuatku naik darah saat harus mendengar keluh kesah karyawan karena sifatnya yang buruk dan tempramen pada karyawan-karyawan.


"Papa, kenapa Pa?" Tanyanya dengan mata yang belum terbuka sempurna. Aku menghela napas kasar melihat anak dan menantuku yang sama- sama tidak bisa di andalkan itu.


"Mana istrimu, Papa mau bicara denganya!"


"Vannia masih istirahat Pa, kami kan baru pulang, capek pa."


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2