
"Oh... iya, aku lupa! kamu kan istri yang tak dianggap!, yang hanya sebagai cadangan. Makanya kamu naik motor ini?" Ejek mbak Lidia.
"Enak aja, tadi Mas Doni mau nganterin aku tau. Cuma aku metolak,"jawabku membalas.
"Serius kamu Deb? loh Kenapa kamu nggak mau?" Tanyanya antusias.
"dia sedang Marahan sama istri pertama, aku mau dijadikannya alat buat bikin mbak Linda cemburu, ya aku tolak lah, biar kayak gini aku juga pinter kali mbak".
"Yaelah dodol kali kamu dek. itu sih lebih parah dari nggak dianggep!" Kata mbak Lidia seraya mengacak - acak rambutku dengan gemasnya, lalu kami pun tertawa bersama.
Kami segera mengganti pakaian dengan seragam dinas, saat kami keluar, tanpa sengaja aku mendengar percakapan Dokter Firman dan Direktur Utama Rumah Sakit ini, secara tak sengaja pintu mereka tidak tertutup dengan sempurna.
"Saya nggak mau tau, pokoknya panggil Dokter Tedi secepatnya!" Bentak Profesor Antonius pada Dokter Fitman yang merupakan kepala komite medis di rumah sakit tempat ku bekerja, dia adalah Dokter spesialis beda di rumah sakit ini.
Profesor Antonius adalah Direktur Utama dirumah sakit ini, ia pemilik Rumah sakit yang sudah tak lagi muda diusiany, usianya sudah hampir mencapai 78 tahun, namun diusia senjahnya beliau masih tetap aktif sebagai konsultan di Rumah sakit ini. Sedangkan Dokter Tedi? baru kali ini aku mendengar namanya, mungkin karena aku baru di sini jadi belum tau siapa dia.
"Ta..Tapi Pak!, Apa Dokter Tedi mau? Dokter Tedi sudah memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia sejak bermasalahnya dengan..."
"Kamu lupa siapa saya dan siapa Tedi?" Sela Profesor Antonius.
"Tapi pak..."
"Saya nggak mau tau, masalah ini harus kamu tangani dan segera diselesaikan, kamu kan masih suka berhubungan dengan dokter Tedi, terserah usahamu mau bagaimana membujuknya, karena hanya dokter Tedi harapan kita satu- satunya!"
"Eh Deb? Ngapain masih bengong di situ? Ayo kerja!" Ajak mbak Lidia yang tadinya sudah berjalan di depanku namun, kembali menghampiriku setelah sadar aku masih mematung di depan pintu ruang Direktur.
"Eh iya mbak." Jawab ku lalu berlari kecil menyamakan langkahku dengan mbak Lidia.
__ADS_1
"Mbak, Rumah sakit kita emang sedang ada masalah apa ya?" Tanya ku pada Mbak Lidia yang sudah lebih lama bekerja disini.
"Maksudnya?" Tanya mbak Lidia menghentikan langkahnya.
"Tadi nggak sengaja aku dengar, profesor Antonius sama Dokter Firman berdebat, terus sebut nama Dokter, Dokter siapa ya tadi ? aku lupa" Tanyaku mencoba mengingat nama yang mereka sebut tadi
"oh Iya... Dokter Tedi. Siapa Dokter Tedi mbak?"
"Tedi? Mbak juga nggak tau Deb, udah nggak usah dipikirin, kita kan disini hanyalah bawahan, kalau masalah yang begituan sih biar diurus sama yang atas- atas aja, udah sana kerja!" Seru mbak Lidia, memang benar juga sih apa katanya, mau masalah seperti apa juga kita cuma perawat yang posisinya di bawah, apa lagi aku, yang baru kerja dalam hitungan hari. Kami pun berpisah, aku segera ke ruang UGD dan mbak Lidia di bagian informasi.
Firman menghembuskan nafas kasarnya setelah keluar dari ruangan profesor Antonius. Hari ini cukup melelahkan bagi Dokter Firman, Dia dan profesor Antonius Sampai harus berdebat, rumah sakit terancam ditutup karena ada salah seorang pasien yang menuntut atas dugagan sebagai percobaan praktek, dan kondisi pasien pun saat ini masih dalam keadaan koma. Profesor antonius menugaskan Dokter Firman menghubungi dokter Tedi, karna hanya dia yang bisa menyelesaikan permasalahan ini.
Ku renungi semua yang Dokter Firman katakan di telepon subuh tadi, kakek ku saat ini sedang berjuang seorang diri tanpa siapapun yang membantunya di belakang. Dari seluruh keturunan keluarga Antonius Adijaya hanya aku lah yang berprofesi sebagai Dokter dan itu pun sudah di coret dari keluarga Adijaya. Dan Kakek tak bisa berbuat apa- apa pada waktu itu, karena papi termasuk orang yang keras kepala dan berambisi besar. Dia mengancam akan menutup Rumah Sakit kakek jika kakek membela ku pada saat itu. Sampai saat ini pun yang aku dengar dari dokter Firman, mereka tidak berhubungan baik sejak aku pergi meninggalkan ibu kota sembilan tahun yang lalu.
Ponsel alarm ku bergetar, menunjukan waktu USA sudah pukul 09.00 Tandanya aku harus segera pergi ke Rumah Sakit.
Dengan sepotong hoddog yang masih ada ditanganku dan segelas susu aku memulai hariku yang begitu suram ini, lalu aku bergegas menuju kendaraan roda 4 hasil kerja kerasku sendiri selama bekerja dan ku lajukan dengan kecepatan tinggi.
ku lihat mobilnya sudah terparkir di parkiran rumah sakit, jadi, ku putuskan untuk langsung ke ruangannya. tok...tok...tok...
"Come in!" (Masuklah!)
"Morning Sir!"
(Selamat pagi Pak!) Sapaku.
"Morning Doctor Tedi, sit down please!"
__ADS_1
(Pagi Dokter Tedi, silahkan duduk!)
"Can I help you?" (Apa yang bisa ku bantu?)
"I apologize in advance sir, (mohon maaf sebelumnya pak)
I will take a few weeks off"(saya akan ambil cuti beberapa minggu pak)
"Are you sure?" (Apa kamu yakin?) Tanya Mr. Wilson tak percaya, selama ini aku memang tak pernah mengambil jatah cuti ku, aku termasuk orang yang gila dengan pekerja menurut mereka.
"Yes sir, I will start taking leave next week."
(iya pak, aku akan mulai ambil cuti minggu depan.)
"in that case, okay". (baiklah kalau begitu)
Segera ku ambil gawaiku setelah cuti ku dapatkan, dan ku kirim pesan kepada Dokter Firman.
Tedi :[Dok, Saya akan berangkat ke Indonesia akhir pekan ini. Saya hanya ada waktu beberapa minggu saja, selebihnya kalian selesaikan masalah kalian sendir.
Dokter Firman : [Terimakasih Dokter atas bantuanya, kami sangat bersyukur] Balasnya.
Tedi : [Satu hal lagi, selama saya di ibu kota, saya harap jangan pernah hubung - hubungkan saya dengan Keluarga Adijaya, karena Saya sudah tidak ada hubungan lagi dengan keluarga adijaya]
Dokter Firman: [ok baiklah Dok]
Bukannya aku tak mau menganggap mereka berdua sebagai kedua orang tuaku lagi, namun kekecewaan mereka terhadapku masih terukir jelas di benakku, aku hanya ingin hidup bebas tanpa beban, egois mungkin, tapi itulah aku, Tedi Putra Adijaya yang sebetulnya bersifat sama dengan aldi adijaya, ambisius dan keras kepala, jelas semua sifat yang ku miliki sama persis dengannya.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π