Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Susah Tidur


__ADS_3

Aku bukan Rahim Cadangan


Part 162


Pintu benar- benar dibuka."Nih ambil." Kata Debby memberikan bantal, selimut dan mantelku yang ku letakkan di ranjang.


"Apa ini?" Sentakku.


Debby tak menjawab, dan kembali menutup pintu rapat- rapat.


Ku hela napas kasar, Lalu berjalan menuju kamar dokter Firman.


Ku pengang handel pintu, tapi tidak bisa terbuka, tertanda dokter Firman mengunci pintu dari dalam. "Sengaja ni orang?" Gerutuku.


Brak....


Brak....


Brak....


Ku gedor pintu dengan kasar "Dokter, Buka!" Seruku, namun tak ada jawaban. "Dokter Firman! Saya dobrak ni kalau nggak buka!" Ancamku, namun tetap tak ada jawaban, sepertinya dia sedang tidur.


Ku coba menghubungi ponselnya, tapi apes, ponsel dokter Firman juga sudah dimatikan.


"Sial" Gerutuku.


Ku lempar selimut dan bantal pemberian Debby ke sofa tamu. Ku hempaskan tubuhku disana.


"Mengerikan sekali kalau dia marah" Gumamku melirik pintu kamar Debby yang masih tertutup dengan rapat.


Drrrrt... Ponselku berbunyi, telepon masuk dari Mama, aku beranjak duduk dari tempatku.

__ADS_1


"Halo Ma, Assalamualaikum." Sapaku


"Waalaikumsalam Anak Mama..."


"Ada apa mama jam segini telepon, bukannya di Jakarta udah malam banget?"


"Kenapa? Mama ganggu kamu sama Debby ya?"


"Nggak."


"Kok nggak?"


"Ya emang nggak."


"Mama cuma mau kasih kamu resep biar Mama cepet dapat cucu."


"Mama ini apa- apaan Ma? Nggak perlu, Teddy udah tau."


"Mama kalau cuma mau ngomongin itu, mendingan tidur deh"


"Assalamualaikum." Tutupku.


"Nggak tau Anaknya lagi dalam masalah apa?" Gumamku.


Ku rebahkan lagi tubuhku, bermain game akan lebih menghiburku.


Satu jam berikutnya.


Cekrek, pintu kamar dokter Firman dibuka saat aku asik dengan game ku.


"La... Penakluk singa tidur di sofa to?" Sindirnya, sambil tertawa menghampiriku.

__ADS_1


"Kenapa? Singanya ngeri ya kalau ngamuk? Susah jinakinnya?"sambungnya meledekku lagi.


"Siapa bilang dokter, Saya gerah aja di dalem, nanti juga saya masuk lagi."Jawabku santai sambil tetap memainkan ponselku.


"Gerah kenapa malah bawa selimut? Lagian musim dingin masak gerah?"


"Bukan urusan dokter, rumah- rumah saya, mau tidur dimana juga terserah saya." Pungkasku.


"Lagian dokter ngapain dikunci segala pintunya?"


"Saya cuma nggak mau aja lihat drama rumah tangga, terlalu menyeramkan."


"Diem ya dokter! Jangan bikin saya tambah emosi. Kalau saya sudah emosi, dokter yang saya suruh tidur di luar!" Kataku beranjak dari sofa dan masuk ke kamar dokter Firman.


"Eh Teddy, tunggu, saya mau ngomong." Kata dokter Firman mengikutiku.


Ku hentikan langkahku sejenak dan berbalik "Apa lagi?"


"Kenapa saya susah sekali tidur? Kemarin sepertinya saya nyenyak sekali, kenapa sekarang jadi susah sekali ya?" Dokter Firman belum sadar kalau aku memberinya obat tidur kemarin, Dokter Firman memang tipe orang yang tidak bisa tidur dengan mudah saat berjauhan dari istrinya, itu lah sebabnya aku memberinya obat tidur, kalau tidak dia bisa menggangguku dan mengajakku begadang semalaman.


"Apa karena saya belum makan ya?" Tanyanya.


Sepertinya dia sedang menyindirku karena aku belum memberinya makan malam.


"Makan di luar yuk, ajak Debby, saya yang traktir." Sambungnya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2