Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Kepo


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 90


"Bukan sok kenal atau sok dekat, wanita yang tadi itu memang kenal sama saya. Dia adalah calon istri saya! Kemarin kami lagi ada ribut- ribut kecil aja. Dan akan ada keributan besar kalau kalian terus-terusan mengikuti saya!" Tegasku, dari awal seminar aku sudah tau mereka selalu mencuri pandang padaku dan mencari perhatianku bahkan bertanya hal yang ku rasa tidak perlu ditanyakan kepadaku.


"Saya permisi, banyak- banyak belajar agar tidak kebingungan mengikuti materi, beri pertanyaan yang berbobot!" Tutup ku, lalu ku tinggalkan mereka yang masih terlihat shock dengan pernyataan ku barusan.


Setelah mengklarifikasi dan meninggalkan mereka, aku melanjutkan untuk mencari Debby dan teman- temannya. Namun sepertinya mereka sudah pergi. Ku hubungi Alex Karena menghubungi Debby tidak akan membuahkan hasil.


"Kemana Lex?" Tanyaku begitu Alex mengangat teleponnya.


"Ke Rumah sakit Dok, ambil sepeda motor." Jawab Alex.


POv Debby

__ADS_1


Tak disangka hari ini aku bertemu dokter Teddy dua kali berturut- turut. Yang membuat jantungku berdebar adalah saat aku duduk berdekatan dengannya. Tak jarang aku harus menata agar degup jantungku tidak menimbulkan ketegangan di wajahku.


Kami meninggalkan bioskop setelah Film selesai diputar dan saat ku lihat beberapa orang yang menghinaku saat menemui dokter Teddy di acara seminar waktu itu ada di depanku. Aku tak mau mereka membuatku malu untuk kedua kalinya apa lagi di depan teman- temanku. Aku memang sempat menceritakan tentang hinaan mereka pada mbak Lidia, tapi ku rasa cukup sekali saja mereka menghinaku dan tak akan aku biarkan itu terjadi lagi. Sebelum mereka membahas masalah tempo hari saat aku datang ke seminar dan dokter Teddy mengacuhkan ku, aku segera membawa teman- temanku pergi dari sana, bisa malu tujuh turunan kalau sampai semua tau aku menemui dokter Teddy tanpa sepengetahuan mereka.


Ku pesan taksi online dan kami kembali ke Rumah sakit bersama- sama. Jarak rumah sakit dari bioskop memang tidak terlalu jauh. Jadi, kami memilih kembali, karena kami butuh kendaraan kami. Di dalam taksi Alex terdengar menjawab sebuah telepon. Dari apa yang mereka bahas, Aku yakin itu dari dokter Teddy. Benar- benar keterlaluan, bagaimana bisa dia masih menyimpan nomor Alex? Sedangkan nomorku saja di blokir.


"Telepon dari siapa Lex?" Tanyaku memastikan.


"Dokter Teddy." Jawab Alex.


"Nanya kita dimana, aku bilang mau pulang."


"ih Debby, tadi aja nggak mau lama- lama sama dokter Teddy. Sekarang kepo." Sela Sinta yang duduk di sampingku.


"Sinta apa- apaan sih!" Kataku menyenggol kakinya.

__ADS_1


"Kalian udah ketemu sebelumnya?" Tanya suster Desi.


Aku dan Mbak Lidia saling bertatapan.


"Belum mbak, cuma di toilet aja nggak sengaja ketemu tadi pas nganter Sinta" jawabku.


"Aku dengar dokter Teddy jadi Nara sumber seminar internasional di sini, dan menuai banyak pujian Lo." Kata mbak Desi. Batinku berkata "Pujian baginya hinaan bagiku!"


"Emang tu dokter Udah ganteng, pinter, sayang jodoh orang." Celetuk mbak Desi tiba-tiba.


"Maksudnya dokter Teddy sudah punya tunangan?" Tanyaku tanpa sadar.


"Ya nggak tau, emang jodoh orang kan? Masak jodoh aku? Aku kan udah beranak satu." Jawab Mbak Desi seraya terkiki menatapku, aku mendengus, ku kira dia benar- benar tau tentang dokter Teddy tapi ternyata dia hanya bercanda.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2