Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
menjelaskan


__ADS_3

Aku bukan Rahim Cadangan


part 160


Aku mengajak Debby untuk keluar dan Debby berkata akan menyusul, karena dia masih harus mencuci mukanya agar tidak terlihat sembab dan memakai hijab dulu.


Aku keluar dari kamar, dan ku lihat Laur sudah duduk disofa taamu dan sedang berbincang akrab dengan Dokter Firman, sepertinya mereka sedang membahas masalah kedokteran.


Segera ku hampiri dan kusapa, "Laura..." Kataku canggung,


"Teddy..." Dia berdiri hendak memelukku. Aku menolak "Maaf Linda jangan biasakan memeluk laki- laki yang bukan suamimu." Terangku.


"Teddy, kamu takut? Kita kan dulu biasa melakukannya?"


"Astaghfirullah" batinku mengingat betapa bodohnya aku dulu, betapa mudahnya aku melakukan itu sedangkan itu salah dalam ajaran.


"Itu dulu Laura, sebelum saya sadar kalau semua itu salah."


"Salah gimana? Ayo lah Teddy itu cuma sekedar sapaan saja kenapa jadi berlebihan gitu?"


"Ehm... Karena Teddy nya sudah datang, kalau begitu saya permisi dulu. Ted saya tinggal ya." Pamit dokter Firman pergi ke kamarnya.

__ADS_1


"Duduklah" Seruku, dia ingin mendekatiku "disitu saja" tolakku, diapun menghentikan langkahnya untuk duduk bersamaku, dan memilih duduk di depanku. "Darimana kamu tau tempat tinggalku?"


"Tadi aku tanya teman kamu yang jadi panitia di pameran." Jawabnya.


"Apa tujuanmu kemari?"


"Aku ingin membahas rencana kita beberapa tahun yang lalu."


"Rencana yang mana Laura?" Tanyaku yang tak merasa aku mempunyai sebuah rencana dengannya.


"Menjalin hubungan yang lebih serius. Aku sudah memutuskan untuk pindah ke London. Dan kita akan bersama-sama menjalinkan hubungan yang lebih serius."


"Aku sudah mau kembali ke tanah air Laura."


"Hubungan apa Laura? Kita tidak ada komitmen apapun."


"Teddy, kita hanya menunda komitmen itu sampai kita benar- benar mapan dan dipertimbangkan di dunia medis London. Dan sekarang kita sudah mencapai di titik itu."


"Apa maksudmu? Jelas- jelas semua sudah selesai, bahkan tidak ada perbincangan lagi setelah saya pindah ke London." Jelasku.


"Karena itu lah Ted, aku kesini untuk menyelesaikan perbincangan kita."

__ADS_1


"Cukup Laura, Aku sudah menikah!" Tegasku, apa yang dikatakan Laura menurutku sudah melewati batasannya.


"A_pa? Kamu bercanda Teddy? Bagaimana mungkin kamu sudah menikah? Jelas- jelas kamu tau aku menunggumu." Ucapnya seraya memegang tanganku.


Aku bergeming, Karena tak pernah sekalipun aku menyuruhnya untuk menungguku, ku lepaskan tangannya dari tanganku, "Maaf Laura, Aku mencintai istriku. Lupakan dan carilah orang lain yang lebih baik dariku."


"Bagaimana jika tidak ada yang lebih baik darimu?" Ujarnya mulai meneteskan airmatanya.


"Laura, jangan seperti ini, kamu sahabatku, jangan menungguku, hatiku sudah miliknya." Jawabku di tengah isakannya.


"Aku bersedia meninggalkan pekerjaanku dan merintis karirku mulai dari nol lagi di London. Tapi kamu begitu teganya melakukan ini padaku."


"Laura, kita sudah sepakat untuk tidak berkomitmen, kenapa kamu malah menungguku?"


Laura menoleh ke belakangku, "Dia? Disini juga?" Tanyanya terbata.


Akhirnya Aku pun menyadari kedatangan Debby, yang entah sejak kapan dia berdiri disana.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2