
Aku Bukan rahim Cadangan
Part 47
"Dokter, ngapain disini. Mending duduk manis disana gih." Kata Debby cengar- cengir, dari gelagatnya sepertinya ada yang disembunyikan.
"Kenapa? Kamu mau negosiasi harga?" Tanyaku mencoba menebak.
"Pacarnya ya Mas? Jadi mas ini dokter? Wah udah tampan, dokter pula. Sungguh beruntung mbaknya." Tanya kasir seraya mengembalikan kartu kreditku.
"Bukan, Adek saya!" Jawabku.
"Ayo Deb pulang." Ajakku, kupegang tangan Debby.
"Tunggu, saya belum bayar."
"Telat, buruan udah malem. Saya udah ngantuk Deb!" Kataku, ku tarik tangan Debby yang masih menoleh pada kasir.
"Udah dibayar kok mbak..." Teriak kasir itu pada Debby.
Taksi yang sebelumnya sudah ku pesan saat ini telah siap terparkir di depan butik. Aku segera membawa Debby masuk. Bukkk.... ku tutup pintu mobil kasar setelah Debby masuk.
"Ke Apartemen Pak!" Perintahku setelah masuk.
"Kenapa dokter yang bayar? saya jadi ngutang lagi!" Gerutu Debby di dalam mobil.
"Saya bukan bank, saya nggak ngasih hutang. Saya cuma nggak mau waktu istirahat saya tersita gara- gara harus nunggu kamu nego sama pihak butik." Jelasku pada Debby. Aku tak ingin menyinggung harga dirinya.
"Kalau nggak patah sepatunya juga saya nggak bakalan nego dok!"
__ADS_1
POV AUTHOR
Setelah pergi meninggalkan Debby dan Teddy di butik, Pak Umar, sopir Bu Widia segera menemui Bu Widia di tempat yang sudah Bu Widia beritahukan. Tepatnya di sebuah taman dekat Acara ulang tahun profesor Adijaya diadakan.
Sebelumnya Bu Widia pamit ke toilet pada suaminya agar tidak curiga.
Tak berselang lama Bu Widia menunggu, Pak Umar pun datang dan turun dari dalam mobil menemui Bu Widia yang sudah menunggunya.
"Malem Nya." Sapa Pak Umar.
"Malem pak. Gimana Pak? Bapak sudah lakukan apa yang saya perintahkan?"
"Sudah Bu."
"Lalu, informasi apa yang sudah bapak peroleh?" Tanya Bu Widia beranjak dari tempat duduknya. Kekhawatiran Bu Widia terhadap hubungan Teddy dan Debby yang sudah bersuami, membuatnya terpaksa melakukan hal ini. Bu Widia tak mau jika Teddy salah langkah.
"Mas Teddy sama mbak Debby sepertinya belum ada ikatan apa- apa Nya." Jelas Pak Umar.
"M_aaf Nya, maksud saya Tuan muda. Tadi tuan muda maunya dipanggil Mas."
"Tetep aja anak itu nggak berubah" Gumam Bu Widia menghembuskan napas kasarnya.
"Lalu, bagaimana dengan gadis itu?"
"Kalau saya lihat, mbak Debby orangnya baik dan lugu Nya. Dan dari percakapan mereka di dalam mobil tadi bisa dipastikan bahwa Mbak Debby sudah bercerai dengan suaminya Nya. Dan sepertinya Mas, maksud saya Tuan muda sangat perhatian, bahkan mau mengajak Mbak Debby bersama ke USA. Tapi sepertinya mbak Debby nggak menganggapnya."
"Cerai? Saya harap bukan Teddy yang menjadi penyebab perceraian Debby dengan suaminya." Gumam Bu Widia.
"Saya juga dengar kalau suami mbak Debby minta rujuk, tapi mbak Debby menolak. Suami mbak Debby juga sepertinya bukan orang sembarangan." Sambung Pak Umar.
__ADS_1
"O ya?"
"Iya Nya."
"Ya udah Pak, Makasih, bapak bisa kembali." Perintah Bu Widia yang segera dituruti oleh pak Umar.
"Sepertinya saya harus ketemu dan bertanya sama Teeey sendiri! Anak itu semakin dibiarkan semakin penuh misteri!" Gumam Bu Widia.
POV Debby
Kubuka dompetku jika ganti rugi sepatu satu juta tiga ratus, dan biaya sewa baju 700 ribu, maka harus ada uang 2 juta di dompetku. Mustahil, uang bonus dari dokter Firman hanya kisaran satu juta itupun sudah kupakai beberapa. Gajian juga masih beberapa hari. Ku lirik dokter Teddy yang tengah asik dengan gawainya.
"Dok, kira- kira uang 2juta kalau dibayar nggak pake uang setara sama apa?" Tanyaku
"Maksud kamu?"
"Nih, lihat dompet saya, nggak ada uang segitu." Kataku sembari menunjukkan dompetku yang hanya ada tujuh sembilan lembar uang seratus ribuan pada Dokter Teddy.
"Yakin, mau bayar pake apapun?" Tanyanya memasukkan ponsel kedalam sakunya dan beralih melihat ke arahku.
"Yakin, hutang saya sudah terlalu banyak sama Dokter." Jawabku, dari tempat tidur gratis, makanan yang dibuat dokter Teddy sendiri untukku, bahkan Snack dan ice cream. Begitu seringnya aku merepotkan dokter Teddy selama aku meninggalkan rumah Mas Doni malam itu membuatku merasa sangat berhutang padanya.
Terlihat dokter Teddy menghela napas panjang.
"Nanti saya pikirkan kalau sudah sampai apartemen." Jawabnya.
Kami sampai di apartemen tepat pukul 11 malam. Dokter Teddy membantuku berjalan dengan memapahku sampai ke kamar.
"Saya ambil salep dulu " Katanya lalu pergi keluar kamar.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π